Semua Berita & Artikel
Kumpulan informasi, berita terkini, dan artikel kesehatan Bapelkes Cikarang
ARTIKEL
Memfasilitasi Pelatihan Partisipatif
Prinisp-Prinsip Dasar Memfasilitasi Pada umumnya kita sudah berpengalaman terlibat bersama dan bekerjasama dengan orang lain di dalam semacam kelompok atau organisasi yang mempunyai sesuatu tujuan tertentu, seperti misalkan "Kelompok 20" di Jakarta, "Kelompok 17" di Makassar atau organisasi lain seperti Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI), Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) dan lain sebagainya. Sebagai anggota organisasi atau kelompok, anda mungkin sudah pernah diminta dan dipilih untuk mengisi semacam fungsi kepemimpinan, apakah itu dalam memimpin suatu pertemuan, mengkoordinir sebuah seminar atau lokakarya, berfungsi sebagai nara sumber, atau terpilih menjadi "pejabat" dalam masyarakat. Masing-masing dari setiap fungsi kepemimpinan berbeda-beda dalam formalitas peranan dan dalam tingkat kewenangan yang dipikulkan pada peranan itu. Selengkapnya klik disini
ARTIKEL
Peran Pendamping dan KBIH pada Jamaah Haji Lanjut Usia Untuk Mewujudkan Isthitha’ah Kesehatan
Latar Belakang Ibadah haji merupakan ritual keagamaan yang sepenuhnya mengandalkan kesiapan fisik, ketahanan, stamina yang prima. Sementara di sisi lain mayoritas jemaah ibadah haji kita akan terdiri dari para lansia, pada 2016, jemaah haji yang berusia di bawah umur 50 tahun hanya ada 38,7 persen. Itu artinya, mayoritas sudah lanjut usia. Bahkan, 27 % di antaranya berusia di atas 61 tahun. Belum lagi jemaah dengan risiko tinggi yang berjumlah 66,7 %. Ditambah lagi kondisi cuaca Arab Saudi sangat berbeda dengan Indonesia sehingga kesemua hal tersebut mudah menimbulkan persoalan di lapangan. KBIH merupakan lembaga sosial keagamaan yang telah mendapat izin operasional dari pemerintah untuk untuk melaksanakan bimbingan kepada jemaah haji sebelum keberangkatan ke Arab Saudi, selama perjalanan dan selama di Arab saudi. Selama persiapan keberangkatan menuju tanah suci, jamaah yang tergabung dalam KBIH melakukan pertemuan- pertemuan dalam rangka pembimbingan dan pembinaan ibadah dan silahturahmi antar jamaah. Istitha’ah dalam pengertian kebahasaan berasal dari akar kata tâ’a, yaitu tau’an, berarti taat patuh dan tunduk. Istithâ’ah berarti keadaan seseorang untuk melakukan sesuatu yang diperintahkan syara’ sesuai dengan kondisinya. Semakin besar kemampuan seseorang semakin besar tuntutan untuk mengerjakan suatu perbuatan. Allah Swt berfirman : Dan diantara kewajiban manusia terhadap Allah Swt adalah mengerjakan haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu. (QS. Ali Imran : 97) Sedangkan yang dimaksud Isthitha’ah adalah mampu melaksanakan ibadah haji ditinjau dari : a. Jasmani 1) Tidak sulit melakukan ibadah haji/umrah. 2) Tidak lumpuh. 3) Tidak dalam keadaan sakit yang diperkirakan lama untuk sembuh. b. Rohani 1) Memahami manasik haji/umrah. 2) Berakal sehat (tidak mengidap penyakit gangguan jiwa) dan memiliki kesiapan mental untuk ibadah haji/umrah dengan perjalanan yang jauh. c. Ekonomi 1) Mampu membayar biaya perjalanan ibadah haji (BPIH). 2) Memiliki biaya hidup untuk keluarga yang ditinggalkannya. 3) Bagi para petugas haji Isthitha’ah ekonominya adalah : a) Memenuhi persyaratan dan aman waktu melaksanakan ibadah haji/umrah. b) Aman bagi keluarga dan harta benda yang ditinggalkannya selama melakukan ibadah haji/umrah. d. Keamanan 1) Aman dalam perjalanan dan aman waktu melaksanakan ibadah haji/umrah. 2) Aman bagi keluarga dan harta benda yang ditinggalkannya selama melakukan ibadah haji/umrah. Kementerian kesehatan mengeluarkan Permenkes no 15 tahun 2016 tentang Isthitha’ah Kesehatan untuk jamaah haji, adapun amanat yang terkandung dari permenkes tersebut adalah : Pengaturan Isthithaah kesehatan jamaah haji bertujuan untuk terselenggaranya pemeriksaan dan pembinaan kesehatan jamaah haji agar terselenggaranya Ibadah Haji sesuai dengan ketentuan ajaran Islam Pemeriksaan Calon jamaah haji sebagai dasar pembinaan kesehatan jamaah haji yang meliputi pemeriksaan tahap pertama sampai dengan tahap ketiga Setelah dilakukan pemeriksaan tahap pertama akan ditentukan status kesehatan calon jamaah haji menjadi Resiko tinggi atau tidak resiko tinggi Pada pemeriksaan tahap kedua ditentukanlah menjadi Empat kriteria sebagai berikut : Memenuhi syarat Isthithaah kesehatan haji Memenuhi syarat Isthithaah kesehatan haji dengan pendampingan Tidak memenuhi syarat Isthithaah kesehatan haji untuk sementara Tidak memenuhi syarat Isthithaah kesehatan haji Selanjutnya akan dilakukan pembinaan kesehatan jamaah haji di masa tunggunya sampai keberangkatan Peran pendamping dan KBIH pada masa tunggu Dalam masa tunggu ini calon jamaah haji dapat melakukan persiapan kesehatannya seoptimal mungkin sebelum keberangkatan ke Arab Saudi. Kegiatannya di bidang kesehatan antara lain adalah mengikuti pembinaan yang dilakukan oleh Puskesmas setempat meliputi kegiatan penyuluhan tentang kesehatan, cuaca arab saudi, hygiene sanitasi, konseling penyakit yang sudah diderita, latihan kebugaran, pemanfaatan Posbindu, pemanfaatan media masa, penyebarluasan informasi, kunjungan rumah dan manasik kesehatan. Disini perlu diperhatikan peran pendamping yang sangat penting, pendamping harus terpapar dengan kegiatan yang diikuti calon jamaah yang akan didampinginya, terutama apabila calon jamaah yang didampinginya sudah menderita penyakit, setidaknya mengetahui kondisi kesehatan, obat-obatan rutin yang harus di minum dan hal apa saja yang perlu disiapkan menuju Arab Saudi. Peran KBIH juga tidak kalah pentingnya, selain pembinaan kegiatan ibadah manasik haji, KBIH juga harus menyampaikan persiapan kesehatan bagi calon jamaah haji masa tunggu, terutama jamaah haji yang memiliki katagori Memenuhi syarat Isthithaah kesehatan haji dengan pendampingan dan Tidak memenuhi syarat Isthithaah kesehatan haji untuk sementara, inilah jamaah haji yang perlu diberikan perhatian khusus untuk menyiapkan kondisi kesehatan optimal untuk ibadah haji , adapun hal yang bisa disampaikan oleh KBIH kepada calon jamaah haji adalah sebagai berikut : Kesehatan tidak kalah penting dibandingkan dengan manasik ibadah haji Persiapan obat-obatan untuk pribadi selama 40 hari masa perhajian Saling perhatian dan perduli antara calon jamaah haji yang satu dengan yang lainnya terutama bila menderita sakit, kesulitan makan, konsumsi cairan, penggunaan pelindung dari sengatan matahari, penggunaan masker, jamaah dengan kursi roda, kelelahan dan lupa jalan pulang menuju pondokan/ hotel Jamaah usia lanjut dan penyakit tertentu harus memiliki pendamping Peran pendamping adalah membantu jamaah yang didampinginya dalam hal knsumsi makanan sehat, keteraturan minum obat, proses ibadah selama musim perhajian, perhatian dan kasih sayang Bagi salon jamaah yang membutuhkan kursi roda, bawalah kursi roda dengan kualitas terbaik dari Indonesia Peran pendamping dan KBIH pada masa ibadah haji Persoalan yang banyak terjadi pada saat pelaksanaan ibadah haji pada jamaah usia lanjut dan jamaah dengan penyakit yang sudah dibawa dari Indonesia adalah : Obat-obatan rutin tidak dibawa atau ada tetapi jumlahnya tidak mencukupi untuk persedian selama 40 hari di Arab saudi Kesulitan makan dikarenakan rasa yang berbeda dengan makanan di Indonesia Kelelahan Tidak teratur minum obat dikarenakan kesibukannya dalam beribadah Gangguan adaptasi lingkungan baru Heat stroke Melihat persoalan tersebut maka peran pendamping dan KBIH sangat harus di giatkan lagi mengingat menciptkan kondisi kesehatan jamaah seoptimal penting adalah sangat perlu dan berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pendamping dan KBIH kepada jamaah lanjut usia dan jamaah dengan penyakit tertentu : Selalu ingatkan waktu untuk istirahat diantara waktu untuk beribadah untuk menjaga kesehatannya. Sealalu ingatkan waktu minum obat, perlu di cek obat-obatan yang harus di minum setiap harinya terutama jamaah haji dengan riwayat penyakit jantung, Hipertensi, Diabetes mellitus, Asma dan Gangguan jiwa. Jika perlu awasi pada saat meminum obatnya Ajaklah untuk mengunjungi dokter kloternya untuk konsultasi dan pemantauan kesehatannya jika perlu mintalah di rujuk untuk bertemu dengan dokter spesialis Dampingi selalu jamaah usia lanjut apabila keluar untuk beribadah, pastikan membawa minum dan makan yang cukup Dampingi jamaah usia anjut dengan gangguan adaptasi lingkungan baru, mereka membutuhkan perhatian dan kebaikan untuk dapat menyesuaikan perubahan lingkungan yang baru Selalu berikan motivasi kepada jamaah yang sakit, yang tidak bisa secara sempurna melaksanakan rangkaian ibadah selama di Arab Saudi Demikianlah sebagian peran yang bisa di ambil oleh para pendamping dan KBIH untuk menjaga kesehatan calon jamaah haji sehingga menciptakan jemaah haji yang sehat untuk menjadi haji yang mabrur.
ARTIKEL
Dampak Fogging Terhadap Kesehatan Masyarakat di Indonesia
PENULIS : Asmawati, Nurhidayati, Surya Nella, Leidy Angelia Kanter. (Peserta Pelatihan Jabfung PKM Ahli) ABSTRAK Angka Kejadian Penyakit Demam Berdarah Dengue cendrung meningkat setiap tahun hal tersebut merupakan dampak lingkungan yang buruk. Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegypti. Tanda dan gejala awal DBD yaitu demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah. Pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan 3 M plus adalah metode paling efektif untuk memutus mata rantai perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti. Salah satu upaya yang dilakukan untuk penanggulangan penyakit DBD adalah Kegiatan Fogging, apabila ditemukan kasus di daerah tersebut. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang dampak fogging terhadap kesehatan mengakibatkan tingginya permintaan fogging oleh masyarakat, padahal fogging dapat menimbulkan dampak buruk terhadap kesehatan. Kata Kunci : Demam Berdarah Dengue (DBD), Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), dampak fogging terhadap kesehatan. Sampai saat ini, Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit yang meresahkan masyarakat. DBD di Indonesia dari tahun ke tahun kasusnya masih tinggi dan selalu memakan korban jiwa. Kementerian Kesehatan mencatat bahwa jumlah penderita DBD di Indonesia pada bulan Januari sampai Februari 2016 sebanyak 13.219 orang dengan jumlah kematian 137 orang, proporsi penderita terbanyak yang mengalami DBD di Indonesia ada pada golongan anak-anak usia 5 - 14 tahun (42,72%) dan kedua pada rentang usia 15 - 44 tahun (34,49%) Jatuhnya korban DBD sebenarnya dapat dihindari apabila masyarakat mengetahui tentang deteksi dini penyakit DBD sehingga penderita dapat ditangani dengan cepat dan tepat. Penyakit demam berdarah di Indonesia pertama kali ditemukan di Surabaya pada tahun 1958 sebanyak 58 orang terinfeksi dan 24 orang diantaranya meninggal dunia. Mulai saat itu penyakit inipun menyebar luas kepenjuru Indonesia. Kejadian luar biasa (KLB) terjadi pada tahun 1998 dimana Departemen Kesehatan RI mencatat sebanyak 2.133 korban terjangkit penyakit ini dengan jumlah korban meninggal 1.414 jiwa. Peningkatan kasus penyakit demam berdarah (DBD) merupakan dampak lingkungan yang buruk terutama saat antara musim hujan dan panas. Berjangkitnya DBD disebabkan oleh kurangnya kesadaran masyarakat menjaga kebersihan lingkungan. Banyak selokan tersumbat dan tumpukan barang bekas yang menjadi sarang nyamuk. Masyarakat yang menampung air di luar rumah secara terbuka juga menjadi salah satu tempat perkembangan jentik nyamuk. Fogging masih menjadi andalan masyarakat dalam penanganan DBD, padahal yang terpenting dilakukan adalah memelihara kebersihan lingkungan. Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegypti. Pada umumnya, gejala awal DBD hampir sama dengan penyakit demam lainnya, antara lain yaitu demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah. Karena hampir sama dengan penyakit lain, maka masyarakat sering kesulitan mengenali gejala awal DBD. Gejala khas DBD seperti perdarahan pada kulit atau tanda perdarahan lainnya kadang terjadi hanya di akhir periode penyakit. Apa bila penyakit ini terlambat didiagnosis, maka dapat berakibat fatal pada penderita. Seorang penderita DBD akan menderita demam tinggi, dalam keadaan ini penderita banyak kekurangan cairan oleh karena penguapan yang lebih banyak dari biasa. Cairan tubuh makin berkurang kalau penderita muntah dan tidak mau minum maka pertolongan pertama yang diberikan adalah minum sebanyak-banyaknya kurang lebih 2 liter (delapan gelas satu hari). Pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan untuk menegakkan diagnosa. Mencegah lebih baik daripada mengobati artinya kita perlu selalu waspada dengan keberadaan nyamuk penyebab demam berdarah. Nyamuk Aedes Agypti senang sekali tumbuh dan berkembang di genangan air yang bersih, seperti penampungan air, bak mandi, pot bunga, dan gelas. Mungkin tempat – tempat tersebut pernah dikira sebagai lingkungan yang dipilih hewan ini. Oleh karena itu populasi nyamuk ini meningkat di musim hujan. (Satari, 2009) Demam Berdarah Dengue dapat dicegah dengan cara menjaga kebersihan lingkungan di sekitar kita, lakukan upaya pemberantasan sarang nyamuk secara rutin dengan 3M Plus yaitu : Membersihkan/menguras tempat penyimpanan air minimal seminggu sekali, Menutup rapat tempat-tempat penampungan air, Mengubur atau mendaur ulang barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan Plus menghindari gigitan nyamuk dengan cara antara lain : memakai obat anti nyamuk, memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancer/rusak, mengganti air vas bunga dan minuman burung seminggu sekali, membuang air pada tampungan air di dispenser, memberikan obat bubuk pembunuh jentik (larvasida) sesuai aturan, di tempat-tempat yang sulit dikuras atau daerah yang sulit air, memelihara ikan pemakan jentik nyamuk : ikan cupang, ikan kepala timah, memasang kawat kasa, dan menanam tanaman anti nyamuk misalnya : Lavender, Zodia, Sereh dll serta tidak menggantung pakaian di dalam maupun di luar kamar. Pemberantasan nyamuk aedes aegypti sebagai vektor penular DBD dapat dilakukan dengan cara : Fogging atau pengasapan untuk membunuh nyamuk dewasa; Abatesasi yaitu penaburan abate dengan dosis 10 gram untuk 100 liter air pada tampungan air yang ditemukan jentik nyamuk; Ada dua Jenis fogging yang dilakukan yaitu : fogging masal yang dilakukan sebelum dan sesudah musim hujan di lokasi rawan DBD dan fogging fokus yang dilakukan dimusim hujan khusus ditempat kasus DBD yang ditemukan. Dalam program pemberantasan DBD, racun serangga yang digunakan untuk foging adalah golongan organophosporester insektisida seperti malation, sumithion, fenithrothion, perselin dan lain lain. Yang paling banyak dan sering digunakan adalah malation. Masyarakat yang terserang nyamuk aedes aegypti sering meminta bantuan berupa tindakan fogging atau penyemprotan nyamuk. Namun fogging bukanlah satu-satunya jalan yang harus ditempuh, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan 3 M plus adalah yang paling efektif untuk memutus mata rantai perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti. Fogging hanya mematikan nyamuk dewasa, dan banyak dampak merugikan yang diakibatkan fogging antara lain : terdapat polutan (zat pencemaran) yang dihasilkan oleh mesin fogging akibat insektisida yang disemprotkan dan pembakaran yang tidak sempurna, bahan yang digunakan terdiri dari pestisida dan solar, pestisida adalah racun yang dapat mengganggu kesehatan manusia karena dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui kulit, pernafasan dan mulut melalui tangan, makanan, peralatan makan/minum yang tercemar pestisida yang mengakibatkan antara lain gagal ginjal, gangguan pada bayi baru lahir, kerusakan gen dan kromosan pada bayi dalam kandungan dan penurunan sistem kekebalan tubuh. Bahaya jangka panjang dari fogging adalah gangguan pada sistem syaraf, perut dan sistem kekebalan dan keseimbangan hormon. Solar adalah bahan bakar yang bersifat racun yang dapat mengakibatkan radang paru-paru. Fogging memerlukan biaya yang cukup besar dan tenaga terlatih (tidak efesien). Sedangkan daya bunuhnya hanya 1 – 2 hari, setelah itu nyamuk akan menjadi banyak lagi dan mudah menularkan virus DBD. Pelaksanaan fogging memberikan kepuasan semu pada warga, sehingga warga merasa aman dan tidak melakukan PSN (pemberantasan sarang nyamuk), akibatnya nyamuk menjadi resisten. Tidak jarang lokasi yang baru saja dilakukan fogging terdapat penderita DBD. Pestisida merupakan bahan pencemar yang berbahaya bagi lingkungan (tanah, air dan udara). Menjadi residu pada makanan, sayur dan buah (akumulasi residu), resistensi hama (termasuk nyamuk). Pemanasan global, karena Solar yang mengandung NOx jika terkena air hujan di udara terurai menjadi senyawa-senyawa lain yang menyebabkan hujan asam dan selanjutnya menyebabkan efek rumah kaca. Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, sedangkan jentik-jentik nyamuk tetap bisa hidup dan berkembang menjadi dewasa oleh karena itu cara pencegahan yang terbaik adalah melalui PSN dengan 3M Plus. Referensi : Depkes RI, Pedoman Pengamatan dan penanggulangan Kejadian Luar Biasa di Indonesia, Dirjen P2M dan PL, Jakarta, 2005 Depkes RI, Wilayah KLB DBD ada di 11 Kabupaten/Kota, 2016. www.depkes. go.id Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis, Dampak Fogging sangat buruk bagi Kesehatan, 2014, Bengkaliskab.go.id
Seminar Lokakarya Kesehatan Lingkungan di Bapelkes Cikarang
Hari Rabu, 30 November 2016 Seminar Lokakarya Kesehatan Lingkungan di Bapelkes Cikarang dibuka secara resmi oleh Inspektorat Jenderal Kementrian Kesehatan Bapak Drs.Puwadi, Apt.,MM,ME. Kegiatan Seminar Lokakarya Kesehatan Lingkungan diselenggarakan selama 2 (dua) hari dari tanggal 30 November sampai dengan 1 Desember 2016. Pada pembukaan Seminar Lokakarya tersebut juga sekaligus ditetapkan secara resmi peluncuran buku Oase (Our Action to Save the Earth) oleh kepala Bapelkes Cikarang Asep Zaenal Mustofa, SKM, M.Epid. Buku ini merupakan karya dari Tim LRC (Learning Resource Center) Bapelkes Cikarang. Latar Belakang pelaksanaan Seminar Lokakarya Kesehatan Lingkungan di Bapelkes Cikarang Memasuki Tahun 2016, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau yang dikenal dengan istilah dalam bahasa inggris ASEAN Economic Community (AEC) mulai diberlakukan di Indonesia. MEA atau AEC adalah bentuk kerjasama antar anggota negara-negara ASEAN yang terdiri dari Brunei, Filipina, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Melalui MEA yang diawali Tahun 2016 terjadi pemberlakuan perdagangan bebas di kawasan ASEAN. Sebuah integrasi ekonomi ASEAN dalam menghadapi perdagangan bebas antar negara-negara ASEAN. MEA dirancang untuk mewujudkan kawasan ASEAN 2020. Beberapa persyaratan umum harus dimiliki sebuah negara supaya produk barang dan jasa bisa bersaing antara negara ASEAN yakni negara-negara ASEAN haruslah mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang trampil, cerdas, dan kompetitif. Pada era MEA saat ini para pekerja di tuntut untuk profesional di bidangnya, jika para pekerja profesional tidak bersiap dengan baik mereka akan kalah bersaing dengan tenaga kerja dari negara serumpun yang masuk dalam MEA. Selain dari itu dengan disahkannya Peraturan Pemerintah No. 66 Tahun 2014 tentang kesehatan lingkungan menjadi landasan hukum bagi tenaga kesehatan lingkungan untuk berkarya dan turut serta dalam pembangunan khususnya bidang kesehatan. Tuntutan profesionalisme dari setiap profesi, terutama tenaga kesehatan lingkungan menjadi isu utama yang mengemuka. Untuk menuju tenaga kesehatan lingkungan yang berkompeten maka peran dari organisasi profesi dan civitas akademik yang menyelenggarakan pendidikan tinggi kesehatan lingkungan sangat penting. Yakni untuk menghasilkan lulusan yang memenuhi kompetensi yang dapat bersaing dengan tenaga serupa dari Negara lain khususnya anggota MEA. Begitu pula lulusan pendidikan tinggi kesehatan lingkungan yang sudah tersebar dan berprofesi sebagai sanitarian/kesehatan lingkungan. Diperlukan identifikasi pemetaan tentang gambaran eksisting tenaga kesehatan yang dimiliki, dan bagaimana menjadikan tantangan tersebut menjadi peluang untuk selanjutnya dikembangkan menjadi list kompetensi yang akan dikembangkan menjadi kurikulum dan modul pelatihan agar tenaga kesehatan lingkungan dapat mengikuti arus global dalam hal ini menghadapi MEA yang telah bergulir dan mengimplementasikan PP No 66 Tahun 2014. Terkait dengan itu, Bapelkes Cikarang sebagai institusi diklat nasional dengan rujukan kesehatan lingkungan mempunyai posisi strategis untuk menjadi salah satu lokomotif dalam pengarusutamaan isu tersebut diatas. Penyelenggaraan seminar-lokakarya nasional kesehatan lingkungan pada Tahun 2016 menjadi salah satu langkah strategis yang dilakukan oleh Bapelkes Cikarang untuk ikut berkontribusi. Inti utama yang menjadi tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mempertemukan semua pihak yang berkepentingan mulai dari organisasi profesi, penyelenggara pendidikan tinggi, birokrasi, praktisi dan para sanitarian untuk merumuskan langkah-langkah strategis dalam bentuk perumusan kompetensi manajerial, teknis, dan sosiokultural. Tema Tema dari kegiatan lokakarya kesehatan lingkungan ini adalah: “KESEHATAN LINGKUNGAN: KENYATAAN, PELUANG DAN TANTANGAN” Tujuan Tujuan Umum Tujuan umum dari kegiatan lokakarya ini adalah untuk mengidentifikasi peluang dan menjawab tantangan dengan mengimplementasikan Peraturan Pemerintah No 66 Tahun 2014 Tujuan Khusus Tujuan khusus dari kegiatan lokakarya ini adalah sebagai berikut: Mengidentifikasi peluang dan menjawab tantangan kesehatan lingkungan Mengidentifikasi peluang dan menjawab tantangan tenaga kesehatan lingkungan di ASN Mengidentifikasi peluang dan menjawab tantangan tenaga kesehatan lingkungan secara mandiri Mengidentifikasi peluang dan menjawab tantangan tenaga kesehatan lingkungan di swasta/Badan Usaha Alur Proses Kegiatan Kegiatan terbagi kedalam dua bagian, yakni: Seminar,menghadirkan narasumber dari : Perwakilan WHO di Indonesia Ibu Isnaeni Abbas memaparkan mengenai formulasi kegiatan kesehatan lingkungan yang telah dan akan dilaksanakan di indonesia Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan (HAKLI) Bapak Bambang Wahyudi SKM, MM memaparkan mengenai implementasi Peraturan Pemerintah no 66 Tahun 2014 dalam penguatan kompetensi tenaga kesehatan lingkungan Tenaga Kesehatan Lingkungan Bapak Abie Wiwoho : Lesson Learnt & Succes Story Sanitarian teladan Provinsi Bapak Yana Supriyatna : Lesson Learnt & Succes Story Lokakarya lebih diarahkan untuk mengkonstruksikan masukan-masukan dari pengalaman yang dipaparkan dalam kegiatan seminar. Informasi menyangkut pada empat aspek besar, yakni: Identifikasi peluang dan menjawab tantangan kesehatan lingkungan Identifikasi peluang dan menjawab tantangan tenaga kesehatan lingkungan di ASN Identifikasi peluang dan menjawab tantangan tenaga kesehatan lingkungan secara mandiri Identifikasi peluang dan menjawab tantangan tenaga kesehatan lingkungan di swasta dan Badan Usaha Pada pelaksanaan lokakarya peserta dibagi menjadi 2 kelompok, dan masing-masing kelompok membahas 1 dari 4 aspek diatas. Tiap kelompok di fasilitasi oleh 1 orang widyiswara dan 1 orang staf teknis yang mendampingi selama proses diskusi sampai dengan penyajian kelompok.
ARTIKEL
OASE (Our Action Save The Earth)
Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan buku OASE (Our Action To Save The Earth) ini. Buku ini merupakan karya dari tim Learning Resource Center (LRC) Bapelkes Cikarang Kementerian Kesehatan RI, yang disusun sebagai aktualisasi kecintaan kami terhadap lingkungan sekitar. Kami ucapkan terimakasih kepada seluruh kontributor khususnya dan Pegawai Bapelkes Cikarang pada umumnya yang telah berperan dalam buku ini, sehingga buku ini dapat diselesaikan. Kami menyadari masih terdapat kekurangan dalam buku ini untuk itu kritik dan saran dari pembaca sekalian, untuk penyempurnaan buku ini sangat diharapkan, sehingga dalam penyusunan buku selanjut akan lebih baik dan lebih sempurna. Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi kita semua, sehingga dapat meningkatkan kecintaan kita terhadap lingkungan sekitar. Asep Zaenal Mustofa, SKM, M.Epi Selengkapnya klik disini
BERITA
Sosialisasi dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Satker Menuju Wilayah dari Bebas Korupsi (WBK)
Sosialisasi dan Bimbingan Teknis (Bimtek) menuju WBK dihadiri oleh seluruh pegawai Bapelkes Cikarang. Sosialisasi dan Bimbingan Teknis WBK dilaksanakan selama dua hari dari tanggal 17 November s.d 18 November 2016. Sebagai nara sumber pada kegiatan sosailisasi dan Bimtek menuju WBK adalah Inspektur IV di Inspektorat Jenderal Kementrian Kesehatan RI Bapak Drs. Wayan Ray Suarthana, MM, CFrA.
BERITA
Selamat Hari Kesehatan Nasional ke-52 Tahun 2016
Memperingati Hari Kesehatan Nasional(HKN) ke 52 tahun 2016, Kepala Bapelkes Cikarang Bapak Asep Zaenal Mustofa, SKM, M.Epid memimpin upacara yang diikuti oleh pegawai Bapelkes Cikarang beserta peserta diklat. Kepala Bapelkes Cikarang menyampaikan sambutan sesuai dengan sambutan Menteri Kesehatan RI terkait Peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke 52.
ARTIKEL
Cara Mudah Mengolah Sampah Rumah Tangga (Sampah Organik)
Cara Mudah Mengolah Sampah Rumah Tangga (Sampah Organik) Menggunakan Teknik Fermentasi Anaerob di Bapelkes Cikarang Tahun 2016 (oleh: Heru Subekti, SAP., dkk) Menurut Undang-undang No 18 tahun 2008 definisi sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia atau proses alam yang berbentuk padat. Menurut ilmu kesehatan lingkungan sampah hanya sebagian dari benda atau hal-hal lain yang dipandang tidak dapat digunakan lagi, tidak dipakai, tidak disenangi, atau harus dibuang sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu kelangsungan hidup (Riyaldi, 1986), menurut widyatmoko (2002) sampah rumah tangga adalah sampah yang berasal dari kegiatan rumah tangga yang terdiri dari berbagai macam jenis sampah Sedangkan menurut Undang-undang No 18 tahun 2008 sampah rumah tangga adalah sampah yang berasal dari kegiatan sehari-hari dalam rumah tangga, tetapi tidak termasuk tinja dan sampah spesifik (sampah yang mengandung bahan beracun) Oleh karena dalam rumah tangga limbah tersebut biasa disebut dengan sampah maka biasanya setelah tidak dipakai akan dibuang. Ada berbagai macam cara mebuang sampah di tempat pembuangan akhir diantaranya: Open dumping, yaitu membuang sampah secara terbuka diatas permukaan tanah Dumping in water, yaitu membuang sampah secara terbuaka diatas air seperti dikali atau dilaut Burning in premise, yaitu pembakaran sampah di rumah-rumah Sanitary landfill, yaitu suatu cara pembuangan sampah ke tempat-tempat rendah dam ditutupi dengan tanah untuk memenuhi persyaratan-persyaratan (Depkes,1987) Dan masih banyak cara lain untuk membuang sampah, namun kendalanya adalah dibutuhkan lahan yang luas, armada yang banyak, menimbulkan bau yang tidak sedap dan masih banyak persoalan lain yang mengikutinya Dari berbagai cara yang telah biasa dilakukan diatas rasanya selalu menimbulkan masalah. Sebab pada akhirnya membutuhkan dana yang tidak kecil. Untuk mengatasi hal tersebut Bapelkes Cikarang mengembangkan teknologi yang sudah dikenal dikalangan masyarakat namun biasanya dikembangkan di sektor peternakan. Teknologi itu adalah teknologi Fermentasi Anaerob yang biasa disebut dengan Biogas. Mengapa Biogas menjadi Pilihan ? Dari teknologi tersebut selain bisa menggredable sampah ada keuntungan lain diantaranya bisa mengurangi gas rumah kaca bisa menghasilkan bahan bakar pengganti bisa menghasilkan pupuk organik yang bisa dimanfaatkan oleh pemilik degester . biaya pembuatannya murah karena terbuat dari bahan bekas tetapi cukup kuat menahan tekanan gas metan yang dihasilkan mudah digunakan cara membuatnya mudah karena tidak memerlukan keahlian khusus tidak memerlukan tempat yang luas Pengertian Biogas Biogas adalah gas yang dihasilkan oleh aktifitas anaerobik atau fermentasi dari bahan –bahan organik termasuk diantaranya : kotoran manusia dan hewan, limbah domestik (rumah tangga), sampah biodegradable atau setiap limbah organik yang biodegradable dalam kondisi anaerobik. (link: http://foisger.blogspot.com/2011/06/definisi-biogas-secara-lengkap-dan.html) Kandungan utama dalam biogas adalah Metana dan Karbon Dioksida. Biogas dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan maupun untuk menghasilkan listrik. Cara Mengolah limbah rumah tangga menjadi biogas. Pada percobaan ke 4 ini Bapelkes Cikarang membuat biodegester dengan kapasitas 1000 liter dengan tangki bekas bahan kimia yang terbuat dari Poly Etelyne (PE) sehingga kuat dan tidak mudah pecah, Menyiapkan enceng gondok sebanyak ± 200 Kg ditambah sampah organic ± 800 kg dan air kali/kolam sebanyak ± 1000 Lt, enceng gondok dan sampah organic dihaluskan (ditumbuk/dicacah) kalo di Bapelkes di giling. kemudian enceng gondok dan sampah organic serta air dicampur dengan perbandingan 1:1 Pada hari ke 3 sampai hari ke 4 tidak terdeteksi gas yang dihasilkan akirnya diamati secara teliti dari hasil pengamatan ditemukan kebocoran kemudian dilakukan pengelasan tetapi tidak berhasil. Pada hari ke 5 biodegester dibongkar total pada pipa pemasukan bahan baku kemudian dibuat ulang dan dipasang kembali dengan perekat menggunakan water proofing dan di tes kebocoran dengan memompa biodegester dan hasilnya sangat menggembirakan karena tidak ada kebocoron. Pada percobaan terdahulu biodegester dengan bahan baku eceng gondok dan sampah organic menghasilkan gas metan pada hari ke 31. Dari percobaan mengatasi kebocoran diperoleh teknik mempercepat proses fermentasi dengan cara memvakum gas oksigen yang ada pada ruang fermentasi dan hasilnya pada hari ke 6 tetap mengahasilkan gas pengotor dan terus dibuang, namun pada hari ke14 gas metan sudah mulai Nampak terbentuk namun belum bisa terus menerus terbakar pada hari ke 16 gas metan yang terbentuk dan ketika dibakar bisa menyala dengan warna api biru. Selanjutnya setiap hari ditambah dengan limbah rumah tangga ± 10 Kg setiap hari dengan cara dihaluskan dan dicampur air ± 10 Lt, tetapi gas metan yang dihasilkan belum diukur karena masih sedikit. Kandungan Biogas Komposisi biogas bervariasi tergantung dengan asal proses anaerobik yang terjadi. Gas Landfill memiliki konsentrasi metana sekitar 50 %, sedangkan sistem pengolahan limbah dapat menghasilkan biogas dengan 55 – 75 % CH4. Komposisi Biogas Komponen Persen Metana Karbon dioksida Nitrogen Hidrogen Hidrogen sulfide Oksigen (CH4) (CO2) (N2) (H2) (H2S) (O2) 55 – 75 25 – 45 0 – 0,3 1 – 5 0 – 3 0,1 – 0,5 Kandungan Energi Nilai kalori dari 1 m3 Biogas sekitar 6.000 watt/jam yang setara dengan setengah liter minyak diesel. Oleh karena itu biogas sangat cocok digunakan sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan pengganti minyak tanah, LPG, butana, batu bara, maupun bahan-bahan lain yang berasal dari fosil. Biogas dan Aktifitas Anaerobik Biogas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik sangat populer digunakan untuk mengolah limbah biodegradable karena bahan bakar dapat dihasilkan sambil menghancurkan bakteri patogen dan sekaligus mengurangi volume limbah buangan. Metana dalam biogas, bila terbakar akan relatif lebih bersih daripada batu bara, dan menghasilkan energi yang lebih besar dengan emisi karbon dioksida yang lebih sedikit. Pemanfaatan biogas memegang peranan penting dalam manajemen limbah karena metana merupakan gas rumah kaca yang lebih berbahaya dalam pemanasan global bila dibandingkan dengan karbon dioksida. Karbon dalam biogas merupakan karbon yang diambil dari atmosfer oleh fotosintesis tanaman, sehingga bila dilepaskan lagi ke atmosfer tidak akan menambah jumlah karbon di atmosfir bila dibandingkan dengan pembakaran bahan bakar fosil. Daftar Pustaka: Yessi T Br.Karo, USU Reporsitory © 2009 http://foisger.blogspot.com/2011/06/definisi-biogas-secara-lengkap-dan.html.
BERITA
Pilih Hasil Atau Harmonis? (5 tipe pemimpin menurut Blake Mouton)
Sebagai pemimpin, apakah anda berfokus pada hasil ataukah fokus untuk menyenangkan pegawai anda? Apa yang menjadi prioritas anda, saat anda mendapatkan staf baru? Apakah anda akan menjelaskan tugas yang harus mereka selesaikan pada akhir tahun? Ataukah anda akan memberikan waktu dan perhatian anda untuk memahami mereka, sehingga mereka merasakan nyaman bekerja? Seringkali kita mendengar bahwa tipe pemimpin akan baik jika diletakkan pada waktu dan situasi yang benar. Artikel ini akan mencoba menjelaskan tipe kepemimpinan dengan pendekatan dua fokus di atas. Dua fokus tersebut tampaknya saling bertentangan, namun jika kedua fokus itu dapat digabung dengan tepat, maka akan memberikan performa kerja yang baik, karena akan memuaskan baik dari sisi hasil kerja maupun memuaskan pegawai yang melaksanakannya. Pada awal tahun 1960an, ahli manajemen Robert Blake dan Jane Mouton mencoba memetakan tipe kepemimpinan dengan mengkombinasikan fokus pada hasil dan manusia, sehingga terciptalah 5 tipe kepemimpinan yang cukup banyak digunakan pada ilmu manajemen modern. 1. Impoverished – Hasil rendah/manusia rendah Tipe ini adalah tipe pemimpin yang paling tidak efektif. Pemimpin ini kurang perhatiannya terhadap hasil yang ingin dicapai ataupun pada kebutuhan manusia. Pemimpin biasanya menggunakan tipe ini untuk menjaga senioritasnya, dan menjaga dirinya aman dari masalah. Pemimpin ini biasanya tidak menyukai adanya kesalahan dan tidak pula menyukai adanya inovasi serta ide-ide baru. 2. Produce-Perish – Hasil tinggi/ manusia rendah Tipe ini adalah tipe pemimpin yang dominan (kata halus dari diktator). Pemimpin ini selalu menargetkan hasil kerja, tanpa memperhatikan kebutuhan para pekerjanya. Pemimpin sering mengekang pekerja dengan aturan dan kebijakan yang ketat, dan tak segan untuk memberikan hukuman untuk memotivasi pekerja. Dalam situasi tertentu, tipe ini baik dipakai untuk menyelesaikan krisis atau permasalahan segera. 3. Middle of the road – Hasil sedang/manusia sedang Bisa dikatakan pemimpin tipe ini adalah tipe pemimpin yang senang dengan status quo. Pemimpin ini berusaha menyeimbangkan antara kebutuhan organisasi dengan kebutuhan para pekerjanya. Namun karena sering dilakukan kompromi, maka seringkali pemimpin kehilangan momentum untuk mendapatkan performa yang terbaik. Hasil kerjanya biasanya standar dan rata-rata. Country club – Hasil rendah/manusia tinggi Tipe pemimpin ini sangat memberikan perhatikan akan kebutuhan pekerja baik kebutuhan fisik maupun perasaannya. Pemimpin ini berasumsi bahwa selama pekerjanya merasa senang, maka mereka akan bekerja keras. Lingkungan kerja biasanya berjalan santai dan menyenangkan. Namun tipe ini seringkali mengorbankan performa ataupun hasil kerja karena kurangnya pengarahan maupun kontrol, karena pemimpin tipe ini menempatkan posisinya sebagai “sahabat baik” terhadap pekerja mereka. 4. Team – Hasil tinggi/ manusia tinggi Menurut model Blake Mouton, tipe tim adalah tipe kepemimpinan yang paling efektif. Tipe ini mencerminkan seorang pemimpin yang bersemangat terhadap hasil kerja dan juga memberikan yang terbaik baik kebutuhan pekerjanya. Tipe pemimpin ini komit dengan visi dan misi organisasi, sekaligus memotivasi pekerjanya untuk mencapai hasil kerja yang terbaik. Namun di saat yang bersamaan, pemimpin ini juga menjadi inspirasi bagi para pekerjanya. Dia akan memimpin dengan penuh penghargaan dan penguatan, sehingga para pekerja merasa punya peran dan bagian penting bagi organisasi. Dimanakah posisi anda?