Semua Berita & Artikel
Kumpulan informasi, berita terkini, dan artikel kesehatan Bapelkes Cikarang
ARTIKEL
Memilih Seafood Yang Ramah Lingkungan
Seafood Guide; memilih seafood yang ramah lingkungan inilah yang coba ditawarkan WWF Indonesia kepada konsumen seafood melalui “Seafood Guide“. Seafood Guide adalah panduan dalam memilih seafood yang berisi daftar spesies laut yang populasinya masih aman, semakin terbatas, dan sudah terancam. “Seafood Guide” sebagai panduan memilih seafood yang ramah lingkungan diharapkan menjadi referensi publik dalam menentukan pola konsumsinya. Sehingga konsumen dapat memilih seafood yang aman dan ketersediaannya terjamin dalam jangka panjang. Seafood Guide akan dicetak oleh WWF dalam jumlah banyak dan disebar ke seluruhIndonesia. Namun, bagi yang kesulitan mendapatkan versi cetaknya, dapat langsung men-download dari situs: http://www.wwf.or.id/seafoodguide atau di SEAFOOD GUIDE SEAFOOD RAMAH LINGKUNGAN(pdf, 4 MB). Seafood Guide; Panduan Memilih Seafood Ramah Lingkungan Dalam “Seafood Guide” ini terdapat berbagai jenis makanan laut dengan klasifikasinya masing-masing. Indikasinya mudah, jika satu jenis seafood diberi simbol ikan berwarna hijau, maka seafood tersebut aman untuk dikonsumsi. Namun bila seafood diberi simbol ikan berwarna merah, berarti sobat tidak usah mengkonsumsinya, karena jenisnya sudah langka di perairan Indonesia. Namun ada beberapa jenis seafood yang diberi tanda lebih dari satu contohnya ikan salem (Rainbow runner). Ikan salem diberi tanda ikan hijau namun juga diberi simbol lingkaran merah dengan huruf “PS”. Simbol ini berarti salem sebenarnya aman untuk dikonsumsi kecuali salem hasil tangkapan menggunakan pukat cincin atau Purse Seine (PS). Contoh Seafood yang Jangan Dikonsumsi. Beberapa jenis seafood yang disarankan untuk tidak dikonsumsi berdasarkan “Seafood Guide” keluaran WWF Indonesia ini antara lain: Bawal Hitam atau Black Pomfret Bawal Putih atau Silver Pomfret Hiu atau Shark Duyungatau Dugong (Dilindungi UU RI) Kakap Putih atau Barramundi Ketam Kelapa atau Coconut Crab Kima Raksasa atau Giant Clam Kuda Laut atau Sea Horse Sembilang atau Eeltailed Catfish Telur Ikan atau Fish Egg Tuna Sirip Biru atau Bluefin Tuna Sedangkan seafood yang aman untuk dikonsumsi antara lain; barakuda, belanak, cakalang, cumi, kembung, rajungan, tenggiri, tongkol, dll. Untuk daftar lengkap silakan download pada link yang telah saya cantumkan di atas (paragraf ketiga). Kalau kebingungan cara men-download di 4shared, baca: PANDUAN DONWLOAD DI 4SHARED. Mudah-mudahan panduan memilih seafood ramah lingkungan yang dikeluarkan oleh WWF Indonesia ini dapat membuat kita lebih bijak dalam memilih seafood. Sumber : alamendah.wordpress.com; Tanggal 15 januari 2013 Pukul 15.05 WIB. http://alamendah.wordpress.com/2011/06/20/seafood-guide-memilih-seafood-ramah-lingkungan/ Referensi dan gambar: http://www.wwf.or.id/tentang_wwf/upaya_kami/marine/howwework/campaign/sustainable_seafood Seafood Guide (Fersi cetak; April 2011)
ARTIKEL
Capung Sebagai Indikator Air Bersih & Lingkungan Sehat
Capung sebenarnya sudah ada sejak jaman dinosaurus hidup. Tidak seperti dinosaurus yang punah, capung masih tetap bertahan hidup sampai sekarang. Ia mempunyai daya adaptasi yang baik sehingga bisa hidup dimana saja kecuali di kutub. Serangga purba ini termasuk dalam keluarga Odonata dan mempunyai dua jenis yang paling sering kita temui yaitu capung besar (dragonfly) dan capung jarum (damselfly). Capung jarum bentuknya memang seperti jarum, jauh lebih kecil daripada capung besar dan biasanya hanya terdapat di dekat aliran air. Perlu lebih cermat dan teliti untuk melihat capung jarum yang lebih suka berteduh di balik daun. Perbedaan lain yang menyolok adalah bentuk mata dan posisi sayap. Mata capung besar seperti mata lalat menyatu di tengah sedangkan capung jarum mempunyai mata yang terpisah dan berada di sisi-sisi samping kepalanya. Capung jarum selalu hinggap dengan sayap tegak menyatu di atas punggung, lain dengan capung besar yang membentangkan sayapnya ke samping saat hinggap. Persamaannya adalah sebagai keluarga Odonata keduanya selalu memukau baik dari warnanya yang indah dan beragam maupun karena capung adalah serangga dengan rekor terbang tercepat . Capung mampu terbang dengan gerakan sayap yang dinamis dan dengan kecepatan rata-rata 30 – 60 km/jam namun ada jenis yang mampu terbang hingga 90km/jam. Igor Sikorsky, penemu helikopter, belajar dari pergerakan sayap capung tersebut sehingga ia dapat menciptakan model helikopter. Manusia dari berbagai bangsa mengenal capung dengan pandangan dan kepercayaan yang berbeda-beda. Kalau anak-anak sekarang bertanya kepada orangtuanya soal capung, para orangtua kemudian mengenang capung sebagai teman bermain mereka pada waktu kecil. Biasanya capung ditangkap hanya untuk dilihat dari dekat kemudian dilepas lagi atau ditangkap untuk pakan ayam. Selain itu, masyarakat mempunyai kepercayaan capung dapat menghilangkan kebiasaan anak kecil mengompol dengan menaruhnya di pusar anak. Begitulah sebagian besar masyarakat Indonesia sudah terbiasa dengan capung, bahkan berbagai daerah di Indonesia mempunyai sebutan masing-masing untuk capung. Orang Jawa Timur menyebutnya dengan gantrung/kutrik, wilayah Jawa Tengah mengenalnya dengan kinjeng. Orang Sunda menyebutnya papatong sedangkan di daerah Flores capung dikenal dengan nama tojo. Di Jepang, capung dipandang sebagai lambang keberanian sehingga orang Jepang menamai anak laki-lakinya ‘Tombo’ yang artinya capung. Sedangkan di Swedia capung dipercaya datang untuk memeriksa jiwa-jiwa buruk, menimbang jiwa dan mendatangi anak-anak serta orang dewasa yang berbohong dengan mengutuk, memarahi, dan menjahit mata, mulut, dan telinga mereka masing-masing. Pada zaman dahulu orang-orang Indian Navajo menggambar lambang capung sebagai tanda air yang bersih. Kita beruntung hidup di Indonesia karena Indonesia termasuk daerah tropis dimana capung selalu ada sepanjang tahun. Capung menjadi sahabat petani karena capung adalah predator alami hama yang mengganggu tanaman padi. Capung saat menjadi larva juga memangsa jentik-jentik nyamuk sehingga dapat mengurangi populasi nyamuk. Peran capung sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat. Ia dijadikan sebagai indikator air bersih dan lingkungan yang sehat. Kehidupan capung memang tidak dapat dipisahkan dari air. Sebelum menjadi capung dewasa, capung hidup sebagai serangga air selama beberapa bulan hingga tahun dan hanya dapat bertahan hidup di dalam air yang bersih dan tidak tercemar. Bersyukur kalau masih bisa bertemu banyak capung karena itu bisa dijadikan pertanda bahwa perairan di sekitar kita masih bersih. Mungkin yang kita temui sekarang adalah sebaliknya. Lingkungan sekitar kita yang penuh dengan pencemaran dan polusi telah merusak habitat capung. Populasi capung banyak berkurang begitu pula jenisnya. Tidak hanya di Indonesia, berbagai negara di seluruh dunia juga merasakannya. Hingga ada yang mencatat beberapa species dari keluarga Odonata terancam punah. Siklus hidup capung memang membuat serangga ini tak bisa lepas dari air. Capung dewasa menaruh telurnya di air. Telur itu kemudian menetas menjadi nimfa yang tetap tinggal dalam air. Baru ketika dewasa, capung keluar dari air. Meski capung dewasa dapat terbang, ia tetap berada dekat dengan daerah perairan. Ini supaya ia bisa kembali bertelur. Selain itu, capung juga menjadi sumber makan bagi hewan-hewan perairan lain seperti burung, ikan, katak, atau kumbang air. Namun, capung tak hidup di sembarang perairan. Capung harus hidup di air bersih. Karena itu, bila di suatu sumber air tidak lagi ditemukan capung, masyarakat sekitar harus berhati-hati. Itu tandanya sumber air itu sudah tercemar dan ekosistemnya terganggu. Sumber : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=13908543 Tanggal : 10 Desember 2012.
ARTIKEL
Bekasi Butuh Folder Air, Bukan Situ
Tidak berfungsinya 18 situ di Kota Bekasi membuat pemerintah daerah setempat melirik cara penampungan air lain. Yaitu, folder air atau semacam tandon lebar yang dibangun persis di samping aliran Kali Bekasi. Kepala Bidang Tata Air Dinas Binamarga dan Tata Air Yurizal, mengatakan folder air itu fungsinya mengurai konsentrasi air dalam aliran sungai. Folder tersebut dilengkapi pintu sistim buka-tutup, untuk mengatur jumlah debit air yang dialihkan ke dalamnya. "Folder air lebih dibutuhkan, untuk cadangan air, juga untuk mencegah luapan air sungai ke pemukiman warga," kata Yurizal, kepada Tempo, Kamis (2/4). Saat ini, Pemerintah Kota Bekasi sedang mensurvei lokasi pembangunan folder air yang strategis. Satu lokasi yang dinilai cocok adalah bantaran Kali Bekasi, di Kecamatan Rawa Lumbu, dengan luas area yang bisa dimanfaatkan sekitar 10-15 hektar. Tetapi, kata Yurizal, pembangunan folder belum bisa dilakukan karena nilai pembebasan lahan antara pemerintah dengan warga belum ketemu. Harga satu hektar tanah yang diminta warga Rp 1 juta per meter. "Terlalu mahal, kemungkinan tahun depan baru kami anggarkan," katanya. Sementara, 18 situ di Kota Bekasi tidak lagi berfungsi dengan baik. Bahkan, 12 situ di antaranya potensial beralih fungsi menjadi perumahan, ladang, dan tempat pembuangan sampah. Situ beralih fungsi itu statusnya, sembilan milik perorangang, dua milik yayasan, dan satu milik pengembang yang kini dalam rencana pembangunan kawasan perumahan. Adapun situ milik negara hanya enam, itupun baru satu situ yang menjadi lahan konservasi air. Yaitu, Situ Rawa Pulo seluas enam hektar di Kelurahan Jatikarya, Kecamatan Jatisampurna. Sumber : TEMPO Interaktif Bekasi http://www.tempo.co/read/news/2009/04/02/082167901/Bekasi-Butuh-Folder-Air-Bukan-Situ Tanggal : 20 Maret 2013, Pukul 11.45 2013.
ARTIKEL
11 Fungsi Hutan Kota
Polusi udara di Kota Kita ketahui bersama bahwa polusi akan sangat mengganggu kehidupan manusia. Polusi umumnya disebabkan dua hal yaitu polusi akibat kondisi alam dan polusi dari dampak perkembangan ilmu pengetahuan & pemanfaatan teknologi manusia. Pada hal pertama biasanya terjadi diwilayah pantai dan pegunungan vulkanik aktif. Sedangkan hal yang kedua umumnya terjadi diwilayah perkotaan yang penuh dengan industri dan mobilitas kendaraan. Pencemaran / polusi diwilayah perkotaan umumnya didominasi oleh polusi udara, sehingga dampak yang dominan adalah dampak pencemaran udara. Dampak pencemaran udara Adapun dampak pencemaran udara tersebut menimbulkan permasalahan antara lain : Pencemaran udara yang berbentuk partikel dan gas. Pencemaran berbentuk partikel umumnya terdiri dari unsur debu, aerosol dan timah hitam (timbel). Sedangkan partikel gas umumnya terdiri dari unsur CO (karbon-monoksida), NO, SOx, H2S dan HC. Pada tingkat dan tertentu, partikel & gas ini dapat mengganggu kesehatan baik dari macam jenis, ukuran dan komposisi kimianya. Umumnya yang rentan terganggu kesehatan adalah pada organ tubuh seperti paru-paru dan pembuluh darah, atau pada tingkat ringan terjadi berupa iritasi pada mata dan kulit. Partikel debu dari polusi udara biasanya akan menyebabkan penyakit berupa gangguan pernapasan kronis. Bronchitis kronos, emfiesma paru, asma bronchilia dan yang lebih berat adalah dapat menyebabkan kanker paru. Partikel gas dari polusi udara dapat menyebabkan gangguan pada sistem peredaran darah. Hal ini akibat gas polutan tersebut dapat langsung masuk kedalam paru-paru dan melemahkan kondisi tubuh sehingga rentan akan serangan berbagai penyakit. Partikel timbal (Pb) dari polusi udara, pada kadar tertentu dapat menyebabkan gangguan terhadap fungsi enzim pada khususnya disfungsi pembentukan sel darah merah. Pada stadium lanjut dapat merusak fungsi organ tubuh seperti ginjal, selain itu juga dapat menyebabkan anemia. Hal ini dapat dikatakan sebagai gejala keracunan. Partikel gas CO akan timbul sebagai akibat terbentuknya COHb (karboksihemoglobin) dalam darah. Kadar CO yang lebih tinggi dibandingkan dengan O2 terhadap Hb dapat mengganggu fungsi hemoglobin dalam menyebarkan oksigen keseluruh tubuh. Maka dapat dipastikan oksigen dalam tubuh akan berkurang dan menyebabkan sulit bernafas. Bila tahapan ini berlanjut dan tidak segera memperoleh oksigen segar, maka dapat menyebabkan kematian atau sering disebut “mati lemas” (tidak dapat bernafas0. Partikel lain seperti H2S, SOx dan NOx dapat menyebabkan iritasi dan radang pada saluran pernapasan. Untuk dapat menekan / mengurangi dampak polutan sebagaimana tersebut diatas, maka perlunya penghijauan. Pengembangan taman dan hutan kota sangat diperlukan guna meningkatkan kadar oksigen diudara yang dapat menetralkan kadar polutan diudara. Taman Kota - Hutan Kota Program pertamanan dan hutan kota memiliki kontribusi dalam menanggulangi polusi udara kota. Taman dan hutan kota berperan dalam mengatasi polusi udara dengan baik. Sebelas Fungsi hutan kota: 1) Menahan dan menyaring partikel padat diudara. Partikel debu yang melingkupi kehidupan masyarakat perkotaan dapat disebabkan oleh proses alamiah. Namun lebih besar akibat dari kegiatan manusia sendiri. Umumnya penyebab polusi udara di perkotaan akibat dari emisi gas buang kendaraan bermotor dan asap partikel dari cerobong asap pabrik. Dengan adanya hutan kota, maka partikel-partikel debu yang beterbangan diudara akan terjerap atau menempel pada dedaunan pohon yang tumbuh disekitarnya. Terlebih lagi apabila banyak jenis pepohonan yang memiliki tekstur permukaan daunnya lebih kasar atau berbulu. Contoh : Pohon kersen (dalam bahasa lokal jawa disebut Talok ) dan adapula yang menyebutnya pohon buah cherry lokal ) 2) Menyerap partikel timbal (Pb) Unsur timbal yang mencemari udara didominasi oleh kendaraan bermotor. khususnya akibat pembakaran yang tidak sempurna atau disebabkan memang jenis bahan bakar yang mengandung unsur timbal. Menurut Krishnayya & Bedi (1986); “Diperkirakan unsur timbal diudara akibat gas buang kendaraan bermotor yang mencemari udara mencapai 60-70%. Kendaraan bermotor merupakan sumber utama timbal yang mencemari udara di perkotaan (Goldmisth & Hexter). Pohon Keben (Barrington asiatica) Menurut Dahlan (1989) dan Fukuara, dkk (1990), mengenai beberapa jenis tanaman/ pohon yang memiliki dalam menekan / mengurangi kandungan timbal diudara sebagai berikut : Jenis pohon dengankemampuan daya serap cukup tinggiterhadap kandungan timbal diudara antara lain : Pohon damar (Agathis alba), Pohon Mahoni (Swietenia macrophylla), Pohon Jamuju (Podocarpusimbricratus), Pohon Pala (Mirystica fragrans), Pohon Asam Landi (Pithecelobiumdulce), Pohon Johar (Casia siamea). Sedangkan jenis tanaman dengan kemampuandaya serap rendah terhadap kandungan timbal diudara tetapi tidak pekaterhadap pencemar udara, antara lain : Glodogan (Polyalthea longifolia), Keben (Barringtonia asiatica) dan Tanjung (Mimusops elengi). Dan jenis pohon dengan kemampuan daya serap sangat rendahterhadap kandungan timbal diudara tetapitidak tahan terhadap sumber pencemar (kendaraan bermotor) antara lain : Tanaman Daun Kupu-kupu (Bhautinia purpurea) dan tanaman Kesumba (Bixa orellana). 3) Meredam kebisingan Menurut Grey dan Deneke (1978), bahwa pohon dapat meredam suara dengan cara mengabsorpsi gelombang suara oleh daun, cabang dan rantingnya. Dan daya serap kebisingan oleh daun tersebut dapat mencapai 95%. Adapun jenis tanaman yang efektif dalam meredam kebisingan suara adalah jenis tanaman/pohon yang memiliki daun tebal dan rindang. 4) Mengurangi bahaya hujan asam Menurut Smith (1985), pohon dapat membantu dalam mengatasi dampak negatif hujan asam melalui proses fisiologis tanaman yang disebut proses gutasi. Proses gutasi akan memberikan beberapa unsur kimia antara lain : Kalsium (Ca), Natrium (Na), Mangaan (Mg), Kalium (K). Dan menurut Smith (1981) pula, bahwa proses gutasi tersebut juga memberikan bahan organik seperti Glumatin dan Gula. Menurut Henderson dkk (1977) bahwa bahan organik yang diturunkan ke lantai hutan dari tajuk melalui proses troughfall dengan urutan K > Ca > Mg > Na, baik untuk tegakan daun lebar maupun untuk daun jarum. Hujan yang mengandung Asam Sulfat (H2SO4) dan Asam Nitrat (HNO3) apabila tiba dipermukaan daun akan mengalami reaksi. Pada saat permukaan daun mulai dibasahi, maka asam seperti asam Sulfat (H2SO4) akan bereaksi dengan Kalsium yang teredapat pada daun dan membentuk garam Kalsium Sulfat (CaSO4) yang bersifat netral. Maka dengan pH air yang lebih besar dari pada pH air hujan tersebut. Ini berarti bahwa adanya proses intersepsi dan gutasi melalui kenaikan pH sehingga air hujan tidak begitu berbahaya bagi lingkungan. Hasil penelitian Hoffman dkk (1980) menunjukkan bahwa pH air hujan yang telah melewati tajuk pohon lebih tinggi, jika dibandingkan dengan pH air hujan yang tidak melewati tajuk pohon. 5) Menyerap karbonmonoksida (CO) Kacang merah (Phaseolus vulgaris) dapat menyerap gas CO sebesar 12-120 kg/km2/hari; Mikro organisme dalam tanah pada lantai hutan berperan sebagai penyerap yang baik. Smith (1981) mengatakan bahwa tanah dengan mikroorganisme nyadapat menyerap gas CO dari udara yang semula 120 ppm menjadi hampir Nol hanya dalam waktu 3 jam; 6) Menyerap karbondioksida (CO2) & menghasilkan oksigen (O2) Di laut kita mengenal pythoplankton, ganggang, rumput laut sebagai penyerap karbon dioksida. Sedangkan didarat peran dan fungsi penyerap karbon dioksida tersebut berada pada hutan dan perkebunan serta taman pepohonan. Bagaimana tanaman atau pepohonan melakukan penyerapan karbondioksida (CO2) dan menghasilkan oksigen (O2)? Tanaman atau pepohonan melakukan proses fotosintesis yaitu dengan memanfaatkan panas cahaya matahari guna mengubah gas CO2 dan air menjadi karbohidrat dan oksigen. Tentunya hal ini bermanfaat bagi kehidupan manusia dan binatang. Widyastama (1991) menyatakan bahwa tanaman yang baik dalam menyerap CO2 dan menghasilkan O2 antara lain : pohon damar (Agathis alba), daun kupu-kupu (bauhinia purpurea), lamtoro-gung (leucaena leucocephala), akasia (acacia auriculiformis) serta pohon beringin (ficus benyamina). 7) Menahan angin Pohon dan tanaman juga memiliki peran penting dalam fungsinya menahan angin kencang atau angin badai. Spesifikasi jenis tanaman atau pohon yang umum digunakan sebagai taman hutan yang mampu menahan terpaan angin kencang adalah : Tanaman / pohon yang memiliki dahan yang kuat atau tidak mudah patah; Jenis daunnya tidak mudah gugur bila diterpa angin dengan kecepatan sedang (kecepatan +60km/jam); Memiliki jenis akar tunjang yaitu akar yang menghujam kedalam tanah sehingga kuat berdiri tegak; Memiliki kerapata yang cukup yaitu antara 50% s.d. 60%; Hutan atau taman hutan memiliki tinggi dan lebar jalur hutan kota yang cukup besar sehingga dapat melindungi dengan baik wilayah yang diinginkan. (Grey dan Deneke, 1978). Angin kencang yang menerpa kota dapat ditekan / dikurangi hingga 75%-80% oleh suatu penahan angin yang berupa hutan kota(Panilov dalam “Robinette, 1983). 8) Menyerap dan menangkis bau Menurut Grey dan Deneke (1978), bahwa tanaman dapat menyerap bau secara langsung, atau tanaman akan menahan gerakan angin yang bergerak dari sumber bau. Untuk beberapa jenis tanaman atau pohon tertentu dapat mengeluarkan bau harum. Jika jenis tanaman tersebut ditanam didekat sumber bau, maka tanaman tersebut akan menetralisir bau dan mengganti dengan bau yang harum. Jenis tanaman tersebut antara lain: Cempaka (Michelia champaca) dan Tanjung (Mimusops elengi). Tidak heran jika pemakaman di Indonesia dan sebagian besar negeri di Asia Tenggara biasa ditanami jenis tanaman berbau harum serta jenis tanaman bunga yang harum. Dan ada pula yang menempatkan tempat pembuangan sampah akhir di lingkungan pepohonan atau kebun pohon rindang. 9) Menyimpan air tanah Humus adalah komponen penting hutan yang bersifat higroskopis dengan kemampuan penyerapan air tanah yang besar. Penyerapan air yang tinggi akan menghasilkan tingginya kadar air tanah dihutan pun tinggi pula. Humus adalah bagian sistem akar tanaman yang telah berubah bentuk dan menyebabkan pori-pori tanah meningkat. Untuk daerah yang dihulu daratan, umumnya ditumbuhi jenis tanaman yang memiliki daya evapotranspirasi yang rendah dengan sistem akar yang mampu memperbesar porositas tanah. Dengan jenis tanaman ini maka air hujan akan dapat langsung masuk 10) Menangkis cahaya menyilaukan. Untuk menahan dan meyerap intensitas sinar matahari yang langsung maupun tidak lagsung, bisa dilakukan dengan memperbanyak tanaman dan pepohonan di sekitar lingkungan, areal taman, di tepian badan jalan dan sebagainya. 11) Menjadi habitat satwa khususnya burung Satwa khususnya spesies aneka burung, akan hadir dengan sendirinya apabila ada beberapa spesies tanaman dan pepohonan yang menjadi kesukaan dan habitat burung tersebut. Tanaman atau pepohonan ini bisa saja yang berumur panjang, memiliki bunga yang bagus atau bahkan memiliki buah yang bisa dimanfaatkan dan dimakan baik oleh satwa maupun oleh manusia. Sumber : http://lazuardiranger.wordpress.com/2012/01/28/11-fungsi-hutan-kota/ Tanggal ; 20 Maret 2013 Pukul 11.30
ARTIKEL
8 Tanaman Air Penyerap Pencemaran
Tanaman air kerap dipakai untuk mempercantik taman yang memiliki kolam pancuran, kolam air tenang, kolam rendam menyerupai rawa-rawa, atau air terjun dinding. Disamping itu tanaman air juga bisa menyerap pencemaran air. Apa saja tanamannya yang cocok? Berikut adalah 8 jenis tanaman air yang paling banyak digunakan untuk menyerap pencemaran dan mempercantik tampilan taman: Enceng gondok (Eichornia crassipes) Enceng gondok termasuk tanaman air mengapung. Bayang daunnya menggembung, hijau berbentuk bulat dengan diamter 5 - 15 sentimeter. Tumbuhnya tegak ke atas dengan bentuk bunga mirip dengan anggrek. Tumbuhan ini tumbuh secara berkelompok pada tangkai bunga setinggi 20-35 sentimeter. Enceng gondok tumbuh sangat cepat dan sering memenuhi permukaan air. Tanaman ini dikategorikan gulma karena mengganggu ketersediaan oksigen air. Namun demikian Enceng gondok mampu menyerap pencemaran zat organik limbah rumah tangga. Untuk menempatkan enceng gondok, Anda harus rajin menyaringnya bila sudah terlalu banyak memenuhi air. Water lily (Nymphaea lotus) Jenis ini termasuk deep water aquatic plants. Akarnya tertanam pada lumpur kolam. Daun dan bunganya muncul dengan indah di permukaan air dengan warnanya yang putih, kuning, ungu, dan merah jambu. Bentuk daunnya bulat berlapis lilin pada permukaannya. Water lily mampu menyerap endapan endapan senyawa yang mengandung logam berat menjadi zat organik dalam tanaman. Sehingga sangat bagus untuk untuk proses penjernihan air. Apu-apu (Pistia stratiotes, Pistia crispata) Tanaman ini hidup mengapung di permukaan air dengan daunnya berwarna hijau tersusun secara melingkar dan bertumpuk-tumpuk. Permukaan daun ditumbuhi bulu-bulu halus yang memberi tekstur seperti beludru. Akar serabutnya berwarna putih, dapat menggantung sampai 30 sentimeter di bawah permukaan air. Tanaman ini sama sekali tak butuh perawatan, cukup diletakkan di permukaan air, maka tanaman ini akan memproduksi anakan. Star Grass (Dichromena colorata) Sekilas penampilannya seperti rumput biasa. Daun dan batang bunganya sempit dan memanjang. Bunganya berbentuk unik dengan warna putih kecoklatan, sementara kelopak bunganya panjang berwarna putih dengan ujung berwarna hijau. Penampilan keseluruhan bunga dan kelopaknya berbentuk seperti bintang yang dapat memberi cahaya tambahan pada kolam atau taman air. Calla lily (Zantedeschia aethiopica) Tanaman ini seolah terbuat dari lilin, berbentuk corong berwarna putih dengan putik kuning cerah. Bunga ini juga memiliki keharuman nan lembut. Tanaman ini cendernung tumbuh lebih tinggi bila kurang mendapat cahaya matahari. Pisang air (Typhonodorum lindyeyanum) Seperti namanya, penampilan tanaman ini seperti pohon pisang namun berpadu dengan daun talas. Pisang air memiliki sosok yang kokoh dengan mencapai ketinggian 4 meter. Daunnya berbentuk oval dengan panjang sampai dengan 1,5 meter. Tepiannya berdaun gelombang, tersusun melingkar membentuk tajuk simeteris. Seledri air (Oenanthe javanica) Bentuk daunnya oval dengan tepian bergerigi, mirip dengan daun seledri. Panjang daunnya 2-5 sentimeter, menebarkan aroma mirip aroma wortel. Warna yang mendominasi dari daunnya adalah hijau muda dengan sentuhan merah jambu dan putih. Papyrus payung (Cyperus alternifolius, Cperus involucratus) Tumbuh berkelompok, batang tanaman ini berbentuk segitiga dengan ketinggian 0,9-1,8 meter. Ujung batangnya tumbuh kurang lebih 24 helai kelopak bunga menyerupai daun dan tersusun seperti jari-jari roda. Setiap helai kelopaknya memiliki panjang 15-30 sentimeter dan lebar 1-1,5 sentimeter. Sumber : Kompas, tanggal 20 Maret pukul 12.00 2013. http://properti.kompas.com/read/2011/11/25/17561765/8.Tanaman.Air.
ARTIKEL
Kejahatan Lingkungan Sebagai Teror Yang Berkelanjutan
Pembangunan telah berkembang dengan pesatnya baik di kota maupun perdesaan, ada yang berjalan dengan baik dalam artian telah memenuhi peraturan dan standart yang ditentukan oleh wilayah setempat. Namun faktanya tidaklah demikian, banyak penyimpangan terjadi dan hal ini sebenarnya sudah berlangsung lama. Pengrusakan lingkungan terjadi dimana-mana dan berlangsung terus. Pengrusakan lingkungan tidak lain merupakan dampak langsung dari kejahatan lingkungan. Di dalam UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup disebutkan secara jelas tindak pidana kejahatan lingkungan hidup mulai dari Pasal 90 sampai Pasal 120. Secara garis besar yang dimaksud dengan unsur tindak pidana kejahatan lingkungan hidup adalah setiap orang atau badan hukum, melakukan perbuatan, yang merusak lingkungan. Namun, penyelesaian kasus kejahatan lingkungan tidak semudah penyelesaian kasus kejahatan biasa, dan bahkan berlalu begitu saja. Padahal, dampak yang ditimbulkan menyebabkan kerusakan yang berkepanjangan dan membuat teror pada kemanusiaan. Contoh kasus-kasus kejahatan lingkungan yang terjadi di Tanah Air sangatlah banyak. Kita ambil saja tiga kasus pengrusakan lingkungan. Pertama, semburan lumpur panas PT Lapindo Brantas. Semburan panas bermula tahun 2006. Hingga saat ini semburan masih kerap keluar di tempat yang berbeda. Dampak langsung terhadap semburan ini adalah rusaknya Daerah Aliran Sungai Kali Brantas; lumpur merubah bentang alam, jalan tol tidak berfungsi selama beberapa waktu; tergenanginnya desa-desa di Kecamatan/Kelurahan Porong, Jabon, Tanggulangin dan sekitarnya. Selain itu, lebih dari 8.200 jiwa warga harus dievakuasi yang saat ini menjadi pengungsi; rusaknya lahan perkebunan dan pertanian milik masyarakat, antara lain, lahan perkebunan tebu seluas 25,61 ha di Renokenongo, Jatirejo dan Kedungcangkring; lahan pertanian padi seluas 172,39 ha di Siring, Renokenongo, Jatirejo, Kedungbendo, Besuki Jabon dan Pejarakan Jabon; terhentinya aktivitas pabrik-pabrik, tidak dapat berfungsi lagi, dikarenakan tergenang lumpur dan terpaksa menghentikan aktivitas produksi dan merumahkan ribuan tenaga kerja, serta hilangnya pekerjaan bagi ribuan orang tenaga kerja. Terakhir, ancaman ekonomi, sosial dan ancaman terhadap semburan gas disekitarnya terhadap warga di wilayah semburan. Kedua, PT Kelian Equotor Mining (KEM) di Kalimantan Timur. Ini perusahaan tambang besar yang berkantor pusat di London. PT KEM menggunakan lebih dari enam juta meter kubik air bersih dari Sungai Kelian untuk operasi tambang mereka. Hanya empat juta meter kubik yang didaur ulang dalam tambang tersebut. Limbah air yang mengandung ion logam tingkat tinggi seperti mangan, sianida dan berlumpur dibuang begitu saja ke dalam Sungai Kelian. Dampak yang ditimbulkan berupa perubahan bentangan alam, dan ratusan danau buatan. Implikasinya, puluhan kampung-kampung di wilayah pertambangan kehilangan akses atas tanah adat mereka; merasakan dampak langsung berupa banjir. Bukan hanya masyarakat di sekitar tapi komunitas di bagian hulu. Sedangkan risiko, berhubungan dengan limbah racun, yang setiap saat menjadi ancaman bagi flora dan fauna di sekitarnya, termasuk manusia di sekitarnya dan ancaman banjir. Ketiga, Aurora Gold di Kalimantan, Newmont di Sulawesi Utara, dan Freeport di Papua. Perusahaan-perusahaan tersebut telah terbukti membuat limbah tailing ke dalam lingkungan di darat maupun ke laut dan telah menimbulkan risiko, dan berdampak negatif terhadap komunitas yang tinggal di kawasan itu, termasuk flora dan fauna. Selain dilakoni dalam skala besar oleh perusahaan raksasa, kejahatan lingkungan juga dilakukan oleh sebagian masyarakat dalam skala kecil karena desakan ekonomi. Penambangan liar, pembakaran hutan untuk pertanian, pembuangan limbah rumah tangga dan sampah ke badan sungai, dan yang lain, menjadi sesuatu yang biasa di negeri ini. Kejahatan yang terjadi pada kasus sumber daya alam dan lingkungan hidup adalah suatu kejahatan yang tidak berhenti ketika pelaku berhasil dijebloskan ke dalam penjara atau memberikan ganti rugi. Kasus-kasus lingkungan hidup memiliki efek akumulatif berupa konsekuensi risiko yang luas dan baru dirasakan dalam jangka panjang dalam skala yang lamban dan pasti. Karena rumitnya pembuktian pelaku tindak kejahatan lingkungan, maka kasus-kasus kerusakan lingkungan hidup harus diposisikan dalam kategori extraordinary crime dengan mengacu pada undang-undang khusus tentang lingkungan hidup di mana undang-undang tersebut mencantumkan secara tegas apa yang dimaksudkan dengan kejahatan lingkungan hidup. Ini menunjukkan penangangan kejahatan lingkungan berupa penegakan hukum pidana masih sangat minim dari yang diharapkan. Beberapa faktor penyebab kejahatan lingkungan hidup antara lain sarana hukum pidana yang belum diterapkan secara maksimal, belum ada kesamaan persepsi para penegak hukum lainnya, rendahnya kesadaran hukum pengusaha, tidak netralnya lembaga peradilan, dan adanya ketidaksempurnaan perumusan tindak pidana, sanksi pidana, dalam undang-undang sektoral yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Sesuai Pasal 95 ayat 1 UU No. 32 Tahun 2009, disebutkan dalam rangka penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana lingkungan hidup dapat dilakukan penegakan hukum terpadu antara penyidik pegawai negeri sipil, kepolisian, dan kejaksaan di bawah koordinasi menteri. Untuk itu perlu koordinasi yang terpadu antara Kementerian Lingkungan Hidup, Polri dan Kejaksaan Agung, sehingga penanganan kejahatan lingkungan lebih optimal. Sedikitnya ada enam teror yang terus terjadi pada masyarakat akibat kejahatan lingkungan yang terus terjadi dan berulang-ulang dan tidak ada penyelesaiannya, kabut asap, banjir, kekeringan, gagal panen, hama penyakit, dan pencemaran tanah, air dan udara. Hingga kini, kejahatan lingkungan masih terus berlangsung. Kita tinggal menunggu saja tayangan di media massa, teror-teror lingkungan yang terjadi pada tahun ini dan tahun selanjutnya. Banyaknya bencana yang ditimbulkan seolah-olah dianggap angin lalu. Pelaku kerusakan lingkungan tidak menyadari dampak kerusakan lingkungan lebih kejam dari pelaku teroris bom, karena “teroris lingkungan” mengakibatkan dampak yang luas. Surjono Hadi Sutjahjo Sumber Metro Kolom Minggu, 7 Agustus 2011 11:59 WIB
ARTIKEL
Persiapan Bapelkes dalam menyongsong Universal Coverage
Universal Coverage adalah program jaminan kesehatan untuk seluruh penduduk yang akan diberlakukan mulai 1 Januari 2014. Program ini berawal dari terbitnya UU Nomor 24 Tahun 2011 tentang BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) dimana hanya ada 2 (dua) BPJS yaitu BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. BPJS Kesehatan merupakan transformasi dari PT Askes (Persero) dan akan menyelenggarakan program jaminan kesehatan untuk seluruh penduduk (universal coverage) dan akan mulai berlaku pada tahun 2014. BPJS Ketenagakerjaan akan ditransformasi dari PT Jamsostek (Persero), akan melaksanakan program jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, jaminan hari tua dan jaminan pensiun. BPJS Ketenagakerjaan ini mulai berlaku pada Juli 2015. Rencana dan langkah-langkah Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) dan Balai Pelatihan Kesehatan Nasional (Bapelkesnas) dalam rangka persiapan universal coverage, menjadi salah satu topik diskusi yang dibahas dalam Rapat Koordinasi Pelaksanaan Operasional Program (Rakorpop) di lingkungan Badan PPSDM Kesehatan yang diselenggarakan di Hotel Traveller Sentani, Papua tanggal 20 – 22 Februari yang lalu. Bapelkes Cikarang sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkungan Badan PPSDM Kesehatan diharapkan turut serta melakukan persiapan untuk menyongsong diberlakukannya universal coverage di Indonesia. SDM yang terlatih merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan dari universal coverage, disamping pembiayaan program serta pemahaman masyarakat. Oleh karena itu peran Bapelkes dikaitkan dengan tugasnya yakni melaksanakan pendidikan dan pelatihan serta pengembangan sumber daya manusia kesehatan dan masyarakat. Ada 3 (tiga) jenis pelatihan yang utama dan perlu dilaksanakan dalam rangka universal coverage, yaitu : 1) Pratugas tenaga kesehatan, 2) Manajemen pengelolaan keuangan pelayanan kesehatan; dan 3) Pelatihan teknis dan fungsional yang dibutuhkan. Hasil diskusi dengan Pusdiklat Aparatur, BBPK (Jakarta, Ciloto dan Makasar) dan Bapelkesnas (Cikarang, Semarang, dan Batam) diperoleh kesepakatan untuk melakukan langkah-langkah sebagai berikut : Pengumpulan Dokumen oleh Pusdiklat Aparatur Penyusunan Kurikulum dan Modul oleh Pusdiklat Aparatur, BBPK dan Bapelkesnas Uji Coba Kurikulum dan Modul oleh Pusdiklat Aparatur, BBPK dan Baplekesnas Penyempurnaan Kurikulum dan Modul (melalui workshop) oleh Pusdiklat Aparatur, BBPK dan Bapelkesnas Workshop Kebijakan tentang PJKI (tingkat Pusat, Provinsi dan Kabupaten) oleh Pusdiklat Aparatur, BBPK dan Bapelkesnas Pelatihan TOT (Pratugas, Manajemen Keuangan Pelayanan Kesehatan, Teknis/ Fungsional) oleh Pusdiklat Aparatur Pelatihan di Provinsi untuk peserta Kabupaten/Kota oleh BBPK dan Bapelkesnas Pelatihan di Kabupaten untuk peserta dari Puskesmas oleh BBPK dan Bapelkesnas Evaluasi Pasca Pelatihan oleh BBPK dan Bapelkesnas Usaha untuk mewujudkan program universal coverage pasti tidak mudah. Tapi sebagai bagian dari masyarakat, Bapelkes Cikarang akan berusaha untuk memberikan yang terbaik sesuai tugas pokok dan fungsinya guna mendukung pelaksanaan program tersebut. Oleh karena itu selain koordinasi dan sinkronisasi kegiatan yang ada, perlu dilakukan sosialisasi dan edukasi agar tenaga kesehatan yang terlibat didalamnya akan menjadi pemangku kepentingan yang bertanggung jawab (responsible stakeholders).
ARTIKEL
Inovasi Terbaru, Tinja Manusia Diubah Menjadi Produk Yang Bisa Dijual.
Sistem pengolahan tinja yang kita kenal selama ini sangat terbatas sekali, banyak orang mengenal sistem pengolahan tinja dimana produknya belum bisa dimanfaatkan secara optimal. Nah baru-baru ini seorang peneliti Amerika Serikat (AS) mengembangkan suatu toilet yang bisa mengubah limbah dan tinja manusia menjadi produk yang bisa dijual. Toilet ini dirancang dan dikembangkan oleh sebuah tim dari University of Colorado Boulder yang disebut sebagai Sol-Char Sanitation. Di dalam kajian dan temuan sistem toilet ini memanfaatkan energi matahari untuk mengubah kotoran dan tinja manusia diubah menjadi produk yang berguna dan bisa dijual. Hasil dari olahan tinja ini berbentuk padat dan bisa digunakan untuk bahan bakar maupun pupuk, yang bisa dimanfaatkan kembali untuk kebermanfaatan kehidupan manusia sehari-hari. Didalam proyeknya Tim pengembangan toilet ini mendapat dana dari Bill and Melinda Gates Foundation. Mereka menyebut proyek ini sebagai "Reinvent the Toilet Challenge" "Kami mencoba untuk mengatasi masalah pengelolaan tinja," ucap karl LInden, peneliti utama Sol-Char Sanitation seperti dilansir dari CNBC, Selasa (22/9). Menurutnya, toilet seperti ini bisa digunakan untuk mengolah limbah suatu wilayah. Setiap kotoran yang masuk akan diolah sehingga masyarakat bisa terhindar dari penyakit. "Ini langkah besar untuk perlindungan kesehatan masyarakat di banyak daerah." Linden yang juga seorang profesor teknik di University of Colorado ini mengatakan praktik sedot tinja atau pengosongan toilet sebenarnya tidak sehat. Sanitasi seperti itu tidak sehat bagi kesehatan manusia. Bank Dunia mencatat, rata-rata biaya sanitasi suatu negara mencapai 1,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). India misalnya, negara ini menghabiskan USD 54 miliar setahun untuk mengolah tinja masyarakat. Selanjutnya, Bank Dunia juga menemukan 2,4 miliar orang diseluruh dunia ini belum punya akses sanitasi dasar. Prototipe toilet yang dirancang Linden dan tim menggunakan piring parabola untuk memanfaatkan sinar matahari. Kemudian cahaya ini dibentuk menjadi titik fokus kecil yang digambarkan sebagai Sol-Char. Kabel serat optik kemudian mentransmisikan cahaya ke ruang reaksi, di mana materi tinja berubah menjadi produk yang bisa digunakan. Urin setelah melalui proses juga dapat digunakan sebagai pupuk. "Dari 4 atau 6 orang mungkin fesesnya tidak banyak yang keluar. Tapi Anda kumpulkan dari waktu ke waktu Anda bisa menciptakan nilai," katanya. Linden mengatakan, untuk membuat proyek ini, pihaknya menghabiskan dana sekitar USD 12.000. Untuk kalangan praktisi Kesling dan sanitasi di Indonesia, semoga dengan adanya inovasi terbaru ini, bisa membuka jalan pemikiran kita bersama dalam menyelesaikan permasalahan sanitasi dan khususnya masalah Toilet ataupun jamban keluarga yang masih menjadi tantangan besar di negara kita ini, sekian semoga bermanfaat bagi kita semua. Salam Sanitasi dan Kesling Indonesia. ( www.michosan.simplesite.com) Sumber : http://www.merdeka.com/uang/canggih-toilet-ini-ubah-tinja-manusia-jadi-produk-bisa-dijual.html Tanggal : 28 September 2015; Jam 13.10 WIB