Logo Kemenkes RI - Bapelkes Cikarang

Semua Berita & Artikel

Kumpulan informasi, berita terkini, dan artikel kesehatan Bapelkes Cikarang

Gambar Berita ARTIKEL

Kebutuhan Cairan Pada Lanjut Usia

27 Oct 2013 � Melania E Sundari - Bapelkes Cikarang

A. PENDAHULUAN   Manusia perlu minum untuk mengganti cairan tubuh yang hilang setelah melakukan aktivitas. Air sangat besar artinya bagi tubuh kita, karena air membantu menjalankan fungsi tubuh, mencegah timbulnya berbagai penyakit disaluran kemih seperti kencing batu, batu ginjal, dll. Air juga sebagai pelumas bagi fungsi tulang dan sendi. Manfaat lain dari minum air putih adalah mencegah sembelit karena untuk mengolah makanan dalam usus sangat dibutuhkan air, tentu saja tanpa air yang cukup   kerja usus tidak dapat maksimal dan timbullah sembelit. Air mineral atau air putih lebih baik daripada kopi, teh kental, softdrink, alkohol, es, maupun sirup dan dianjurkan minimal kita minum air putih 1.5 sampai dengan 2 liter/hari. Minuman seperti kopi, teh kental, softdrink, alkohol, es, maupun sirup bahkan tidak baik untuk kesehatan dan harus dihindari terutama bagi para lansia yang mempunyai penyakit-penyakit tertentu seperti kencing manis, darah tinggi, obesitas, dan jantung.   B. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBUTUHAN CAIRAN PADA LANSIA 1. Berat badan (lemak tubuh) cenderung meningkat dengan bertambahnya usia, sedangkan sel-sel lemak mengandung sedikit air, sehingga komposisi air dalam tubuh lansia kurang dari manusia dewasa yang lebih muda atau anak-anak dan bayi. 2. Fungsi ginjal menurun dengan bertambahnya usia. Terjadi penurunan kemampuan untuk memekatkan urin, mengakibatkan kehilangan air yang lebih tinggi. 3. Terdapat penurunan asam lambung, yang dapat mempengaruhi individu untuk mentoleransi makanan-makanan tertentu. Lansia terutama rentan terhadap konstipasi karena penurunan pergerakan usus. Masukan cairan yang terbatas, pantangan diit, dan penurunan aktivitas fisik dapat menunjang perkembangan konstipasi. Penggunaan laksatif yang berlebihan atau tidak tepat dapat mengarah pada masalah diare. 4. Lansia mempunyai pusat haus yang kurang sensitif dan mungkin mempunyai masalah dalam mendapatkan cairan ( misalnya gangguan dalam berjalan ) atau mengungkapkan keinginan untuk minum (misalnya pasien stroke).         C. MASALAH CAIRAN PADA LANSIA Masalah cairan yang lebih sering dialami lansia adalah kekurangan cairan tubuh, hal ini berhubungan dengan berbagai perubahan-perubahan yang dialami lansia, diantaranya adalah peningkatan jumlah lemak pada lansia, penurunan fungsi ginjal untuk memekatkan urin dan penurunan rasa haus. D. PEMANTAUAN STATUS CAIRAN PADA LANSIA 1. Tanda-tanda kekurangan cairan Tanda – tanda vital a. Terjadi peningkatan suhu tubuh b. Dapat terjadi peningkatan frekuensi pernafasan dan kedalaman pernafasan (normal : 14 – 20 x/mnt) c. Peningkatan frek. denyut nadi (normal : 60-100 x/mnt), nadi lemah, halus d. Tekanan darah menurun Pemeriksaan Fisik : a. Kulit kering dan agak kemerahan b. Lidah kering dan kasar c. Mata cekung d. Penurunan BB yang terjadi scr tiba2/drastis e. Turgor kulit menurun (Lansia kurang akurat) Perilaku : a. Penurunan kesadaran b. Gelisah c. Lemah d. Pusing e. Tidak nafsu makan f. Mual dan muntah g. Kehausan (pada lansia kurang signifikan) Terjadi penurunan jumlah urin 2. Tanda-tanda kelebihan cairan Tanda –tanda vital a. Terjadi penurunan suhu tubuh b. Dapat terjadi sesak nafas c. Denyut nadi teraba kuat dan frekuensinya meningkat d. Tekanan darah meningkat Pemeriksaan fisik : a. Turgor kulit meningkat (lansia kurang akurat) b. Edema c. Peningkatan BB secara tiba-tiba d. Kulit lembab Perilaku : a. Pusing b. Anoreksia / tidak nafsu makan c. mual muntah Peningkatan jumlah urin (jika ginjal masih baik)   REFERENSI : Darmojo, R. Boedhi.,dkk.1999. Buku Ajar Geriatri. Jakarta : Balai Penerbit FKUI Gallo, Joseph.1998. Buku Saku Gerontologi. Jakarta : EGC Nugroho, Wahjudi.2000. Keperawatan Gerontik.Jakarta : EGC Potter & Perry.2005.Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Edisi 4.Jakarta :EGC

Baca Selengkapnya
Gambar Berita ARTIKEL

Penanggulangan Bencana (Gempa dan Tsunami) Berbaisis Masyarakat

22 Oct 2013 � dr. Maryono - Bapelkes Cikarang

Sembilan tahun yanh lalu tepatnya  tanggal 26 Desember 2004, terjadi gempa Bumi dahsyat di Samudra Hindia, lepas pantai barat Aceh. Gempa terjadi pada waktu 7:58:53 WIB.   Gempa ini berkekuatan 9,3 menurut skala Richter dan dengan ini merupakan gempa Bumi terdahsyat dalam kurun waktu 40 tahun terakhir ini yang menghantam Aceh,eSumatera Utara, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Sri Lanka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika.   Gempa yang mengakibatkan tsunami menyebabkan sekitar 230.000 orang tewas di 8 negara. Ombak tsunami setinggi 9 meter. Bencana ini merupakan kematian terbesar sepanjang sejarah. Indonesia, Sri Lanka, India, dan Thailand merupakan negara dengan jumlah kematian terbesar. Gempa bumi terjadi  karena gesekan antara lempeng-lempeng tektonik di bawah permukaan bumi. Pergesekan ini mengeluarkan energi yangluar biasa besar dan menimbulkan goncangan di permukaan. Indonesia sangat rawan gempa karena secara geografis berada dekat dengan lempeng-lempeng yang aktif dan saling berhubungan satu sama lain, serta karena adanya gunung-gunung berapi yang aktif.   Tsunami adalah gelombang laut yang diakibatkan oleh pergeseran bumi di dasar laut. Kata tsunami berasal dari bahasa Jepang yang berarti “gelombang pelabuhan” karena bencana ini hanya terjadi di wilayah pesisir.   Sebelum Terjadinya Gempa dan Tsunami Kenali dan waspadai daerah tempat tinggal apakah termasuk rawan gempa. Kenali dan pahami apakah gempa bumi itu ( dan akibat yang dapat ditimbulkan) Perhatikan letak pintu, tangga darurat atau cara-cara keluar dari gedung jika sewaktu-waktu harus menyelamatkan diri Perhatikan dan kenali tempat paling aman di dalam gedung/lingkungan tinggal, sekolah atau kantor jika harus berlindung saat terjadi gempa Kenali gejala awal Tsunami, seperti gempa, air laut sekitar pantai surut melebihi batas normal. Kenali tanda-tanda alam seperti angin dingin bertiup dengan bau garam yang menyengat Kenali suara gemuruh/ledakan dari arah pantai dan jauhi laut/pantai jika terjadi gempa Kenali ombak yang kuat dan tidak seperti biasa bisa jadi merupakan gelombang pendahuluan awal Tsunami Segera sampaikan pada semua orang tanda-tanda akan terjadinya Tsunami   Saat terjadinya gempa Jika terjadi gempa, jangan Panik, segera selamatkan diri, jika berada di dalam gedung/bangunan, tetaplah di ruangan, berlindunglah dibawah meja, bangku atau perlengkapan yang kuat sebagai tempat perlindungan bila ada kesempatan, segera keluar menuju tempat terbuka, hati-hati terhadap pecahan kaca atau benda yang jatuh Jongkok atau tiarap, lindungi kepala dan badan dari reruntuhan Jauhi jendela/kaca, perapian, kompor, atau perlengkapan yang kuat sebagai perlindungan dan berlindunglah di dekat pilar atau tembok bagian dalam Tetaplah di tempat perlindungan sampai guncangan berhenti dan aman untuk bergerak keluar ruangan Jangan gunakan lift/elevator, gunakan tangga darurat jika memungkinkan untuk evakuasi Jika berada di luar ruangan hindari/jauhi bangunan/gedung, pohon tinggi dan jaringan listrik carilah lapangan terbuka, Perhatikan tempat berpijak, apakah terjadi rekahan tanah Jika sedang berkendara, hentikan mobil dengan hati-hati, jangan berhenti dibawah jembatan, jalan layang, pohon tinggi, papan reklame, tiang listrik Jika mungkin tetaplah di dalam kendaraan sampai gempa berhenti atau keluar dan menjauhlah dari mobil waspadai terjadinya pergesekan yang dapat mengakibatkan kebakaran Jika tinggal/berada di daerah pegunungan waspadai/hindari daerah rawan longsor dan pohon tumbang Jika tinggal/berada di daerah pantai, jauhi/waspadai terhadap kemungkinan terjadinya/bahaya Tsunami   Saat Terjadinya Gempa dan Tsunami Perhatikan/dengarkan tanda-tanda peringatan dini (early warning system) Jangan Panik, segera selamatkan diri dan keluarga Ketahuilah jalur (evakuasi) menuju tempat yang aman (bukit/dataran tinggi) Segera lakukan pengungsian karena Tsunami bisa terjadi dengan cepat setelah gempa sehingga waktu menyelamatkan diri/mengungsi sangat terbatas Mengungsilah ke daerah yang tinggi dan sejauh mungkin dari pantai atau sungai dekat laut Jika terseret Tsunami carilah benda terapung yang dapat digunakan sebagai rakit Carilah tempat perlindungan yang kuat seperti  bangunan bertulang baja dengan ketinggian lebih dari 3 lantai Tetaplah berada di tempat yang aman sampai air benar-benar surut   Setelah Gempa Bumi Setelah gempa berhenti, jangan masuk ke dalam rumah, tunggu sampai pemberitahuan dari petugas bahwa gempa tidak akan terjadi lagi (tidak ada gempa susulan) Gunakan alas kaki yang kuat untuk menghindari pecahan kaca, paku dan reruntuhan bangunan lainnya. Setelah menolong diri sendiri periksalah di sekitar apakah ada yang luka dan minta pertolongan. Periksa keamanan lingkungan, waspada terhadap kemungkinan terjadinya kebocoran gas, kerusakan saluran/kabel listrik/arus pendek, pipa air bocor/rusak Membantu petugas yang memberikan pertolongan kepada tetangga/penghuni yang memerlukan bantuan. Waspadai gempa susulan, tetaplah berada jauh dari gedung/bangunan Pantau terus informasi tentang bencana yang telah terjadi melalui radio/televisi dll   Setelah Terjadinya Gempa Berpotensi Tsunami Hindari memasuki wilayah kerusakan kecuali setelah dinyatakan aman Ketika kembali ke rumah, jauhi reruntuhan bangunan Hindari instalasi listrik bertegangan tinggi Membantu petugas dalam mengurangi dampak Tsunami antara lain Hindari bertempat tinggal di daerah sekitar 100 m, menanam tanaman yang mampu menahan gelombang laut (seperti bakau, beringin, palem, waru dan sejenisnya), dan menjalin komunikasi dan kerjasama dengan warga sekitar. Mempersiapkan diri/kesiap siagaan terhadap bencana Tsunami dengan mempersiapkan kebutuhan dasar (misalnya: makanan kering, minuman) sebagai bahan persediaan (beberapa hari) sambil menunggu bantuan/pertolongan, catat dan simpan nomor-nomor telepon penting

Baca Selengkapnya
Gambar Berita ARTIKEL

Konsep Wirausaha Sanitasi

16 Oct 2013 � Ir. Miftahur Rohim, M.Kes - Bapelkes Cikarang

Sambil Menyelam Minum Air 07 May 2013 Hingga saat ini kondisi sanitasi di negeri kita ini sangat memprihatinkan, di lapangan terjadi kasus seratus ribu anak meninggal  karena diare setiap tahun di Indonesia. Hal ini mendorong pemerintah  mencanangkan gerakan Indonesia Cinta Sehat, yang mengupayakan agar ibu selamat anak sehat. Ini berarti masyarakat Indonesia cinta perilaku sehat, cinta lingkungan sehat, peduli keselamatan ibu melahirkan, dan mengupayakan anak Indonesia yang sehat dan cerdas.   Apabila dikaji dari aspek preventif dan promotif, salah satu gerakannya adalah melalui sanitasi total yang mengusung terciptanya perilaku sehat dan cinta lingkungan sehat di masyarakat, termasuk di Jawa Barat. Sanitasi total artinya suatu kondisi dimana masyarakat tidak lagi Buang Air Besar Sembarangan (Stop BABS), mempraktekkan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), pengelolaan air minum yang aman di rumah tangga(PAM-RT), pengelolaan sampah, dan pengolahan limbah di rumah tangga. Kelima kondisi ini yang disebut sebagai 5 Pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Dari 5 Pilar Strategi STBM yang dibangun berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 852/2008 yang mencakup enam strategi, tiga diantaranya adalah Penciptaan lingkungan yang kondusif (enabling environment), Peningkatan kebutuhan (demand creation), dan Peningkatan pasokan (supply improvement). Pada point penciptaan Lingkungan yang kondusif untuk program STBM ini prinsipnya meningkatkan dukungan pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya dalam perbaikan perilaku higienis dan saniter. Dalam urusan sanitasi, peran non-pemerintah sangat penting, terutama dari pihak masyarakat (publik), dan pihak swasta (privat). Karenanya,  kemitraan antara pemerintah, publik dan privat dibutuhkan dalam menciptakan situasi yang kondusif untuk program STBM ini. Ketiganya harus memiliki persepsi yang sama tentang pentingnya sanitasi yang baik, dan bisa diterima oleh semua lapisan masyarakat. Pada akhirnya jik situasinya telah kondusif, maka upaya menumbuhkan kebutuhan masyarakat (demand creation) terhadap sanitasi yang baik ditimbulkan melalui kegiatan pemicuan. Kegiatan pemicuan yang efektif akan meningkatkan kebutuhan masyarakat terhadap prasarana sanitasi, seperti jamban sehat. Tingginya permintaan harus direspon dengan peningkatan pasokan dan prasarana yang memadai. Dalam hal ini, kebutuhan pengadaan jamban sehat untuk memenuhi standar sanitasi yang baik, bisa dijawab  dengan mengembangkan wirausahawan sanitasi. Mengapa wirausaha sanitasi yang harus dipilih. Ini didasarkan pada fakta jumlah warga Jawa Barat yang sangat besar, kondisi ini merupakan potensi  bisnis sanitasi. Meningkatnya kebutuhan akan sarana  jamban sehat dapat direspon dengan penggerakan peran wirausaha dan pemasaran sanitasi.  Pengadaan sarana jamban sehat di setiap keluarga, secara individu tentunya harus mulai diserahkan pengelolaannya kepada masyarakat sendiri, misalnya dengan mengadakan arisan pengadaan jamban sehat, agar beban biaya tidak terlalu besar bagi masyarakat kurang mampu dan bisa dikembangkan secara mandiri. Coba kita simak fakta yang sudah dibuktikan oleh Pak Warga, seorang petani dari Desa Ponggang, Kabupaten Subang  yang baru diperkenalkan dengan wirausaha sanitasi pada Mei 2012. Satu setengah bulan kemudian, ia sudah mampu  membangun 26 jamban dan siap menangani 100 pesanan berikutnya. Kisaran harga tersedia dalam beragam opsi  paket jamban mulai dari harga Rp441 ribu, Rp573 ribu, Rp853 ribu sampai Rp975 ribu dengan berbagai pilihan fasilitas dan cara pembayaran. Aksinya ini tentu saja didasari oleh besarnya potensi kebutuhan masyarakat akan jamban dalam memenuhi kebutuhan membuang hajat tdak sembarangan. Dari fakta ini,  tentunya pemerintah terbantu dalam hal pengadaan sarana Jamban di setiap rumah dan keluarga. Arah pengembangan pendanaan pembangunan non-APBD di Jawa Barat dilaksanakan melalui 3 hal, yaitu optimalisasi pendanaan non-APBD (APBN, PHLN, obligasi), Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS) melalui Public Private Partnership (P3) dan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) melalui  Corporate Social Responsibility (CSR). Wirausahawan sanitasi tentunya sangat dimungkinkan membangun kemitraan dengan pihak swasta, baik melalui pintu CSR atau peluang kerjasama lainnya. Namun sayang, ternyata menjadi wirausahawan sanitasi sebagai salah satu peluang bisnis ini belum terlalu menarik minat atau diminati masyarakat maupun kalangan usaha. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat bersama Program Air Bersih dan Sanitasi  Bank Dunia (WSP) berupaya dengan cara merintis program yang bisa mendukung wirausaha sanitasi tersebut. Program ini nantinya dijalankan melalui pelatihan dan implementasi wirausaha sanitasi, mulai dari pemahaman strategi promosi, identifikasi peluang pasar, pembuatan media, teknik komunikasi sampai dengan  penawaran  dan pemasaran produk jamban kepada masyarakat lebih luas. Program ini telah diupayakan mulai bulan Juni 2012 dan sampai saat ini, dan sudah ada 6 angkatan dan sekitar 165 orang yang dilatih. Tercatat sudah 27 orang menjadi wirausahawan. Tetapi kegiatan ini baru dilaksanakan di  beberapa lokasi terpilih saja seperti Kabupaten Kuningan, Sumedang, Tasikmalaya, Subang, Bandung dan Cianjur, daerah-daerah lain akan menyusul sesuai dengan alokasi program yang direncanakan. Beberapa pelatihan teknis yang sudah dilaksanakan melalui kerjasama dengan berbagai pihak juga terus dilakukan dan dikembangkan lebih lanjut. Salah satunya melibatkan fasilitator dari APSANI (Asosiasi Pengusaha Sanitasi Indonesia) dan WSP. Pelatihan-pelatihan ini berisi materi pembuatan jamban sehat lengkap dengan kemampuan menyusun rencana bisnis dan teknik menjual. Saat pelatihan juga diarahkan adanya “pencerahan” pola pikir dan penguatan komitmen melalui simulasi dan aktivitas “olah hati” yang menarik dan terbukti mampu membuat calon wirausahawan lebih bersemangat. Hingga saat ini pelatihan sudah dilakukan kepada 180 orang calon wirausahawan sanitasi di Jawa Barat. Goals dari bisnis wirausaha sanitasi ini adalah gerakan masyarakat yang mampu menciptakan Jawa Barat sehat dan mandiri. Gerakan ini perlu didukung dengan konsep “bapak angkat” atau kemitraan dalam menunjang bisnis ini, agar bisa berdampak terhadap peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, sekaligus  menjadi upaya perbaikan ekonomi masyarakat. Ibarat kata pepatah, "Sambil Menyelam Minum Air". Syaratnya sederhana, kerjasama multipihak yang dapat menciptakan situasi kondusif bagi program STBM. Majulah Sanitasi dan berkembanglah para Wirausaha Sanitasi. Sumber: Pikiran Rakyat 18 Januari 2013Unduh/Download: Pojok Kang Hebring - Pikiran Rakyat 18 Januari 2013

Baca Selengkapnya
Gambar Berita ARTIKEL

Standar Minimal Penyediaan Air Bersih dan Sanitasi di Daerah Bencana

09 Oct 2013 � Ir. Miftahur Rohim, M.Kes - Bapelkes Cikarang

Bencana selalu menimbulkan permasalahan. Salah satunya bidang kesehatan. Timbulnya masalah ini berawal dari kurangnya air bersih yang berakibat pada buruknya kebersihan diri dan sanitasi lingkungan. Akibatnya berbagai jenis penyakit menular muncul.     Penanggulangan masalah kesehatan merupakan kegiatan yang harus segera diberikan baik saat terjadi dan pasca bencana disertai pengungsian. Saat ini sudah ada standar minimal dalam penanggulangan masalah kesehatan akibat bencana dan penganan  pengungsi. Standar ini mengacu pada standar  internasional. Kendati begitu di lapangan, para pelaksana tetap diberi keleluasaan untuk melakukan penyesuaian sesuai kondisi keadaan di lapangan. Beberapa standar minimal yang harus dipenuhi dalam menangani korban bencana khususnya di pengungsian dalam hal lingkungan adalah: A. Pengadaan Air. Dalam situasi bencana mungkin saja air untuk keperluan minumpun tidak cukup, dan dalam hal ini pengadaan air yang layak dikunsumsi menjadi paling mendesak. Namun biasanya problema–problema kesehatan yang berkaitan dengan air muncul akibat kurangnya persediaan dan akibat kondisi air yang sudah tercemar sampai tingkat tertentu. Tolok ukur kunci Persediaan air harus cukup untuk memberi sedikit–dikitnya 15 liter per orang   per hari Volume aliran air ditiap sumber sedikitnya 0,125 liter perdetik. Jarak pemukiman terjauh dari sumber air tidak lebih dari 500 meter 1 (satu) kran air untuk 80 – 100 orang B. Kualitas air Air di sumber–sumber harus layak diminum dan cukup volumenya untuk keperluan keperluan dasar (minum, memasak, menjaga kebersihan pribadi dan rumah tangga) tanpa menyebabakan timbulnya risiko–risiko besar terhadap kesehatan akibat penyakit–penyakit maupun pencemaran kimiawi atu radiologis dari penggunaan jangka pendek. Tolok ukur kunci ; Di sumber air yang tidak terdisinvektan (belum bebas kuman), kandungan bakteri dari pencemaran kotoran manusia tidak lebih dari 10 coliform per 100 mili liter Hasil penelitian kebersihan menunjukkan bahwa resiko pencemaran semacam itu sangat rendah. Untuk air yang disalurkan melalui pipa–pipa kepada penduduk yang jumlahnya lebih dari 10.000 orang, atau bagi semua pasokan air pada waktu ada resiko atau sudah ada kejadian perjangkitan penyakit diare, air harus didisinfektan lebih dahulu sebelum digunakan sehingga mencapai standar yang bias diterima (yakni residu klorin pada kran air 0,2–0,5 miligram perliter dan kejenuhan dibawah 5 NTU) Konduksi tidak lebih dari 2000 jS / cm dan airnya biasa diminum Tidak terdapat dampak negatif yang signifikan terhadap kesehatan pengguna air, akibat pencemaran kimiawi atau radiologis dari pemakaian jangka pendek, atau dari pemakain air dari sumbernya dalam jangka waktu yang telah direncanakan, menurut penelitian yang juga meliputi penelitian tentang kadar endapan bahan–bahan kimiawi yang digunakan untuk mengetes air itu sendiri. Sedangkan menurut penilaian situasi nampak tidak ada peluang yang cukup besar untuk terjadinya masalah kesehatan akibat konsumsi air itu. C. Prasarana dan Perlengkapan Tolok ukur kunci : Setiap keluarga mempunyai dua alat pengambil air yang berkapasitas 10–20 liter, dan tempat penyimpan air berkapasitas 20 liter. Alat–alat ini sebaiknya berbentuk wadah yang berleher sempit dan/bertutup Setiap orang mendapat sabun ukuran 250 gram per bulan. Bila kamar mandi umum harus disediakan, maka prasarana ini harus cukup banyak untuk semua orang yang mandi secara teratur setiap hari pada jam–jam tertentu. Pisahkan petak–petak untuk perempuan dari yang untuk laki–laki. Bila harus ada prasarana pencucian pakaian dan peralatan rumah tangga untuk umum, satu bak air paling banyak dipakai oleh 100 orang. D. Pembuangan Kotoran Manusia Jumlah Jamban dan Akses Masyarakat korban bencana harus memiliki jumlah jamban yang cukup dan jaraknya tidak jauh dari pemukiman mereka, supaya bisa diakses secara mudah dan cepat kapan saja diperlukan, siang ataupun malam Tolok ukur kunci : Tiap jamban digunakan paling banyak 20 orang Penggunaan jamban diatur perumah tangga dan/menurut pembedaan jenis kelamin (misalnya jamban persekian KK atau jamban laki–laki dan jamban perempuan) Jarak jamban tidak lebih dari 50 meter dari pemukiman (rumah atau barak di kamp pengungsian). Atau bila dihitung dalam jam perjalanan ke jamban hanya memakan waktu tidak lebih dari 1 menit saja dengan berjalan kaki. Jamban umum tersedia di tempat–tempat seperti pasar, titik–titik pembagian sembako, pusat – pusat layanan kesehatan dsb. Letak jamban dan penampung kotoran harus sekurang–kurangnya berjarak 30 meter dari sumber air bawah tanah. Dasar penampung kotoran sedikitnya 1,5 meter di atas air tanah. Pembuangan limbah cair dari jamban tidak merembes ke sumber air mana pun, baik sumur maupun mata air, suangai, dan sebagainya 1 (satu) Latrin/jaga untuk 6–10 orang E. Pengelolaan Limbah Padat Pengumpulan dan Pembuangan Limbah Padat Masyarakat harus memiliki lingkungan yang cukup bebas dari pencemaran akibat limbah padat, termasuk limbah medis. Sampah rumah tangga dibuang dari pemukiman atau dikubur di sana sebelum sempat menimbulkan ancaman bagi kesehatan. Tidak terdapat limbah medis yang tercemar atau berbahaya (jarum suntik bekas pakai, perban–perban kotor, obat–obatan kadaluarsa,dsb) di daerah pemukiman atau tempat–tempat umum. Dalam batas–batas lokasi setiap pusat pelayanan kesehatan, terdapat tempat pembakaran limbah padat yang dirancang, dibangun, dan dioperasikan secara benar dan aman, dengan lubang abu yang dalam. Terdapat lubang–lubang sampah, keranjang/tong sampah, atau tempat–tempat khusus untukmembuang sampah di pasar–pasar dan pejagalan, dengan system pengumpulan sampah secara harian. Tempat pembuangan akhir untuk sampah padat berada dilokasi tertentu sedemikian rupa sehingga problema–problema kesehatan dan lingkungan hidup dapat terhindarkan. 2 (dua) drum sampah untuk 80 – 100 orang Tempat/Lubang Sampah Padat Masyarakat memiliki cara – cara untuk membuang limbah rumah tangga sehari–hari secara nyaman dan efektif. Tolok ukur kunci : Tidak ada satupun rumah/barak yang letaknya lebih dari 15 meter dari sebuah bak sampah atau lubang sampah keluarga, atau lebih dari 100 meter jaraknya dar lubang sampah umum. Tersedia satu wadah sampah berkapasitas 100 liter per 10 keluarga bila limbah rumah tangga sehari–hari tidak dikubur ditempat. F. Pengelolaan Limbah Cair Sistem pengeringan Masyarakat memiliki lingkungan hidup sehari–hari yang cukup bebas dari risiko pengikisan tanah dan genangan air, termasuk air hujan, air luapan dari sumber–sumber, limbah cair rumah tangga, dan limbah cair dari prasarana–prasarana medis. Hal–hal berikut dapat dipakai sebagai ukuran untuk melihat keberhasilan pengelolaan limbah cair : Tidak terdapat air yang menggenang disekitar titik–titik pengambilan/sumber air untuk keperluan sehari–hari, didalam maupun di sekitar tempat pemukiman Air hujan dan luapan air/banjir langsung mengalir malalui saluran pembuangan air. Tempat tinggal, jalan – jalan setapak, serta prasana – prasana pengadaan air dan sanitasi tidak tergenang air, juga tidak terkikis oleh air.   (Sumber: Kepmenkes No. 1357 /Menkes/SK/XII/2001 Tuesday, 06 October 2009 03:44

Baca Selengkapnya
Gambar Berita ARTIKEL

Bahaya Bakteri Legionella pada Lingkungan Kerja

30 Sep 2013 � Ir. Miftahur Rohim, M.Kes - Bapelkes Cikarang

Ruangan yang ber AC ternyata tidak serta merta menjamin udara itu sehat dan aman bagi kesehatan manusia, kenapa demikian hal ini karena banyak faktor dari kondisi sanitasi lingkungan yang mempengaruhinya. Untuk itu kita harus berhati-hati, jika sudah terbiasa hidup dalam ruangan ber-AC. Suhu ruangan yang dingin dan sejuk jangan sampai membuat Anda lupa diri untuk tetap menjaga kebersihan AC.   Beberapa waktu lalu, pemberitaan dihebohkan dengan kasus beberapa turis Australia, tiba-tiba terserang infeksi saluran pernapasan saat berlibur di Bali. Ia dikatakan terserang bakteri legionella.  Penyakit apa itu sebenarnya ? Apakah ada  hubungannya dengan AC?   Menurut ujar dr. Made Agus Hendrayana, M.Ked., dosen Mikrobiologi Klinik FK.Unud/RS.Sanglah mendefinisikan sebagai berikut : “Legionellosis merupakan infeksi saluran pernapasan yang disebabkan bakteri genus legionella yang dapat menyebabkan radang paru-paru (pneumonia) yang serius bahkan dapat menjadi fatal”. Selanjutnya dr. Made Agus Hendrayana, M.Ked menyatakan, penyakit yang disebabkan bakteri legionella ini terdiri dari dua sindrom klinis, penyakit legionair  yang menyebabkan pneumonia dan demam pontiak.  “Pada demam pontiak timbul gejala seperti flu ringan pada umumnya seperti demam, menggigil, nyeri otot, lemas, dan sakit kepala tetapi tidak ditemukan adanya radang paru-paru,” Kejadian Wabah legionellosis pertama kali dilaporkan tahun 1976 di Philadelphia, Amerika Serikat dalam Konvensi American Legion dengan jumlah kasus ratusan peserta konvensi terinfeksi dan puluhan orang meninggal. Pada bulan Juli 2007, sebuah wabah legionellosis terjadi pada lansia penumpang kapal pesiar Baltik di mana sejumlah bakteri legionella ditemukan di kamar mandi kabin penumpang dan di bagian lain dari kapal. Faktor utama penyebab penyakit legionellosis adalah disebabkan oleh bakteri legionella spesies legionella pneumophilla tetapi bisa juga spesies legionella lainnya yang dapat menjadi agen penyebab infeksi ini. Penyebaran bakteri legionella terjadi secara langsung dari lingkungan ke manusia.   Penatalaksanaan penyakit legionellosis masing-masing untuk demam potiak dan penyakit legionair berbeda. Pada kasus demam pontiak umumnya tidak memerlukan terapi khusus karena penyakit ini hanya bersifat ringan dan dapat sembuh dengan sendirinya. Pengobatan yang diberikan cukup dengan istirahat, minum obat simtomatis dan antibiotika. Pada penderita yang sudah dipastikan menderita penyakit legionair, sebaiknya segera dirujuk ke rumah sakit mengingat infeksi menyerang organ paru-paru. Pasien perlu mendapatkan penanganan yang serius dengan rawat inap, terapi suportif, obat-obatan dan terapi antibiotika yang tepat serta pemantauan yang ketat. Selanjutnya dr. Made Agus Hendrayana, M.Ked meneambahkan bahwa,  bakteri legionella bisa terdapat dimana-mana,  di alam dan terutama di lingkungan berair dan dapat  tumbuh di air hangat, serta lingkungan yang hangat dan lembab. Lingkungan rumah, hotel, perkantoran rumah sakit, kapal pesiar, dan beberapa lokasi lainnya dapat menjadi tempat hidup bakteri ini.  “Bakteri legionella dapat bertahan dalam air dengan temperatur antara 6 derajat Celcius dan 60 derajat Celcius. Temperatur air untuk tumbuh biasanya 20-45 derajat Celcius sehingga bakteri ini dapat berkembang biak dengan baik di dalam air conditioner (AC) yang tidak dibersihkan dan dirawat, menara pendingin (cooling tower), shower, maupun di kolam air mancur,” kata ayah Putu Prasista Ardyaswari Mahavira ini.Temperatur udara juga diduga dapat mempengaruhi tingkat virulensi (keganasan). Bakteri legionella bisa hidup pada suhu 37 derajat Celcius dan memiliki keganasan yang lebih besar daripada temperatur di bawah 25 derajat  Celcius. Jaringan sistem pipa air di dalam gedung yang kompleks seperti pada sistem pipa air hangat, pendingin udara dan kolam air panas (kolam spa), dan instalasi air lainnya dengan suhu tertentu dapat mendukung pertumbuhan bakteri legionella. Ditambahkan lagi, sistem-sistem air tersebut berpotensi menghasilkan percikan air yang halus sehingga meningkatkan potensi penyebaran bakteri ini. dr. Made Agus Hendrayana, M.Ked menyatakan, penyakit legionellosis yang terjadi di masyarakat hampir selalu diakibatkan dari menghirup percikan dari instalasi air seperti AC, menara pendingin, shower, kolam air panas, air mancur buatan (spa).  “Siapa saja dapat terkena penyakit ini, terutama orang-orang dengan daya tahan tubuh yang rendah misalnya pada bayi, anak-anak maupun orang lansia,” paparnya. Penyakit ini bisa saja terjadi di negara manapun sepanjang suhu lingkungan untuk bakteri ini sesuai.  Indonesia yang beriklim  tropis dengan suhu lingkungan relatif hangat sehingga bakteri ini lebih mudah berkembang biak. Menurut dr. Made Agus Hendrayana, M.Ked penyakit ini dapat mengancam pariwisata di Bali apabila sistem pipa maupun pendingin di hotel-hotel di seluruh Bali tidak dipelihara dengan baik. “Dengan jarangnya sistem perpipaan air ini dibersihkan maka meningkatkan potensi berkembang dan penyebaran bakteri ini. Apabila hal ini terjadi di hotel-hotel atau spa dan menginfeksi tamu hotel yang menginap, bisa terjadi wabah di Bali, tentu akan mengancam pariwisata,”   Untuk mengurangi resiko akibat virus Legionella bisa dilakukan hal-hal sebagai berikut : Risiko terbesar infeksi legionella adalah dari  menghirup percikan air atau aerosol telah terkontaminasi bakteri ini. Beberapa upaya pencegahannya: Selalu merawat dan memelihara kebersihan instalasi pipa air dan sistem pendingin yang berpotensi sebagai tempat berkembang biak bakteri ini sesuai dengan prosedurnya. Melakukan pemeriksaan mikrobiologi rutin di instalasi pipa air dan sistem pendingin  dalam gedung untuk mendeteksi dini tumbuhnya bakteri ini Merencanakan dan membuat desain instalasi air atau pipa di dalam gedung yang tidak memungkinkannya adanya air yang tergenang dalam saluran instalasi pipa Melaporkan dengan segera ke instansi terkait yang berwenang apabila ditemukan adanya koloni bakteri ini di instalasi pipa air atau sistem pendingin Larangan merokok di ruang ber AC, karena dapat mengganggu kesegaran udara dalam ruangan.  Asap rokok dapat membuat sistem pertahanan tubuh pada saluran napas menurun sehingga penyakit mudah masuk ke dalam saluran napas. Selalu menjaga daya tahan tubuh agar tidak mudah terjangkit penyakit dengan makan makanan sehat dan berolahraga secara teratur.   Koran Tokoh, Edisi 692, 1 s.d 6 mei 2012.

Baca Selengkapnya
Gambar Berita ARTIKEL

Dampak Pertumbuhan Industri Terhadap Kelestarian Lingkungan

27 Sep 2013 � Miftahur Rohim, ST, M.Kes

Masalah atau dampak yang terjadi akibat pertumbuhan industry terhadap kelestarian lingkungan adalah sebagai berikut : Pencemaran udara Pencemaran air Pencemaran tanah Pencemaran suara Global warming Yang menyebabkan terjadinya masalah tersebut ialah : Pencemaran udara : Cerobong – cerobong asap yang kurang tinggi dan tidak dilengkapi dengan penggumpal asap Asap kendaraan bermotor yang terlalu banyak juga menyebabkan polusi udara Pencemaran air : Pembuangan limbah – limbah pabrik yang dibuang melalui saluran pembuangan air ke sungai – sungai yang masih jernih Pencemaran tanah : Kemasan hasil produksi pabrik yang setelah dipakai oleh konsumen yang berupa kaleng minuman atau plastik dibuang ke lingkungan sekitar yang membuat polusi tanah Pencemaran suara Suara-suara yang keluar pada pabrik dapat mengakibatkan polusi udara dan bila berlangsung secara terus menerus dalam waktu yang lama dapat mengganggu manusia bahkan dapat mengakibatkan cacat pendengaran yang permanen Global warming : Produksi parfum yang mengandung gas CFC mengakibatkan pengikisan ozon jika diproduksi secara berlebih Limbah pabrik yang berupa asap dan asap kendaraan mengakibatkan pengikisan ozon yang juga disebut global warming. Cara mengatasi masalah tersebut adalah : Pencemaran udara Pada pabrik perlu dilengkapi dengan alat penyaring yang dapat membersihkan asap limbah pabrik tersebut dan cerobong asap juga perlu dipertinggi. Pada kendaraan bermotor knalpot perlu dilengkapi dengan alat penyaring asap yang dapat mengurangi polusi udara Pencemaran air Sebaiknya limbah tersebut dibuat saluran sendiri dan dimasukan kedalam IPAL (Instalasi Pembuangan Akhir Limbah) Pencemaran tanah Sisa kemasan hasil produksi tersebut sebaiknya didaur ulang agar dapat lebih bermanfaat atau dibuat kemasan yang ramah lingkungan. Pencemaran suara Pada pabrik tersebut perlu dipasang peredam suara agar tidak menimbulkan suara-suara yang keras Global warming Memperbanyak penghijauan dan mengurangi sumber yang menyebabkan global warming Keuntungan dan kerugian tiap cara tersebut yaitu : Pencemaran udara Keuntungan : Polusi asap tidak langsung mengenai manusia Kerugian : Tetap menimbulkan polusi pada alam walaupun dalam jumlah yang sedikit Pencemaran air Keuntungan : Jika saluran sudah dibuat maka limbah yang akan di buang tidak akan mengganggu ekosistem air Kerugian : Pembuatan IPAL membutuhkan biaya yang besar Pencemaran tanah Keuntungan : Sampah yang didaur ulang tersebut dapat dimanfaatkan lagi dan dapat mengurangi sampah Kerugian : Tidak ada kerugian pada cara tersebut Pencemaran suara Keuntungan : Setelah dibuat peredam suara, maka akan mengurangi suara-suara keras tersebut Kerugian : Membutuhkan biaya yang lebih untuk membuat peredam tersebut Global warming Keuntungan : Dengan penghijauan, menambah kesejukan dan udara di lingkungan menjadi lebih sehat Kerugian : Dengan adanya penghijauan tersebut lahan akan menjadi lebih sempit Cara yang paling baik untuk dilaksanakan adalah : Pencemaran Udara Semua cara sebenarnya baik walaupun ada kekurangan sedikit. Tetapi yang penting bisa mengurangi angka pencemaran. Pencemaran air Cara itu merupakan cara satu-satunya untuk mencegah polusi air, dan tidak ada cara lain selain itu. Maka cara itulah cara yang terbaik. Dan walaupun membutuhkan biaya yang besar, tapi cara itu bisa meminimalkan dampak polusi air akibat limbah cair pabrik. Pencemaran tanah Cara yang terbaik dari dua cara di atas yaitu cara yang pertama. Karena selain bisa mencegah polusi tanah, barang hasil daur ulangnya bisa memberikan manfaat bagi si pendaur ulangnya. Pencemaran suara Sama dengan solusi pencemaran air, hanya ada satu solusi untuk mengurangi pencemaran suara. Maka, cara itulah yang paling baik. Global warming Cara itu merupakan cara yang paling baik untuk mencegah adanya global warming. Karena banyak manfaatnya.   Sumber :  Rangkaian Tulisan sendiri dari buku2 dan kajian tentangindustri.  

Baca Selengkapnya
Gambar Berita ARTIKEL

"DEEP TUNNEL" Belum Mampu Atasi Banjir di Jakarta

27 Sep 2013 � Miftahur Rohim, ST, M.Kes

Banjir di Jakarta yang tidak berkesudahan akhirnya muncul gagasan Megaproyek deep tunnel atau terowongan multifungsi yang diyakini oleh Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dapat mengurai banjir yang selalu menghampiri Ibu Kota Jakarta. Dari hasil kajian beberapa pakar ternyata mendapatkan pandangan berbeda dari beberapa pihak. Setelah dinilai sebagai proyek dadakan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI, kini deep tunnel juga mendapat kritikan dari pengamat perkotaan Nirwono Joga. Menurut Nirwono sendiri, menilai, mega proyek yang diperkirakan membutuhkan dana sebesar Rp 16 triliun itu tak mampu mengurangi titik banjir yang ada di Ibu Kota. "Perlu diingat, deep tunnel itu tidak untuk mengurangi banjir, tapi untuk mengurangi debit air puncak saat Ciliwung sedang tinggi," Selanjutnya Nirwono menambahkan bahwa dibutuhkan waktu yang sangat panjang untuk melakukan pengkajian pada megaproyek deep tunnel. Oleh karena itu, ia mengimbau kepada Gubernur Jokowi agar lebih berhati-hati dalam membuat kebijakan, terutama kebijakan yang belum melalui proses hukum. "Daripada membuat deep tunnel yang belum jelas dasar hukumnya, kan, lebih baik fokus revitalisasi drainase, situ, dan waduk, perbanyak daerah resapan," kata Nirwono. Sementara itu, Wakil Ketua DPRD DKI Triwisaksana mengatakan, megaproyek deep tunnel merupakan proyek dadakan. "Mau Pak Jokowi bilang proyek deep tunnel bukan hasil dari wangsit gorong-gorong, ya, tapi tetap saja, seharusnya dalam menentukan proyek itu harus dengan strategic planning (rencana strategis) yang jelas," kata pria yang akrab disapa Bang Sani tersebut. Selain itu, kata Sani, seharusnya Pemprov DKI mengacu pada Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2013-2017. Jokowi menjanjikan program deep tunnel akan dimasukkan ke dalam RTRW 2011-2030, RPJMD 2013-2017 yang kemudian juga bisa dimasukkan ke dalam revisi tambahan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Meski Jokowi tengah merancang payung hukum deep tunnel untuk masuk dalam RPJMD 2013-2017, Sani menilai seharusnya Jokowi tidak serta-merta memasukkan suatu proyek besar dalam RPJMD 2013-2017. "Enggak bisa dadakan untuk main masukin saja ke RPJMD, ini ngurus kota, bukan ngurushalaman rumah, harus ada kajian yang matang," kata Sani. Selain itu, politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini juga menyayangkan keputusan Jokowi yang tidak melakukan public hearing untuk proyek deep tunnel seperti proyek MRT. "Mengapa pada saat pemaparan terbuka MRT beliau mengundang warga, tetapi untuk pemaparan deep tunnel, monorel enggak pernah ada. Ini, kan, menjadi pertanyaan bagi warga juga. Semua itu sebenarnya bisa terjawab dan ada strategic planning dalam membuat program," kata Sani. Sebelumnya, Jokowi mengatakan bahwa Jakarta membutuhkan saluran raksasa di dalam tanah ataudeep tunnel. Terowongan ini dibutuhkan untuk mengatasi persoalan banjir yang berimbas pada kemacetan parah. Menurut Jokowi, deep tunnel nantinya bisa berfungsi untuk beragam kepentingan. Selain sebagai saluran air raksasa pada saat banjir, di saat yang lain juga bisa sebagai sarana transportasi. Deep tunnel yang dimaksud mirip dengan konsep smart tunnel yang ada di Kuala Lumpur. Rencananya, deep tunnel akan membentang dari MT Haryono sampai Pluit. Selain untuk mengantisipasi banjir, juga digunakan sebagai jalan tol, jaringan fiber optik, menyalurkan air, transportasi kendaraan, jalur utilitas PLN, gas, telepon, dan sebagainya. Megaproyek ini bernilai Rp 16 triliun dan akan didanai oleh investor. Diameter deep tunnel lebih-kurang 16 meter. Jokowi menargetkan megaproyek tersebut dapat diselesaikan sekitar empat tahun. Sumber :   JAKARTA, KOMPAS.com | Minggu, 13 Januari 2013 | 18:02 WIB; Penulis : Kurnia Sari Aziza ; Editor : A. Wisnubrata http://megapolitan.kompas.com/read/2013/01/13/18024963/Deep.Tunnel.Belum.Mampu.Atasi.Banjir.  

Baca Selengkapnya
Gambar Berita ARTIKEL

Peran Hutan Mangrove

09 Sep 2013 � Miftahur Rohim, ST, M.Kes

Ada hal yang banyak dilupakan orang dari mangrove, yaitu untuk menyelamatkannya. Yang dilakukan sebagian besar yaitu mengambil, menebang dan membakarnya, baik untuk yujuan sebagai kayu bakar ataupun dalam rangka untuk membuka lahan baru di pesisir pantai, sungguh tragis fakta ini. Menyelamatkan hutan mangrove yang tersisa penting guna melindungi alam dan kemanusiaan. Kesimpulan ini terungkap dalam laporan terbaruberjudul “Securing the Future of Mangroves” yang dirilis oleh United Nations University – Institute for Water, Environment and Health (UNU-INWEH), Rabu (14/11). Para peneliti menyatakan, pembangunan tambak atau fungsi-fungsi yang lain di lokasi hutan mangrove merusak manfaat ekonomi dari hutan mangrove pada masa datang. Hutan mangrove sebagian besar terletak di wilayah tropis. Luas hutan mangrove hanya 1% dari luas seluruh wilayah hutan dunia. Sebanyak 70 spesies mangrove ditemukan di 123 wilayah dan negara tropis serta sub-tropis dengan luas total hanya 152,000 km2 – sedikit lebih besar dari wilayah Nepal. Walau kecil, wilayah yang juga di sebut sebagai hutan pasang surut (forest of the tide) ini memberikan manfaat yang sangat besar bagi alam dan kemanusiaan. Hutan mangrove menjadi penjaga keanekaragaman hayati, melindungi wilayah pantai dari gelombang air laut dan tempat berkembang biak ikan di sepanjang garis pantai dan lepas pantai. Hutan mangrove juga lebih efektif dalam menyimpan karbon. Namun, sejak 1980, dunia telah kehilangan sekitar seperlima hutan mangrove, sementara wilayah hutan mangrove yang tersisa banyak yang sudah mengalami kerusakan. Konversi hutan mangrove menjadi wilayah pembudidayaan ikan menjadi penyebabnya. Sekitar 38% kerusakan disebabkan oleh alih guna hutan mangrove menjadi tambak udang, sementara 14% bersumber dari praktik budi daya ikan yang lain. Buruknya perencanaan pembangunan juga menjadi penyebab kerusakan hutan mangrove. Polusi industri mencemari pantai, merusak hutan mangrove dan mengurangi jumlah ikan wilayah pesisir. “Konversi besar-besaran tersebut berdampak negatif bagi lingkungan, menghancurkan sumber perikanan alami yang menjadi sumber pangan dan ekonomi jutaan penduduk dunia,” tutur Hanneke Van Lavieren, peneliti dari United Nations University yang menyusun laporan ini. Kerusakan hutan mangrove juga dipicu oleh tumpahan minyak, deforestasi, eksploitasi perikanan dan buruknya pengelolaan kawasan pesisir pantai. “Tingkat kerusakan hutan mangrove dunia, tiga hingga lima kali lebih cepat dari kerusakan hutan-hutan yang lain,” ujar Dr. Mark Spalding, Senior Marine Scientist di The Nature Conservancy (TNC) yang turut menyusun laporan ini. Perubahan iklim, menurut para peneliti, juga akan memerparah kerusakan hutan mangrove. Sekitar 5 hingga 20% dari lahan basah (wetland) di wilayah pesisir akan hilang akibat kenaikan air laut pada 2080. Kerusakan terbesar akan terjadi di wilayah Asia Pasifik (lebih dari 20%) dan wilayah Amerika Tengah. Di wilayah Afrika Timur, kerusakan hutan mangrove mencapai 8% antara tahun 1980 dan 2005. Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) kerusakan hutan mangrove di Pakistan, Honduras, Kongo, Vietnam, Sierra Leone dan El Salvador, masing-masing mencapai lebih dari 40% dari tahun 1980 ke 2005. Sementara kerusakan di Australia, Bangladesh, Kuba, Suriname, dan Prancis pada periode yang sama kurang dari 1%. “Tingkat kerusakan di atas tergantung dari kebijakan nasional dan perlindungan hukum terhadap hutan mangrove di masing-masing negara,” ujar Zafar Adeel, Direktur UNU-INWEH yang turut menyusun laporan ini. Sumber : Redaksi Hijauku.com tgl. 22 Mei 2013 jam 22.58 http://www.hijauku.com/2012/11/18/jasa-hutan-mangrove-tak-tergantikan/  

Baca Selengkapnya
Gambar Berita BERITA

Pengumpulan Data Evaluasi Pasca Pelatihan Manajemen Puskesmas di Jambi dan Bangka Belitung Tahun 2013

23 Jul 2013 � Erlinawati Pane, SKM, MKM

Pelatihan Manajemen Puskesmas merupakan salah satu pelatihan yang diselenggarakan oleh Bapelkes Cikarang selama 2 tahun berturut-turut.  Pelatihan ini di salah satunya di selenggarakan di Provinsi Jambi pada tahun 2011 dan 2012.  Selain di Jambi, pelatihan ini juga diselenggarakan di Provinsi Bangka Belitung di tahun 2012.  Kedua Provinsi tersebut adalah wilayah kemitraan dari Bapelkes Cikarang khususnya dalam program pendidikan dan pelatihan SDM kesehatan. Oleh karena itu pada tahun 2013, Bapelkes Cikarang melaksanakan Evaluasi Pasca Pelatihan (EPP) terhadap Pelatihan Manajemen Puskesmas untuk mengetahui  : manfaat pelatihan dalam penerapan ilmu yang diperoleh mantan peserta terhadap pekerjaan di institusi masing-masing dan sebagai bahan masukan atau rekomendasi untuk pelatihan, dengan demikian diharapkan Pelatihan Manajemen Puskesmas yang akan datang menjadi lebih baik dan mempunyai daya ungkit, baik terhadap peserta maupun institusi tempat bekerja peserta serta Bapelkes Cikarang sebagai pihak penyelenggara pelatihan. Kegiatan pengumpulan data dalam rangka EPP Manajemen Puskesmas di Provinsi Jambi dilaksanakan pada tanggal 18 – 21 Juni 2013 dengan responden atau mantan peserta latih sebanyak 3 orang dari Puskesmas Muara Tebo  (Kabupaten Tebo) dan 3 orang dari Puskesmas Sekernan Ilir  Kabupaten Muaro Jambi.  Sedangkan di Bangka Belitung, kegiatan pengumpulan data dilaksanakan pada tanggal 1 – 4 Juli 2013 dengan responden atau mantan peserta latih sebanyak 3 orang yang berasal dari Puskesmas Batu Betumpang di Kabupaten Bangka Selatan. Metode pengumpulan data yang digunakan pada EPP Manajemen Puskesmas ini adalah dengan melakukan wawancara mendalam terhadap mantan peserta dan Focus Group Discussion (FGD) terhadap 7 orang rekan sekerja mantan peserta latih. Selain itu kita juga melakukan wawancara terhadap atasan dari manatan peserta yaitu Kepala Dinas Kesehatan ataupun Kasubdin Yankes yang menjadi atasan langsung ataupun pembina dari   Puskesmas tersebut. Berikut ini adalah beberapa dokumentasi kegiatan EPP yang dapat kami sajikan dari pelaksanaan kegiatan pengumpulan data di Provinsi Jambi :  

Baca Selengkapnya
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37
Jika ada pertanyaan atau aduan klik disini
Halo BC