Semua Berita & Artikel
Kumpulan informasi, berita terkini, dan artikel kesehatan Bapelkes Cikarang
ARTIKEL
Penyimpangan perilaku makan
Penyimpangan perilaku makan menurut American Psychiatric Association (2005) dalam sebuah artikel yang berjudul Let’s Talk Facts about Eating Disorders merupakan sebuah penyakit dimana si penderita mengalami gangguan dalam perilaku makan mereka terkait pikiran dan emosinya. Mereka yang mengalami penyimpangan perilaku makan biasanya sangat memperhatikan makanan dan berat badannya, selain itu pada umunya diderita oleh wanita umur 12 sampai 35 tahun. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi penyimpangan perilaku makan yaitu: Usia Jenis kelamin Genetik Perilaku diet Citra tubuh Rasa percaya diri Kekerasan fisik Ejekan Pelecehan seksual Pengaruh media Dalam Diagnostic and Statistical Manual of mental Disorders-IV ada empat jenis penyimpangan perilaku makan yang memiliki kriteria dan ciri khusus yaitu: 1. Anoreksia Nervosa Anoreksia nervosa adalah suatu bentuk penyimpangan perilaku makan yang mengakibatkan penurunan berat badan yang tidak sehat. Anoreksia nervosa atau dikatakan sebagai tindakan untuk melaparkan diri sendiri, merupakan sebuah kelainan psikosomatis yang serius dimana muncul pada remaja antara 16 sampai 18 tahun. Kriteria diagnosis penderita anoreksia nervosa adalah: Menolak untuk menjaga berat badan pada atau diatas berat badan normal minimal, mengarah pada berat badan kurang dari 85% berat badan yang diharapkan Memiliki rasa takut yang berlebihan pada kenaikan berat badan atau menjadi gemuk Memiliki gangguan dalam menilai berat badan dan bentuk tubuh Amenorrhea (tidak haid) terlewatnya periode menstruasi pada wanita setelah masa perbertas selama 3 periode menstruasi Dampak yang timbul bagi penderita anoreksia nervosa yaitu Perubahan pada kulit dan rambut tubuh dengan ciri khas timbulnya lanugo (rambut tipis/halus yang tumbuh pada kulit yang menahan udara dalam rangka mengurangi hilangnya panas tubuh dan menggantikan fungsi isolator lapisan lemak yang hilang) Mengalami amenorrhoea pada saat remaja dan bila berlanjut akan mengakibatkan osteopenia dan akan berkembang kepada osteoporosis dan akhirnya mengakibatkan patah tulang Menyerang sistim organ utama dalam tubuh mengakibatkan Penyakit jantung, infeksi, perdarahan pada paru-paru serta ketidakseimbangan cairan dan elektrolit dan lain-lain Kematian karena berbagai penyakit yang menyerang dan bunuh diri 2. Bulimia Nervosa Bulimia Nervosa adalah penyakit gangguan pencernaan yang umumnya dapat ditemukan pada gadis remaja atau wanita dewasa muda, dan jarang ditemukan pada pria. Bulimia Nervosa diidentikan dengan peristiwa makan yang sangat banyak terutama makan yang mengandung karbohidrat dan dihabiskan dalam jangka waktu yang singkat, tetapi untuk mencegah terjadinya kegemukan maka setelah makan ada tahap untuk mengurangi/ mengeluarkan makanan dan terjadilah muntah atau mengkonsumsi obat penurun berat badan dan diet yang ketat. Penderita ini umumnya memiliki berat badan normal bahkan diatasnya maka cukup sulit menentukan penderitanya yang cenderung lebih banyak dari anoreksia nervosa sekitar 3-4% wanita muda yang berasal dari level ekonomi menengah keatas. Biasanya penderita bulimia nervosa tidak bangga dengan perilaku mereka, setelah makan berlebihan biasanya mereka akan merasa bersalah dan depresi setelah itu mereka akan menjadi rendah diri dan merasa tak berdaya dengan situasi yang dialami, keadaan ini akan terus berulang-ulang. Kriteria diagnosis penderita bulimia nervosa adalah: Terjadinya pengulangan periode binge eating yang ditandai 2 kriteria (makan dalam periode tertentu misalnya tiap 2 jam dengan jumlah banyak dan adanya perasaan tidak dapat mengendalikan jumlah porsi yang dimakan ketika periode itu berlangsung) Adanya perilaku kompensasi yang tidak sesuai berulang kali dengan tujuan mencegah kenaikan berat badan Episode binge eating maupun perilaku kompensasi muncul bersamaan, keduanya berlangsung rata-rata dua kali seminggu dalam tiga bulan Gangguan tersebut tidak terjadi secara eksklusif selama episode anoreksia nervosa Dampak yang timbul bagi penderita bulimia nervosa yaitu: Mengalami amenorrhoea, edema dan kerusakan fungsi hati Dalam proses pemuntahan akan mengurangi kadar kalium, klor dan ion hydrogen yang menyebabkan kelemahan otot, konstipasi dan rasa pusing Detak jantung tidak normal, sakit perut, mudah lemas, sakit pada tenggorokan dan pembengkakan kelenjar liur Mengalami dehidrasi Kerusakan gigi akibat asam lambung yang keluar Kematian akibat ketidakseimbangan elektrolit dan bunuh diri 3. Binge Eating Disorder (BED) Binge Eating Disorder (BED) Menurut Brown (2005) merupakan suatu kondisi dimana seseorang makan dalam jumlah yang sangat banyak dan merasakan bahwa periode makan tersebut tidak dikontrol oleh dirinya. Secara umum BED didefinisikan sebagai sebuah episode binge eating (makan secara berlebihan dan merasa hilang kendali) namun tidak diikuti oleh prilaku kompensasi selama 2 hari perminggu paling tidak selama 6 bulan. Kriteria diagnosis penderita BED adalah: Terjadinya pengulangan periode binge eating yang ditandai 2 kriteria (makan dalam periode tertentu misalnya tiap 2 jam dengan jumlah banyak dan adanya perasaan tidak dapat mengendalikan jumlah porsi yang dimakan ketika periode itu berlangsung) Adanya 3 atau lebih gelaja berikut: - Makan lebih cepat dari biasanya - Makan hingga merasa tidak nyaman karena kekenyangan - Makan dalam porsi yang besar walau secara fisik tidak lapar - Makan sendirian karena malu akibat jumlah porsi yang dimakan - Merasa jijik/muak, tertekan atau bersalah terhadap diri sendiri setelah episode binge-eating tersebut Merasa sangat kecewa karena tidak mampu mengendalikan porsi makan Episode binge-eating berlangsung setidaknya 2 hari seminggu dalam 6 bulan Episode ini tidak terjadi selama riwayatnya anoreksia nervosa atau bulimia nervosa Dampak yang timbul bagi penderita BED yaitu: Tekanan darah tinggi Tingkat kolesterol tinggi Diabetes mellitus Overweight Hipertensi dan penyakit jantung 4. Eating Disorders not Otherwise specified (EDNOS) Eating Disorders not Otherwise specified (EDNOS) merupakan kategori penyimpangan perilaku makan yang sangat luas, dimana penderitanya hanya memiliki sebagian sindrom dari kriteria anoreksia nervosa atau bulimia nervosa, sekitar 50% penderita penyimpangan perilaku makan masuk kedalam kategori EDNOS (Wardlaw&hampl, 2007). Kriteria diagnosis penderita EDNOS adalah: Seorang perempuan yang memenuhi semua kriteria anoreksia nervosa tetapi masih mengalami menstruasi secara normal Seorang perempuan yang memenuhi semua kriteria untuk anoreksia nervosa tetapi berat badannya masih dalam ambang batas normal (85% berat badan orang dengan usia dan tinggi yang sama) Seseorang yang memenuhi semua kriteria untuk bulimia nervosa tetapi episode binge-eating dan prilaku kompensasinya: kurang dari 3 bulan dan kurang dari 2 kali perminggu Melakukan perilaku kompensasi setelah makan dalam jumlah yang normal atau sedikit (tidak ada episode binge-eating) Terus menerus mengunyah dan meludahkan sejumlah besar makanan tanpa menelannya Binge-eating disorder (DEB) Sumber: http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/126740-S-5685-Hubungan%20antara-Literatur.pdf
ARTIKEL
Shisha Sama Bahayanya Dengan Rokok
Di sepanjang jalan daerah Jakarta Timur yang terkenal sebagai pusat kuliner , waktu masih menunjukan pukul tujuh malam. kafe-kafe dan restoran terlihat penuh dikunjungi para pelanggannya. Salah satu kafe terlihat berbeda karena menu yang ditawarkan bukan makanan atau minuman melainkan sesuatu yang terlihat unik : Kafe shisha. Shisha atau hookah merupakan gaya merokok tembakau ala Timur Tengah. Cara merokok shisha berbeda dengan mengisap rokok tembakau pada umumnya. Shisha menggunakan tabung panjang yang berisi air. Tabung shisha dilengkapi dengan selang untuk menghirup asap yang dihasilkannya. Tidak semua orang menyadari bahwa shisha sama dengan merokok, hal ini karena iklan flyer atau poster yang dinampilkan berbagai macam buah-buahan sebagai aroma shisha. Ketidaktahuan masyarakat dan keingintahuan akan sesuatu yang unik mendorong orang yang sebelumnya tidak merokok tertarik dan tanpa menyadari sudah menjadi perokok ! Shisha, Gaya Hidup Anak Muda Sepengetahuan Penulis Di Indonesia memang belum ada penelitian tentang hal ini, namun di Amerika sudah ada penelitian yang mengungkapkan pengaruh shisha pada anak muda. Joseph Palamar, asisten profesor dari NYU Langone Medical Centre, meneliti 15.000 anak SMA di Amerika, dengan sampel 5000 siswa didapat temuan yang mengejutkan: 1 dari 5 anak muda selama tahun 2012 sudah pernah menghisap shisha/hookah. Karakteristik lainnya adalah sebagian besar merupakan kalangan ekonomi menengah keatas dan dominan di wilayah perkotaan. Secara tidak langsung dapat disimpulkan bahwa menghisap shisha adalah gaya hidup anak muda barat. Dan tidak heran di Indonesia gaya hidup ini mulai menular dimulai dari generasi muda menengah keatas yang mudah menyerap budaya barat dan ironisnya secara intelektual harusnya lebih baik. Benarkah Shisha Tidak Seberbahaya Rokok? Ada dua pendapat yang bertolak belakang. Shisha tidak seberbahaya rokok dan sebaliknya. Kedua pendapat ini ada benarnya ! Berikut ini alasan bahwa shisha tidak seberbahaya merokok : - Benar Shisha adalah tembakau yang dipadu dahulu dengan air untuk menetralkan kandungan nikotin tembakau. + Tetapi bagaimanapun tidak mungkin kandungan nikotin tereduksi sampai nol persen - Benar Menghisap shisha cuma sekedar gaya hidup yang “sekali-sekali” saja. + Tetapi bagaimanapun kalau keterusan dan sering dapat menimbulkan adiksi atau ketagihan - Benar kandungan racun shisha tidak sebesar rokok. + Fakta juga satu bong shisha = 200 batang rokok ! Volume hisap lebih besar shisha. Shisha Sangat Berbahaya ! Dari penelitian World Health Organization (WHO) didapat kesimpulan bahwa asap rokok dan shisha sama-sama mengandung partikel penyebab kanker. Sekali orang merokok maka asap yang terhisap adalah setengah liter, sementara shisha, 6-7 liter sekali hisap. Sekalipun kandungan partikel kanker tidak sebanyak rokok, namun karena volume yang dihisap jauh lebih besar dapat dipastikan shisha lebih berbahaya. Hal lain yang mendukung pernyataan shisha lebih berbahaya dari rokok adalah penyakit yang ditimbulkan selain penyakit yang sama dengan rokok ( kanker tenggorokan, paru-paru, impotensi, kanker mulut). Shisha dapat menularkan herpes dan TBC dan penyakit lainnya karena penggunaan selang hisap yang saling berbagi sehingga berisiko terjadi penularan. Secara sosial shisha memiliki potensi yang lebih berbahaya dari rokok. Sementara setiap iklan rokok selalu disertai peringatan bahaya merokok, dan cukai rokok sangat besar. Shisha diiklankan secara menarik dan terkesan “aman” dengan berbagai macam rasa buah. Tidak membayar beacukai dan dipandang sebagai makanan biasa. Apa Yang Harus Dilakukan? Sebagai individu dan keluarga: galilah informasi tentang shisha, misal dengan membaca artikel ini. Awasi anak-anak kita dan beri peringatan bahwa shisha lebih berbahaya dari rokok. Sesuai penelitian anak-anak muda mempunyai rasa ingin tahu yang lebih besar dan lebih mudah meniru gaya hidup yang salah. Hentikan rasa penasaran, kalau anda bukan perokok dan anda tidak berniat mencoba rokok, niatkan pula tidak mencoba shisha. Untuk regulator dan pihak yang berwenang: sudah saatnya shisha dibedakan dengan makanan/minuman dan diperlakukan sesuai undang-undang tentang rokok atau minuman keras. Berlakukan pajak yang tinggi atau bila perlu larang dengan keras.
ARTIKEL
Melayani Pelanggan Yang Kecewa
Pelanggan adalah setiap orang, unit atau pihak dengan siapa kita bertransaksi, baik langsung maupun tidak langsung dalam penyediaan produk. Pelanggan adalah siapa saja yang terkena dampak dari produk atau proses pelayanan internal dan pelanggan eksternal. Melayani adalah membantu menyiapkan ( mengurus) apa yang diperlukan seseorang, sedangkan pengertian pelayann adalah Usaha melayani kebutuhan orang lain ( Kamus Besar Bahasa Indonesia,1995) Betapapun kerasnya usaha yang kita lakukan, suatu kali akan menemukan pelanggan yang kecewa atas pelayanan yang kita berikan. Seseorang yang kecewa dan melepiaskan kekecewaannya biasanya dia masih rasional dan wajar, tetapi orang sulit mempunyai kebutuhan psikologis untuk mendapatkan perhatian dengan cara- cara yang negatif dan merusak, mereka sangat sulit diajak berkomunikasi lebih ambil posisi diam. Melayani pelanggan yang kecewa oleh pelayanan sebagai penyedia produk / institusi sangat berdampak buruk bagi institusi tersebut bila tidak ditangani segera apa yang dibutuhkan oleh pelanggan tidak menunggu besok atau pun minggu depan , pelanggan inggin dilakukan ditanggapi sesegera mungkin , sekarang juga maka tunjukanlah bahwa penuh perhatian dengan cara bertindak cepat. Pelanggan diperlakukan dengan serius dan pelanggan menginginkan ditangani secara profesional, percaya diri serta menanggapi masalahnya dengan serius tidak dibawa dengan tanggapan seperti contoh : maaf saya lagi bergurau, bahasa seperti ini sangat tidak disenangi pelanggan. Seseorang yang kecewa mengharapkan dirinya dan masalahnya diperlakukan dengan penuh hormat oleh orang lain, walaupun hal ini sulit dilakukan bila pelanggan jelas- jelas bersalah tetapi berusaha menyalahkan pihak pemberi pelayanan. Dalam kondisi kecewa pelanggan inggin agar seseorang bersedia melakukan kompensasi atau restitusi seperti bersedia mambayar ganti rugi atas apa yang telah terjadi, mungkin untuk waktunya, kesesalannya, atau kekecewaannya. Yakinkan pelanggan bahwa tindakan yang benar akan dilakukan dengan menegur seseorang yang sudah melakukan membuat pelanggan kecewa bila tidakan itu membuat orang lain tidak puas. Adakalanya pelanggan inggin tahu bahwa beberapa tindakan telah dilakukan perbaikan, sehingga tak seorang pun akan menghadapai masalah seperti yang dialaminya dan yakinkan pelanggan bahwa anda akan menyampaikan masalah itu kepada yang berkompeten. Yang pertama – tama yang diingikan pelanggan kecewa adalah segala sesuatu apa yang menbuat kecewa yaitu “didengarkan” apa yang disampaikan, kadang- kadang kita sulit untuk berlama- lama mendengarkan apa yang disampaikan terlebih berkaitan dengan diri kita sebagai pemberi pelayanan. Menurut (Dr. Lyman K Steil) Pemberi pelayanan harus mampu menjadi pendengar yang efektif. beberapa kebiasaan yang kita latih : Jangan mencela pembicaraan dan cara penyampaiannya tetapi apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh pembicara. Hanya mendengarkan Fakta dan bukan pada apa yang dirasa seperti pelanggan mungkin tidak mengatakan kalau dirinya lagi kecewa, tetapi nada suaranya sangat keras, tidak begitu jelas, tersengal- sengal. Dengarkan dengan seksama isyarat emosi dan juga fakta yang ditunjukanya. Menulis atau membuat catatan ringkas tentang hal- hal penting apa yang disampaikan oleh pelanggan maupun si pemberi pelayanan yang berkaitan semua yang dikatakan agar tidak menimbulkan permasalahaan dilain waktu bila suatu saat anda lupa apa- apa yang telah dikatakan dan didengarkan. Berikan perhatian penuh saat anda sedang membantunya, jangan memberikan perhatian yang dibuat- buat karena pelanggan akan tau dan merasakan kalau tidak lagi diperhatikan akan mendambah kekecewaan. Saat berbicara dengan pelanggan yang sedang kecewa lihatlah padanya dan tataplah matanya agar dia merasa didengarkan dan diperhatikan Gunakan kata- kata yang lembut dan menunjukan empati karena ucapan lisan bernada lembut membuat pelanggan tahu bahwa bisa mengerti mengapa ia menjadi kecewa dan terakhir gunakan komunikasi empati seperti :Saya bisa mengerti mengapa anda merasa demikian, Saya hargai apa yang anda katakan atau Saya mohon maaf atas segala hal yang menggangu anda Kesimpulan Para pelanggan yang kecewa mungkin menginginkan tanggapan, keinginan yang bermacam- macam tetepi prinsipnya mereka mau dipelakukan dengan serius, diperlakukan dengan penuh hormat, memproleh tindak lanjut segera, mendapatkan kompensasi dan mendapatkan keadilan serta didengarkan/ diperhatikan dengan komunikasi yang lembut dan empati. Daftar Pustaka - Atep Adya Brata, “ Dasar- dasar pelayanan Prima “,Elex Media Komputinda, Jakarta 2006 - Rahmayanty, Nina, “Manajemen Pelayanan Prima” Graha Ilmu, Yokyakarta, 2014 - Sotopo, dan Suryanto Adi, “ Pelayanan Prima” Modul Diklat prajab. Gol.III, LAN RI Jakarta, Edisi III 2009.
ARTIKEL
Manfaat baik buah Delima
Buah delima dalam bahasa latin disebut Punica Granatum atau dalam bahasan perancis Pomegranate. Buah ini tidak hanya tumbuh di tanah Indonesia tetapi juga di daratan Asia dan daratan Mediterania. Delima merupakan sumber dari asam ellagic (yang terdiri dari granatin B dan punicalagin), anti oksidan, asam punicic, omega 5 asam lemak tak jenuh ganda yang sangat bermanfaat untuk regenerasi sel dan proliferasi, selain itu delima merah juga merupakan sumber Vitamin A, C dan E dan mineral seperti kalsium, fosfor, potasium, zat besi, asam folat, niasin, thiamin, riboflavin dan folat. Begitu banyaknya kandungan yang terdapat pada buah delima namun apakah manfaat baik yang bisa kita dapatkan dari buah delima tersebut, berikut beberapa manfaat baik buah delima: 1. Regenerasi sel Pomegranate melindungi dan menguatkan sel kulit, bahkan sampai ke lapisan terdalam. Baik buah dan minyaknya sama-sama memberikan stimulasi untuk regenerasi sel kulit. 2. Produksi kolagen Kolagen adalah bagian dasar kulit yang sangat penting mengatur bentuk, kelembutan, dan kehalusan kulit. Kandungan dalam pome membuat fibroblasts (sel yang memproduksi kolagen) berkembang dengan baik. 3. Melindungi dari kerusakaan akibat UV Pome menawarkan perlindungan serius akan kerusakaan karena sinar UV. Antioksidannya secara unik langsung melindungi kulit begitu diterpa sinar matahari. 4. Anti aging Manfaat yang satu ini mungkin mengalahkan obat atau perawatan anti aging bernilai jutaan rupiah. Sebab secara alami antioksidan dalam pome dapat melawan dan memperbaiki secara bersamaan kerusakaan akibat radikal bebas, sinar uv, hingga faktor lingkungan lain. 5. Melembabkan kulit Pomegranate juga mempunyai kandungan asam punicic, dan asam lemak omega 5 yang secara otomatis menolong kulit tetap lembab, dan menangkal bakteria. 6. Mencegah rambut rontok Delima dapat membatu memperkuat folikel rambut yang pada gilirannya mencegah rambut rontok, sehingga menjadikan rambut sehat berkilau 7. Menyembuhkan diare Buah delima dapat mengusir penyakit diare dan luka pada usus, hal ini dikarenakan buah delima memiliki zat tanin yang dapat menyembuhkan luka khususnya pada saluran pencernaan. 8. Mengurangi resiko penyakit alzheimer Buah delima dapat mengurangi resiko penyakit alzheimer, dalam sebuah studi terhadap tikus yang sudah dibiakkan penyakit Alzheimer, tikus yang diberi asupan buah delima mempunyai kecenderungan memiliki tugas-tugas mental yang lebih baik daripada tikus yang tidak diberi asupan buah delima. Oleh karenanya, buah ini pun dianggap buah yang baik untuk membantu perkembangan otak bayi bagi ibu yang sedang hamil dan menyusui. 9. Mencegah penyakit asam urat Zat kalium dalam buah delima mampu mencegah penyakit asam urat (gout) serta mencegah penumpukan plak pada saluran arteri dan menjaga fungsi jantung dengan baik. 10. Melawan virus dan infeksi Buah delima banyak mengandung zat antioksidan yang dapat melawan virus dan infeksi pada tubuh. 11. Menghilangkan plak dalam tubuh Buah delima dianggap sebagai buah yang memilik unsur detoks, karena kandungan zat yang ada dalam buah delima ini dapat membersihkan plak dan zat-zat yang tidak berguna bagi tubuh, maka buah delima ini pun mampu menghilangkan plak pada gigi, juga membantu mencegah penyumbatan pada saluran-saluran penting dari tubuh termasuk menurunkan kolesterol. 12. Menaikkan Hemaeglobin Buah delima juga di lain sisi mampu untuk menaikkan hemaeglobin dalam darah karena kandungan zat besi yang tinggi, oleh karenanya penderita anemia dianjurkan untuk banyak mengkonsumsi buah ini. 13. Menstabilkan tekanan darah Di lain sisi, karena buah ini sangat baik untuk mencuci darah kotor dan membersihkan plak-plak dalam saluran darah, maka buah ini pun mampu untuk menstabilkan tekanan darah bagi penderita hipertensi. 14. Alat kontrasepsi Buah ini juga dapat menjadi alat kontrasepsi bagi pasangan yang menunda kehamilan. Dalam penelitian terhadap tikus, tikus-tikus yang diberi makanan buah delima menjadi tidak subur apabila bersatu dengan pasangannya dan setelah 4 bulan berturut-turut tidak mengkonsumsi buah delima, maka tikus tersebut kembali subur. Jadi bagi pasangan yang ingin memiliki anak, sebaiknya tidak perlu terlalu banyak menkonsumsi delima ini. Hanya apabila sudah positif hamil maka konsumsi buah delima ini dianjurkan untuk membantu perkembangan otak dari si janin. 15. Melawan penyakit kanker dan diabetes Satu hal penting manfaat buah delima ini adalah melawan penyakit kanker dan diabetes. Berdasarkan penelitian National Institutes of Health dan clinical trials yang dilakukan atas konsumsi pomegranate ini, ditemukan bahwa buah ini mampu mengurangi kanker prostat dan penyakit diabetes. 16. Manfaat bagi jantung Jus buah delima merah memiliki dampak besar bagi kesehatan jantung karena kandungan punicalagin mampu menjaga arteri tetap fleksibel dan mengurangi peradangan pada lapisan pembuluh darah. 17. Baik untuk perawatan prenatal Jus delima merah sangat baik untuk ibu hamil, sejumlah vitamin dan mineral termasuk asam float yang merupakan elemen penting dari diet prenatal properti anti – inflamasi jus delima memastikan aliran darah yang sehat yang penting untuk pengembangan keseluruhan janin kandungan kalium dalam jus ini juga dapat membantu mencegah kram kaki yang umumnya terkait dengan kehamilan. Demikian manfaaat yang dapat kita ambil dari buah delima, semoga bermanfaat untuk kita semua. Dikutip dari berbagai sumber.
Langkah -Langkah dan Indikator Keberhasilan Pemberdayaan Masyarakat
Persiapan Menyusun desain rancangan pembentukan motivator pemberdayaan masyarakat berbasis partisipatif dan instumen evaluasi. Mencari data dan fakta awal tentang kondisi masyarakat Persamaan persepsi dengan instansi terkait, fasilitator, dan pendamping Pelaksanaan Ice breaker, bina suasana, membangun komitmen dan kesadaran. Membuat kontrak belajar. Simulasi Teknik-teknik PRA (membuat peta sosial, yang memuat peta potensi dan peta masalah; pengorganisasian masalah dan potensi; relasi serta aktivitas masyarakat). Simulasi teknik-teknik Participatory Assessment Planning (identifikasi masalah sosial; identifikasi lingkungan internal dan eksternal; klasifikasi kelemahan, kekuatan, peluang; Menentukan Prioritas Masalah; Menentukan hubungan sebab akibat; analisis kontingensianalisis internal eksternal; dan penentuan program jangka pendek, menengah dan panjang); serta pembuatan pola jaringan/ kemitraan. Action Plan Matrix (nama program, tujuan, sasaran, tahapan kegiatan, jadual, sumber dana & pendanaan, indikator keberhasilan) Simulasi studi banding. Penyusunan Laporan Penyusunan laporan dilakukan sebagai upaya untuk bahan evaluasi bagi perbaikan dimasa mendatang. Laporan juga merupakan media yang sangat efektif bagi upaya pemasaran sosial tentang keberadaan proses pemberdayaan masyarakat. Seminar hasil analisis. Pendampingan yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan. Sedangkan indikator keberhasilan dari proses pemberdayaan masyarakat yaitu : Terbentuknya para motivator yang memahami, mempunyai afeksi, dan terampil dalam pemberdayaan masyarakat lokal. Tertransformasinya kesadaran, komitmen, kemauan, pengetahuan, keterampilan dan afeksi motivator terhadap para pejabat di lingkungan pemerintahan kecamatan/ dan desa/ dan kelurahan maupun para tokoh pembangunan masyarakat sekitar. Tergerakkan/ termobilisasinya komunitas lokal untuk berpartisipasi dalam pembangunan masyarakat luas sesuai dengan data, fakta lapangan dan analisis kebutuhan lokal di lapangan.
ARTIKEL
Upaya Penyehatan Lingkungan Dan Sanitasi Makanan Ibadah Haji
Setiap bulan Dzulhijjah milyaran umat muslim di dunia terpusatkan perhatiannya pada ibadah haji di Arab Saudi. Ibadah haji merupakan rukun islam yang ke 5 (lima) dan untuk melaksanakan ibadah ini merupakan dampakan dan cita-cita setiap muslim di dunia, tak terkecuali di negara kita Indonesia. Dengan jumlah populasi muslim terbanyak seduania, menjadikan penyelenggaraan ibadah haji di Arab Saudi di dominasi oleh jamaah haji dari Indonesia. Tak heran karena Indonesia merupakan Negara terbesar penerima kuota jamaah haji setiap tahunnya. Penyelenggaraan Haji setiap tahunnya menjadi hajat besar bagi Pemerintah Indonesia. Pemerintah mempunyai tugas melindungi jamaah haji Indonesia dari mulai keberangkatan, pelaksanaan sampai dengan kepulangan kembali ke tanah air. Segala cara dikerahkan pemerintah untuk menjamin keselamatan, kesehatan dan kenyamanan jamaah Indonesia selama menjalankan ibadah suci, ibadah haji. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah dalam menjamin keselamatan, kesehatan dan kenyamanan jamaah Haji Indonesia, khususnya yang berkenaan dengan kesehatan adalah melakukan penyelenggaraan kesehatan haji. Penyelenggaraan Kesehatan Haji adalah rangkaian kegiatan pelayanan kesehatan haji meliputi pemeriksaan kesehatan, bimbingan dan penyuluhan kesehatan kesehatan haji, pelayanan kesehatan, imunisasi, surveilans, Penanggulangan KLB dan musibah massal, kesehatan lingkungan dan manajemen penyelenggaraan kesehatan haji. Pedoman penyelenggaraan kesehatan haji tersebut secara lengkap tertuang dalam Kepmenkes RI No. 442/Menkes/SK/VI/2009 tentang Pedoman Penyelenggaraan Kesehatan Haji Indonesia. Penyelenggaraan kesehatan haji tidak hanya dalam bentuk kuratif dan rehabilitatif, tetapi pelayanan promotif dan preventif pun tak kalah pentingnya guna mencegah dan meminimalisir berbagai kasus kesehatan selama ibadah haji. Salah satu upaya preventif dalam penyelengaaraan kesehatan haji adalah upaya Sanitasi Ibadah Haji. Salah satu titik fokus dari Upaya Sanitasi Ibadah haji adalah pada upaya Penyehatan Lingkungan dan Sanitasi Makanan. Penyehatan Lingkungan dan Sanitasi Makanan merupakan kegiatan pemeriksaan, pemantauan, kajian, rekomendasi antisipasi, kewaspadaan dan tindakan penaggulangan serta kerjasamaberbagai pihak dalam sanitasi makanan, penyehatan lingkungan asrama/pondokan, transportasi, restoran, dan tempat-tempat pelayanan agar jamaah haji dan petugas bebas dari ancaman terjadinya KLB keracunan dan penyakit menular, atau gangguan kesehatan lainnya. Upaya ini dilakukan selama proses ibadah haji, dari mulai keberangkatan sampai dengan kepulangan jamaah. Dibawah ini akan diuraikan secara garis besar tentang sasaran kegiatan Penyehatan Lingkungan dan dan Sanitasi Makanan pada penyelenggaraan ibadah haji, mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 442/MENKES/SK/VI/2009 sebagai berikut : a. Penyehatan Lingkungan dan dan Sanitasi Makanan di tanah air. Sasaran kegiatan adalah Asrama haji transit, asrama haji embarkasi/debarkasi, dan jasa boga haji. Terdapat dua kegiatan selama tahap ini yaitu Pemeriksaan dan Penilaian Awal, serta kegiatan selama operasional. Obyek pemeriksaan dan penilaian awal asrama meliputi umum, ruang bangunan, kamar tidur jamaah, penyediaan air bersih, dapur, pengelolaan limbah, dan pengendalian vektor. Pemeriksaan dan penilaian asrama berdasarkan pada standard asrama, standar kualitas udara dan pencahayaan di sarama, standar kepadatan ruang tidur, tempat sampah, dan lainnya sesuai standar yang berlaku Sedangkan kegiatan selama operasional antara lain : Melakukan pemamantauan kesehatan lingkungan Penyuluhan kesehatan lingkungan dan personal hygiene Pembinaan dan pengawasan hygiene dan sanitasi rumah makan dan jasa boga yang menyediakan makanan dan minuman bagi jamaah haji baik sebelum berangkat, dalam perjalanan, maupun setelah tiba dan selama di Arab Saudi Pengambilan sampel makanan dan minuman Pengendalian vektor b. Penyehatan Lingkungan dan dan Sanitasi Makanan di pesawat/kapal,meliputi pemeriksaan fisik kebersihan lingkungan, pengendalian vektor, serta pengawasan hygiene sanitasi makanan. c. Penyehatan Lingkungan dan dan Sanitasi Makanan selama operasional di Saudi Arabia. Sasaran kegiatan pada tahap ini adalah pondokan jamaah haji, pondokan petugas haji, lingkungan kantor daerah kerja dan sektor di Jeddah, Makkah, dan Madinah, lingkungan BPHI daerah kerja dan BPHI Sektor, catering Air Port Jeddah dan Madinah dan catering jamaah hajidan petugas haji di Daker Jeddah, Makkah dan Madinah. Pada poin c tersebut, terdapat dua kegiatan, yaitu tahap persiapan dan tahap selama operasional. Pada tahap persiapan, kegiatan yang dilakukan antara lain meliputi Penetapan standar dan pemeriksaan serta penilaian awal terhadap pondokan dan jasa boga. Sedangkan kegiatan selama operasional haji antara lain meliputi : Melaksanakan pemeriksaan dan pemantauan kesehatan lingkungan kantor, pondokan Penyluhuan kesehatan lingkungan dan personal hygiene Pembinaan dan pengawasan hygiene dan sanitasi jasa boga dan restoran yang terkait baik sebelum maupun selama di Arab Saudi Pengambilan sampel makanan dan minuman Pengendalian vektor Diharapkan dengan upaya tersebut dapat mencegah dan meminimalisir berbagai kasus kesehatan selama penyelenggaraan ibadah haji, khusunya yang berkaitan dengan penyehatan lingkungan dan sanitasi makanan. Sumber : 1. http://www.indonesian-publichealth.com/2012/12/surveilans-haji.html, 2. http://inspeksisanitasi.blogspot.com/2010/03/sanitasi-haji.html#sthash.RYQ4iMhI.dpuf 3. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 442/MENKES/SK/VI/2009
ARTIKEL
Rujukan Dan Transportasi Maternal Neonatal
A.PENDAHULUAN Rujukan dan trasportasi merupakan kegiatan mencari tatanan layanan yang lebih tinggi dan lengkap dalam upaya mendapatkan tindakan yang dapat menyelamatkan ibu dan bayi. Rujukan dapat berupa rujukan alat, obat, sarana atau ahli. Sumber daya di bidang kesehatan adalah segala bentuk dana, tenaga, perbekalan kesehatan, kesediaan farmasi dan alat kesehatan serta fasilitas pelayanan kesehatan dan teknologi yang dimanfaatkan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yang dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat. Fasilitas Pelayanan Kesehatan adalah sistem pelayanan yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif , kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh Rumah Sakit dan Puskesmas . Sistem Pelayanan Kesehatan adalah suatu tatanan yang menghimpun berbagai upaya bangsa Indonesia secara terpadu, berkesinambungan dan saling mendukung guna menjamin terlaksananya suatu sistem dengan baik. Rujukan adalah upaya pelimpahan wewenang dan tanggungjawab penanganan kasus penyakit dan atau masalah kesehatan kepada dokter lain yang sesuai Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo mendefinisikan sistem rujukan sebagai suatu sistem penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang melaksanakan pelimpahan tanggung jawab timbal balik terhadap satu kasus penyakit atau masalah kesehatan secara vertikal (dari unit yang lebih mampu menangani), atau secara horizontal (antar unit-unit yang setingkat kemampuannya). B. JENIS KASUS YANG PERLU DIRUJUK Jenis kasus yang perlu dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap fasilitas dan keterampilan penanganan adalah kasus sebagai berikut: Gangguan napas sedang dan berat, apapun penyebabnya Asfiksia yang tidak memberi respons pada tindakan resusitasi, sebaiknya dalam 10 menit pertama Kasus bedah neonatus BBLR < 1750 g BBLR 1750 - 2000 g dengan kejang, gangguan napas, gangguan pemberian minum Bayi hipotermi berat Ikterus yang tidak memberikan respons dengan fototerapi Kemungkinan penyakit jantung bawaan Bayi ibu diabetes mellitus dengan hipoglikemia simtomatik Kejang yang tidak teratasi Tersangka infeksi (sepsis, meningitis) berat / dengan komplikasi Penyakit hemolisis Tersangka renjatan yang tidak memberi respons baik Hipoglikemia yang tidak dapat teratasi C. SISTEM RUJUKAN Rujukan adalah upaya pelimpahan wewenang dan tanggungjawab penanganan kasus penyakit dan atau masalah kesehatan kepada dokter lain yang sesuai Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo mendefinisikan sistem rujukan sebagai suatu sistem penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang melaksanakan pelimpahan tanggung jawab timbal balik terhadap satu kasus penyakit atau masalah kesehatan secara vertikal (dari unit yang lebih mampu menangani), atau secara horizontal (antar unit-unit yang setingkat kemampuannya). Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No. 03l/Birhup/72: Definisi Sistem Rujukan adalah: Sistem didalam pelayanan kesehatan dimana terjadi pelimpahan tanggung jawab timbal balik atas kasus atau masalah kesehatan yang timbul baik secara vertikal maupun horizontal. Dalam sistem kesehatan nasional untuk mendukung pelayanan kesehatan nasional di Indonesia sistem rujukan dibagi atas: Sistem rujukan kesehatan dan rujukan medis. Maksud Rujukan Kesehatan adalah : Rujukan yang terutama meliputi pencegahan dan peningkatan kesehatan. Pada dasarnya rujukan kesehatan di laksanakan secara bertahap, dari tingkat bawah yaitu masyarakat melalui Puskesmas kecamatan terus ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan terus ke provinsi, misalnya keadaan ini adalah wabah. Rujukan medis yang terutama dapat diupayakan pelayanan kesehatan untuk meningkatkan pemulihan dan pengobatan. Rujukan obstetric Perencanaan rujukan 1) Komunikasikan rencana rujukan dengan ibu dan keluarganya karena rujukan harus mendapatkan persetujuan dari ibu dan atau keluarganya. Tenaga kesehatan perlu memberikan kesempatan apabila situasi memungkinkan untuk menjawab pertimbangan dan pertanyaan ibu serta keluarga. Beberapa hal yang perlu disampaikan meliputi: Diagnose dan tidakan medis yang diperlukan Alas an untuk merujuk ibu Risiko yang dapat timbul bila rujukan tidak dilakukan Risiko yang dapat timbul selama rujukan dilakukan Waktu yang tepat untuk merujuk dan durasi yang dibutuhkan untuk merujuk Tujuan rujukan Modalitas dan cara transportasi yang digunakan Nama tenaga kesehatan yang akan menemani ibu Jam operasional dan nomer telepon rumah sakit/pusat layanan kesehatan yang dituju Perkiraan lamanya waktu perawatan Perkiraan biaya dan system pembiayaan (termasuk dokumen kelengkapan untuk bpjs). Petunjuk arah dan cara menuju tujuan dengan menggunakan modalitas transportasi lain Pilihan akomodasi untuk keluarga 2) Hubungi pusat layanan kesehatan yang menjadi tujuan dan sampaikkan kepada tenaga kesehatan yang akan menerima pasien hal – hal berikut: Indikasi rujukan Kondisi ibu dan janin Rencana terkait prosedur tehnis rujukan (termasuk kondisi lingkungan dan cuaca menuju tujuan rujukan) Kesiapan sarana dan prasarana di tujuan rujukan Penatalaksanaan yang sebaiknya dilakukan selama dan sebelum transportasi berdasarkan pengalaman rujukan sebelumnya. 3) Hal yang perlu dicatat oleh pusat layanan kesehatan yang akan menerima pasien adalah : Nama pasien Nama tenaga kesehatan yang merujuk Indikasi rujukan Kondisi ibu dan janin Penatalaksanaan yang telah dilakukan sebelumnya Nama dan profesi tenaga kesehatan yang mendampingi pasien. 4) Saat berkomunikasi lewat telpon, pastikan hal – hal tersebut telah dicatat dan diketahui oleh tenaga kesehatan di puast layanan kesehatan yang akan menerima pasien. 5) Lengkapi dan kirimlah berkas (secara langsung ataupun melakui faksimili) sesegera mungkin: Formulir rujukan pasien (minimal berisi identitas ibu, hasil pemeriksaan, diagnose kerja, terapi yang telah diberikan, tujuan rujukan, serta nama dan tanda tangan tenaga kesehatan yang member pelayanan) Fotokopi rekam medis kunjungan antenatal Fotokopi rekam medis yang berkaitan dengan kondisi saat ini Hasil pemeriksaan penunjang Berkas – berkas yang lain untuk pembiayaan menggunakan jaminan kesehatan. 6) Pastikan ibu yang dirujuk telah menggunakan gelang identifikasi 7) Bila terdapat indikasi pasien dapat dipasang jalur intravena dengan kanul berukuran 16 atau 18. 8) Mulai penatalaksanaan dan pemberian obat – obatan sesuai indikasi segera setelah berdiskusi dengan tenaga kesehatan di tujuan rujukan. Semua resusitasi, penannganan kegawatdaruratan dilakukan sebelum memeindahkan pasien. 9) Periksa kelengkapan alat dan perlengkapan yang akan digunakan untuk merujuk dengan mempertimbangkan juga kemungkinan yang dapat terjadi selama transportasi. 10) Selalusiap sedia untukkemungkinan terburuk 11) Nilai kembali kondisi pasien sebelum merujuk, meliputi: Kedaan umum pasien Tanda vital ( nadi, tekanan darah, suhu, pernafasan) Denyut jantung janin Presentasi Dilatasi serviks Letak janin Kondisi ketuban Kontraksi uterus : kekuatan, frekuensi dan durasi. 12) Catat dengan jelas semua hasil pemeriksaan berikut nama tenaga kesehatan dan jam pemeriksaan terakhir. Perlengkapan rujukan: Perlengkapan dan modalitas secara spesifik dibutuhkan untuk melakukan rujukan tepat waktu (kegawatdaruratan obstetric). Pada dasarnya perlengkapan yang digunakan untuk proses rujukan ibu sebaiknya memiliki criteria: Akurat Ringan, kecil dan mudah dibawa Berkualitas dan berfungsi baik Permukaan kasar uintu menahan gerakan akibat percepatan dan getaran Dapat diandalkan dalam keadaan cuaca ekstrim yanpa kehilangan akurasinya Bertahan dengan baik dalam perubahan tekanan jika digunakan dalam pesawat terbang Mempunyai sumber listrik sendiri (baterai) tanpa mengganggu sumber listrik kendaraan. Tersedia perlengkapan umum Formulir rujukan ibu (diisi lengkap, siapkan juga cadangan) Tandu (stretcher) Stetoskop Termometer Baskom muntah Lampu senter Sfignomanometer (digital lebih baik) Doppler (bila tidak ada, gunakan stetoskop janin) Infusion pump (tenaga baterai) Sarung tangan steril (3 pasang, berbagai ukuran) Pembalut wanita, diutamakan pembalut khusus pascasalin Lubrikan steril Larutan antiseptic Tersedia cairan dan obat – obatan 1000 ml 5% D/W 1000 ml Ringer Laktat 1000 ml NaCl 0,9% / Asering Cairan koloid Soluset atau buret Plester Torniket Masing-masing sepasang kanul intravena ukuran 16, 18, dan 20 Butterfly (kanula IV tipe kupu-kupu) ukuran 21 Spuit dan jarum Swab alkohol MgSO4 1 g/ampul Ca glukonas Oksitosin 10 unit/ml Ergometrin 0,2 mg/ml 2 ampul diazepam 10 mg/ampul Tablet nifedipin 10 mg Lidokain 2% Epinefrin Sulfas atropine Diazepam Cairan dan obat-obatan lain sesuai kasus yang dirujuk Perlengkapan persalinan steril Sarung tangan steril/DTT 1 buah gunting episiotomi 1 buah gunting tali pusat 1 buah pengisap lendir DeLee atau suction mekanis dengan kateter berukuran 10 Fr 2 buah klem tali pusat Benang tali pusat steril/DTT atau penjepit tali pusat 2 buah kantong plastik 6 buah kasa steril/DTT 4x4 1 lembar duk steril/kain bersih Selimut bayi (2 buah) Selimut ibu Perlengkapan resusitasi bayi Laringoskop bayi dengan blade ukuran 0 dan 1 Self inflating bag dan sungkup oksigen untuk bayi, berukuran 0,1, dan 2 Pipa endotrakeal dengan stylet dan konektor, berukuran 2,5 sampai 4 3 buah ampul epinefrin 1:10.000 1 ml/ampul Spuit 1 ml dan 2 ml Jarum ukuran 20 dan 25 Pipa orogastrik Gunting dan plester Tabung oksigen kecil lengkap Perlengkapan resusitasi dewasa Pastikan tenaga kesehatan mampu menggunakan alat-alat di bawah ini: Tabung oksigen lengkap Self inflating bag dan sungkup oksigen Airway nomor 3 Laringoskop dan blade untuk dewasa Pipa endotrakeal 7-7,5 mm Suction dan kateter ukuran 14 Fr Kendaraan yang dipakai untuk merujuk ibu dalam rujukan tepat waktu harus disesuaikan dengan medan dan kondisi lingkungan menuju tujuan rujukan. Rujukan Neonatal Rujukan yang dilakukan dalam kondisi optimal dan tepat waktu ke fasilitas kesehatan rujukan atau yang memiliki sarana lebih lengkap diharapkan mampu menyelamatkan jiwa para ibu dan bayi baru lahir. Perhatikan regionalisasi Rujukan Perinatal dalam menentukan tujuan rujukan, sehingga dapat merujuk dengan cepat, aman dan benar Puskesmas merupakan penyaring kasus risiko yang perlu dirujuk sesuai dengan besaran risiko, jarak dan faktor lainnya Memberi informasi kesehatan dan prognosis bayinya dan melibatkan orangtua atau keluarga dalam mengambil keputusan untuk merujuk Melengkapi syarat- syarat rujukan (persetujuan tindakan, surat rujukan, catatan medis). Untuk kasus tertentu kadang diperlukan sampel darah ibu. Merujuk bayi dalam keadaan stabil, menjaga kehangatan bayi dan ruangan dalam kendaraan yang digunakan untuk merujuk, dan menjaga jalan napas tetap bersih dan terbuka selama transportasi. Bila memungkinkan bayi tetap diberi ASI. Harus disertai dengan tenaga yang terampil melakukan Resusitasi D.DATA YANG HARUS DISEDIAKAN Data dasar yang harus diinformasikan: Identitas bayi dan tanggal lahir Identitas orang tua Riwayat kehamilan, persalinan dan prosesnya, tindakan resusitasi yang dilakukan. Obat yang dikonsumsi oleh ibu Nilai Apgar (tidak selalu harus diinformasikan, bila tidak tersedia waktu karena melakukan tindakan resusitasi aktif) Masa Gestasi dan berat lahir. Tanda vital (suhu, frekuensi jantung, pernapasan, warna kulit dan aktif/tidak nya bayi) Tindakan/prosedur klinik dan terapi lain yang sudah diberikan Bila tersedia data pemeriksaan penunjang yang ada (glukosa, elektrolit, dan lain-lain) E.SYARAT UNTUK MELAKUKAN TRANSPORTASI Bayi dalam keadaan stabil Bayi harus dalam keadaan hangat Kendaraan pengangkut juga harus dalam keadaan hangat Didampingi oleh tenaga kesehatan yang trampil melakukan tindakan resusitasi, minimal ventilasi Tersedia peralatan dan obat yang dibutuhkan Bayi dalam keadaan stabil, bila: Jalan napas bebas dan ventilasi adekuat. Kulit dan bibir kemerahan Frekuensi jantung 120-160 kali/menit Suhu aksiler 36.5-37 oC (97.7-98.6 oF) Masalah metabolik terkoreksi Masalah spesifik penderita sudah dilakukan manajemen awal Peralatan dan Obat yang diperlukan : Idealnya bayi dirujuk dengan menggunakan inkubator transpot dan dipasang monitor. Berhubung alat tersebut sangat jarang tersedia di Puskesmas, maka perhatikan cara menghangatkan bayi Peralatan dan obat-obatan minimal yang harus tersedia: Alat resusitasi lengkap, termasuk laringoskop dan pipa endotrakeal Obat –obatan emergensi Selimut penghangat Alat untuk melakukan pemasangan jalur intra vena Oksigen dalam tabung Alat Resusitasi /bantuan ventilasi: selama transportasi Indikasi bantuan ventilasi bila ada salah satu keadaan berikut: Bradikardi (FJ < 100 x/menit) Sianosis sentral dengan oksigen 100% Apnea periodik Pemberian Oksigen (Terapi Oksigen) Indikasi pemberian oksigen Bayi mengalami sianosis sentral (warna kebiruan di sekitar bibir) dan akral (warna kebiruan di kuku, tangan dan kaki). Bayi dengan gangguan napas Pemberian oksigen membutuhkan pengawasan (konsentrasi, kelembaban dan suhu) Jumlah Oksigen yang diberikan: Melalui kateter nasal 2-3 l/menit (konsentrasi 21%). Melalui sungkup 4-5 l/ menit (konsentrasi 40%) Melalui head box 6-8 l/ menit (konsentrasi > 50%) Kecukupan kebutuhan oksigen terlihat dari hilangnya sianosis sentral. Penilaian Oksigenisasi Keberhasilan oksigenasi selama transportasi dinilai dari perubahan perbaikan klinis, sebagai berikut: Perubahan warna kulit menjadi kemerahan Denyut jantung bertambah baik Kadang kadang bisa mulai timbul napas spontan Pengawasan Suhu Pengawasan suhu dan menjaga kehangatan bayi selama transportasi menjadi suatu keharusan Suhu normal: Ketiak 36.5-37.5 oC (97.7-98.6 oF) Cara menghangatkan bayi : Membungkus atau menyelimuti bayi dengan kain yang kering, hangat dan tebal Membungkus kepala bayi atau memakai topi/tutup kepala Jangan meletakkan bayi ditepi jendela atau pintu kendaraan pengangkut Kalau memungkinkan dapat pula dilakukan Perawatan Bayi Melekat (Kangaroo Mother Care) RANGKUMAN Rujukan sebaiknya dilakukan dalam kondisi optimal dan tepat waktu ke fasilitas kesehatan rujukan atau yang memiliki sarana lebih lengkap diharapkan mampu menyelamatkan jiwa para ibu dan bayi baru lahir. Dalam melaksanakan rujukan dilakukan sesuai kasus yang memerlukan rujukan dan mengikuti syarat rujukan supaya penangnan kasus efektif dan tepat waktu.Untuk memudahkan dan meminimalkan resiko dalam per jalanan rujukan, keperluan untuk merujuk ibu dapat diringkas menjadi BAKSOKU/ BAKSOKUDA (Bidan, Alat, Keluarga, Surat, Obat, Kendaraan, dan Uang/ Donor Darah) DAFTAR PUSTAKA WHO. Edukia, materi pembelajaran kesehatan ibu dan anak. www. Edukia.org. diunduh tanggal 5 September 2014 Kemenkes RI. Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. JNPKR, Buku Acuan Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Dasar, 2011 Kemenkumham., 2009., Undang – undang R.I. Nomor: 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan., SETNEG RI., Jakarta. Kemenkumham., 2009., Undang – undang R.I.Nomor: 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit, SETNEG RI., Jakarta. Kemenkes., 2011., Permenkes RI. Nomor: 1097/MENKES/PER/VI/2011 tentang petunjuk teknis pelayanan kesehatan dasar Jamkesmas.,Kemenkes RI.,Jakarta.
ARTIKEL
Pengaruh Pemanasan Global (Global Warming) Terhadap Kesehatan Reproduksi Perempuan
Beberapa waktu yang lalu muncul pemberitaan di berbagai media massa, baik media cetak maupun elektronik tentang peristiwa alam yang sering terjadi. Peristiwa alam itu terjadi hampir di seluruh wilayah tanah air kita, mulai dari badai topan, air laut pasang yang menyebabkan banjir di daerah-daerah yang dekat dengan pantai, curah hujan yang tinggi hingga menyebabkan banjir, angin puting beliung yang merobohkan rumah-rumah warga, dan masih banyak peristiwa-peristiwa alam lainnya yang menyebabkan sebagian besar warga merasa resah. Oleh karena itu, pemerintah menyebutnya sebagai bencana nasional dan juga merupakan bencana internasional, karena peristiwa tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia melainkan juga terjadi di mancanegara. Peristiwa-peristiwa alam tersebut diyakini sebagai dampak dari adanya pemanasan global (global warming) yang mengakibatkan perubahan iklim dunia. Global warming tidak saja berdampak pada perubahan iklim dan cuaca di negara di seluruh dunia, namun juga bisa secara khusus berdampak terhadap kesehatan masyarakat, termasuk di dalamnya kesehatan reproduksi manusia. Dampak terhadap kesehatan reproduksi berarti ancaman terhadap eksistensi manusia di muka bumi. Banyak pihak bisa melakukan berbagai upaya dan tindakan pencegahan pemanasan global mulai dari sekarang dan mulai dari hal-hal yang kecil. Upaya ini tentu tak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri atau orang per orang, namun harus merupakan suatu gerakan kolektif dan massif yang melibatkan banyak orang sebagai tindakan penyelamatan generasi yang akan datang. Apa itu pemanasan global Global Warming secara harfiah diterjemahkan sebagai pemanasan Global. Pada kenyataannya, pemanasan global merupakan peningkatan suhu bumi secara bertahap sebagai akibat dari peningkatan konsentrasi gas efek rumah kaca dalam lapisan luar atmosfir. Perubahan cuaca secara ekstrim terjadi akibat dampak pemanasan global yang lebih disebabkan faktor peningkatan emisi karbon akibat pembakaran bahan bakar fosil, menimbulkan kecenderungan terhadap efek gas rumah kaca. Kenapa hal itu bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi ,karena ketika bumi meradiasikan kembali energi yang diterimanya ke luar angkasa, sebagian dari energi matahari yang masuk ke bumi, terperangkap dalam permukaan bumi akibat terhalang oleh gas-gas dalam atmosfir seperti uap air dan karbon dioksida. jadi, Pemanasan global adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi. Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil. Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan. Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan. Berdasarkan beberapa data, kenaikan suhu bumi periode 1990-2005 antara 0.15-0.13ËšC, jika kondisi ini dibiarkan. Maka diprediksikan periode 2050-2070 suhu bumi akan naik pada kiraran 4,2 ËšC. Padahal Emil Salim, seorang pakar lingkungan pernah menegaskan jika suhu bumi naik 2ËšC saja maka bumi ini akan bubar. Sebagian besar masyarakat dunia, khususnya di Indonesia, tentu telah merasakan perubahan suhu dan cuaca yang terjadi sejak dua puluh tahun terakhir. Kekhawatiran terhadap perubahan iklim secara ekstrem telah disadari menjadi permasalahan penting yang harus segera dituntaskan oleh negara-negara di dunia. Perubahan cuaca secara ekstrim terjadi akibat dampak pemanasan global yang lebih disebabkan faktor peningkatan emisi karbon akibat pembakaran bahan bakar fosil, menimbulkan kecenderungan terhadap efek gas rumah kaca. Dampak pemanasan global terhadap kesehatan Para ilmuwan memprediksi ketika iklim di bumi menjadi sangat panas akan banyak orang meninggal karena gelombang panas. Selain itu, iklim yang panas ini membuat wabah penyakit yang biasa ditemukan di daerah tropis semakin meluas dan kemungkinan dapat berpindah tempat ke daerah yang dulunya dingin dan subtropis seperti Eropa dan Amerika. Global Warmingmemberi dampak pada berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk pada bidang kesehatan antara lain 1. Perubahan cuaca dan lautan dapat berupa peningkatan temperatur secara global (panas) yang dapat mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit yang berhubungan dengan panas (heat stroke) dan kematian, terutama pada orang tua, anak-anak dan penyakit kronis. Temperatur yang panas juga dapat menyebabkan gagal panen sehingga akan muncul kelaparan dan malnutrisi. Perubahan cuaca yang ekstrem dan peningkatan permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub utara dapat menyebabkan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan bencana alam (banjir, badai dan kebakaran) dan kematian akibat trauma. Timbulnya bencana alam biasanya disertai dengan perpindahan penduduk ke tempat-tempat pengungsian dimana sering muncul penyakit, seperti: diare, malnutrisi, defisiensi mikronutrien, trauma psikologis, penyakit kulit, dan lain-lain. 2. Pergeseran ekosistem dapat memberi dampak pada penyebaran penyakit melalui air (Waterborne diseases) maupun penyebaran penyakit melalui vektor (vector-borne diseases). Mengapa hal ini bisa terjadi? Kita ambil contoh meningkatnya kejadian Demam Berdarah. Nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor penyakit ini memiliki pola hidup dan berkembang biak pada daerah panas. Hal itulah yang menyebabkan penyakit ini banyak berkembang di daerah perkotaan yang panas dibandingkan dengan daerah pegunungan yang dingin. Namun dengan terjadinya Global Warming, dimana terjadi pemanasan secara global, maka daerah pegunungan pun mulai meningkat suhunya sehingga memberikan ruang (ekosistem) baru untuk nyamuk ini berkembang biak. 3. Degradasi Lingkungan yang disebabkan oleh pencemaran limbah pada sungai juga berkontribusi pada waterborne diseases dan vector-borne disease. Ditambah pula dengan polusi udara hasil emisi gas-gas pabrik yang tidak terkontrol selanjutnya akan berkontribusi terhadap penyakit-penyakit saluran pernafasan seperti asma, alergi, coccidiodomycosis, penyakit jantung dan paru kronis, dan lain-lain. Kesehatan Reproduksi Manusia Berdasarkan International Conference on Population and Development (ICPD) 1994, kesehatan reproduksi didefinisikan sebagai suatu keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial yang utuh yang tidak semata-mata terbebas dari penyakit atau kecacatan lainnya yang terkait dengan sistem reproduksi, fungsi, serta prosesnya. Terdapat 10 elemen kesehatan reproduksi yaitu: (1) pelayanan dan konseling, informasi, edukasi, dan komunikasi KB, (2) pelayanan prenatal, persalinan, dan postpartum yang aman, termasuk menyusui, (3) pencegahan dan pengobatan kemandulan, (4) pencegahan dan penanganan aborsi tidak aman, (5) pelayanan aborsi aman, bila tidak melanggar hukum, (6) pengobatan Infeksi Saluran Reproduksi, Infeksi Menular Seksual dan kondisi lain dalam sistem reproduksi, (7) informasi dan konseling mengenai seksualitas, (8) pencegahan secara aktif praktek-praktek berbahaya seperti sunat perempuan/mutilasi kelamin, (9) pelayanan rujukan untuk komplikasi KB, kehamilan, persalinan dan aborsi, kemandulan, ISR, IMS, dan HIV/AIDS, serta kanker kandungan, serta (10) fasilitas diagnosis dan pengobatan IMS seiring dengan meningkatnya penularan HIV. Berdasarkan defisini dan elemen kesehatan reproduksi yang telah dijelaskan di atas jelas bahwa kesehatan reproduksi merupakan bagian penting dari sistem pewarisan generasi. Dampak Langsung Pemanasan Global Terhadap Kesehatan Reproduksi Manusia Global Warming yang dicetuskan oleh ekses industrialisasi juga bisa meningkatkan curah hujan, khususnya hujan asam. Berdasarkan penelitian sebelumnya, hujan asam dapat meningkatkan risiko terjadinya kelahiran prematur dan kematian bayi baru lahir (neonatus). Demikian halnya tingginya karbonmonoksida dapat menyebabkan seseorang keracunan gas CO. Karbonmonoksida yang masuk ke dalam tubuh akan membentuk karboksihemoglobin (CO-Hb) dalam darah dan menyebabkan fungsi Hb untuk mengangkut oksigen ke seluruh jaringan tubuh terganggu. Akibat lebih lanjut adalah terjadi penurunan berat janin, berkurangnya intelegensi otak anak, dan peningkatan jumlah kematian bayi serta anak akibat infeksi saluran napas akut (ISPA) sebagai penyebab kematian bayi dan balita pertama di Indonesia. Emisi hidrokarbon yang terbentuk dari bermacam-macam sumber. Emisi HC ini akan menghasilkan karbondioksida dan beberapa senyawa, di antaranya mengandung Pb (timbal) bila menggunakan bahan bakar bensin atau S (sulfur) bila menggunakan bahan bakar solar. Hasil emisi HC tersebut telah terbukti dapat meningkatkan risiko terjadinya keganasan pada jaringan tubuh manusia misalnya leukemia (kanker darah) dan kanker organ lainnya, termasuk kanker organ reproduksi. Pemanasan global secara kasat mata pasti akan menambah stressor fisik bagi manusia modern yang kini mendiami muka bumi ini. Hasil penelitian telah menunjukkan bahwa sinyal stress dari seorang ibu dapat mempengaruhi sensitivitas ekspresi gen-gen yang menyusun manusia itu sendiri. Bukti terkini menunjukkan bahwa beberapa zat kimia juga dapat mempengaruhi sistem kendali dan profil genetik manusia seperti pada kasus terjadinya penyakit testicular dysgenesis syndrome. Jika kita meyakini hasil riset ini berarti pemanasan global merupakan ancaman bagi eksistensi manusia dan kemanusiaan di muka bumi. Solusi Beberapa ilmuwan menyatakan pemanasan global terjadi karena faktor alam. Namun sebagian besar lagi menyatakan hal itu terjadi karena ulah manusia. Alqur’an menjawab perdebatan faktor penyebab global warming, melalui Surat Asy-Syura ayat 27. Di situ disebutkan bahwa penyebab kerusakan bumi itu adalah ulah manusia itu sendiri yang melampaui batas (berlebih-lebihan). Allah SWT telah menciptakan alam dengan segala keseimbangannya, namun perilaku manusia kemudian merusak keseimbangan tersebut. Cara mengatasi global warming adalah membatasi emisi emisi karbon dioksida dan menyembunyikan/menyerap karbon dioksida agar tidak memasuki atmosfer. Adapun cara/perilaku manusia yang efektif yang dapat mengurangi atau mengendalikan global warming adalah sebagai berikut : 1. Batasi Penggunanaan kertas Tanamkan di pikiran anda kuat-kuat, bahwa setiap anda menggunakan selembar kertas maka anda telah menebang sebatang pohon. Oleh karena itu gunakan kertas se-efektif mungkin misalnya dengan mencetak print out bolak-balik pada setiap kertas. Bila anda nge-print sesuatu yang tidak terlalu penting, gunakanlah kertas bekas yang dibaliknya masih kosong. 2. Ganti bola lampu. Segera ganti bola lampu pijar anda dengan lampu neon. Lampu neon ini membutuhkan energi yang lebih sedikit dibanding lampu pijar. Ingat setiap daya daya listrik yang anda pakai maka anda turut serta menghabiskan sumber daya energi listrik yang kebanyakan berbahan bakar fosil. Bahan bakar fosil adalah bahan bakar tak terbarukan, dan dalam jangka sepuluh tahun ke depan mungkin bahan bakar jenis ini akan habis. 3. Buka jendela lebar-lebar Di Amerika , sebagian besar dari 22,7 ton emisi CO2 berasal dari rumah. Kebanyakan emisi atau gas buang tersebut berasal dari AC, kulkas, kompor gas atau refrigerator. Unutk meminimalkannya ketika dapat mengatur termostat AC dengan suhu udara di luar ruangan. Kemudian bukalah jendela lebar-lebar karena sirkulasi udara yang terjebak dapat mengkonsumsi energi. 4. Gunakan pupuk organik. Pupuk yang digunakan kebanyakan petani mengandung unsur nitrogen, yang kemudian berubah menjadi N2O yang menimbulkan efek GRK (Gas Rumah Kaca) 320 kali lebih besar dari pada CO2. Jika anda hobi berkebun gunakanlah pupuk organik. Disamping aman, murah pula. 5. Tanamlah rumpun bambu Pepohonan memang terbukti mampu menyerap CO2, tetapi ternyata pohon atau rumpun bambu mampu menyerap CO2 empat kali lebih banyak dari pohon-pohon lain. 6. Naik kendaraan umum Saat ini jumlah kendaraan pribadi sudah teramat banyak dan bikin sumpek. Sector transportasi menyumbang sampai 14 % emisi gas rumah kaca ke atmosfer, jika kita menggunakan kendaran umum maka kita mengurangi emisi gas rumah kaca, 7. Jangan pakai kantong plastik Di beberapa Negara bagian Amerika, urusan kantong plastik bahkan sampai dibuat undang-undangnya segala. LSM peduli lingkungan mendorong pemerintah Negara setempat unutk melarang penggunaan kantong plastic sebagai kantong belanjaan. Plastik ini memang unsur yang sulit terurai, butuh 1000 tahun untuk mengurainya didalam tanah. Efek Gas rumah kaca yang ditimbulkannya juga cukup besar. Maka beralihlah ke kantong kain, misal dari kain serat alami. 8. Hidup efisien Apapun aktifitas manusia di bumi akan berdampak pada bumi yang kita diami ini. Pola komsumsi energi, pola lingkungan dan sebagainya. Hiduplah seefisien mungkin, gunakan sedikit energi, komsumsilah sedikit makanan, tinggalkan pola hidup konsumtif, ramahlah terhadap lingkungan, sedikit bicara lebih banyak berpikir, dan sebagainya. 9. Meminimalkan pemakaian kendaraan bermotor. Kurangilah aktifitas yang menggunakan kendaraan pribadi. Jika terpaksa menggunakan kendaraan pribadi, pilihlah jalan-jalan alternative yang bebas macet dan tidak mengkonsumsi energi. Bila anda menunggu, matikan mesin sebab gas buangan tetap keluar sementara bahan bahan bakar terpakai. 10. Menghemat Air. 11. MengHemat listrik dengan mematikan lampu yang tidak dipakai. Menghemat listrik merupakan hal untuk mengatasi global warming dan mengurangi gas-gas dari efek rumah kaca. Di Indonesia sendiri sudah mencanangkan mematikan lampu 1 jam ( one hours ) sekitar jam 19.00 sampai 20.00 WIB/WIT/WITA 12. Biasakan buang sampah pada tempatnya. 13.Tumbuhkan kesadaran akan pentingnya menanam pohon. Pada saat ini sudah banyak organisasi-organisasi yang membudayakan menanam 1000 pohon untuk penghijauan ( go green ). Budayakan menanam pohon dan penghijauan yang merupakan cara efektif dalam menyaring udara kotor. 14. Gantilah kendaraan bermotor anda dengan menggunakan sepeda. Beralihlah dengan bersepeda sebab jika kita lebih memilih sepeda ketimbang naik kendaraan pribadi, maka kita sudah menyumbang udara bersih untuk bumi ini.
Dampak Pestisida Terhadap Kesehatan Reproduksi Wanita
PENDAHULUAN Kata “pestisida” bukan hal yang asing bagi kita, sebahagian besar masyarakat kita mungkin sudah mengenal apa itu pestisida apalagi masyarakat di daerah-daerah pertanian. Jika kita menganggap bahwa pestisida dimaksudkan untuk membunuh serangga, gulma, dan penyakit; kita akan tau bagaimana ini bisa merusak kesehatan. Sayangnya penggunaan pestisida telah meledak dalam beberapa dekade terakhir. Salah satu alasannya adalah karena tanaman rekayasa genetika yang telah menyebabkan penciptaan gulma super yang membutuhkan pestisida yang lebih banyak dan lebih kuat. Penggunaan pestisida yang tidak memenuhi aturan akan mengakibatkan banyak dampak, diantaranya dampak kesehatan bagi manusia yaitu timbulnya keracunan pada petani dan yang lebih berbahaya lagi adalah terjadinya gangguan pada sistem reproduksi wanita . Hal-hal tersebutlah yang masih banyak diabaikan oleh para petani Indonesia terutama didaerah pedesaan. Mereka tidak memperhatikan dampak yang dapat ditimbulkan dari pekerjaan yang mereka lakukan setiap harinya dengan berbagai alasan klasik. Pengertian Pestisida Pestisida adalah bahan yang digunakan untuk mengendalikan, menolak, memikat, atau membasmi organisme pengganggu. Nama ini berasal dari pest (“hama“) yang diberi akhiran -cide(“pembasmi”). Sasarannya bermacam-macam, seperti serangga, tikus, gulma, burung, mamalia, ikan, atau mikrobia yang dianggap mengganggu.Dalam bahasa sehari-hari, pestisida seringkali disebut sebagai “racun”. Pestisida adalah substansi kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang digunakan untuk mengendalikan berbagai hama. Yang dimaksud hama di sini adalah sangat luas, yaitu serangga, tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi (jamur), bakteria dan virus, kemudian nematoda (bentuknya seperti cacing dengan ukuran mikroskopis), siput, tikus, burung dan hewan lain yang dianggap merugikan. Pestisida adalah bahan-bahan kimia yang tidak terlepas dari penggunaannya untuk mengendalikan hama dan jasad pengganggu lainnya. Pestisida tidak saja membawa dampak yang positif terhadap peningkatan produk pertanian, tapi juga membawa dampak negatif terhadap lingkungan di sekitarnya Pestisida juga diartikan sebagai substansi kimia dan bahan lain yang mengatur dan atau menstimulir pertumbuhan tanaman atau bagian-bagian tanaman. Sesuai konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), penggunaan pestisida ditujukan bukan untuk memberantas atau membunuh hama, namun lebih dititiberatkan untuk mengendalikan hama sedemikian rupa hingga berada dibawah batas ambang ekonomi atau ambang kendali. KESEHATAN REPRODUKSI Berdasarkan ICPD 1994, kesehatan reproduksi didefinisikan sebagai suatu keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial yang utuh yang tidak semata-mata terbebas dari penyakit atau kecacatan lainnya yang terkait dengan sistem reproduksi, fungsi, serta prosesnya. Terdapat 10 elemen kesehatan reproduksi yaitu: (1) pelayanan dan konseling, informasi, edukasi, dan komunikasi KB, (2) pelayanan prenatal, persalinan, dan postpartum yang aman, termasuk menyusui, (3) pencegahan dan pengobatan kemandulan, (4) pencegahan dan penanganan aborsi tidak aman, (5) pelayanan aborsi aman, bila tidak melanggar hukum, (6) pengobatan Infeksi Saluran Reproduksi, Infeksi Menular Seksual dan kondisi lain dalam sistem reproduksi, (7) informasi dan konseling mengenai seksualitas, (8) pencegahan secara aktif praktek-praktek berbahaya seperti sunat perempuan/mutilasi kelamin, (9) pelayanan rujukan untuk komplikasi KB, kehamilan, persalinan dan aborsi, kemandulan, ISR, IMS, dan HIV/AIDS, serta kanker kandungan, serta (10) fasilitas diagnosis dan pengobatan IMS seiring dengan meningkatnya penularan HIV. Berdasarkan defisini dan elemen kesehatan reproduksi yang telah dijelaskan di atas jelas bahwa kesehatan reproduksi merupakan bagian penting dari sistem pewarisan generasi. DAMPAK PESTISITA TERHADAP KESEHATAN MANUSIA Selain berdampak pada kerusakan lingkungan, residu pestisida juga berbahaya bagi kesehatan, baik dalam jangka panjang atau pun pendek. Salah satunya adalah menghambat perkembangan kognitif. Pada kehamilan bisa beresiko terjadinya kelainan bawaan. Residu pestisida ini bisa terdapat dalam jenis buah dan sayuran segar, sehingga kita memerlukan kehati-hatian dalam mengkonsumsinya. Penggunaan pestisida bisa terjadi pada saat proses produksi di lahan atau selama pasca panen. Dibawah ini beberapa bahaya pestisida yaitu 1. Pestisida Menyebabkan Kemandulan Salah satu pestisida adalah atrazine, pembunuh gulma yang banyak digunakan di pertanian tebu dan terdeteksi dalam air keran. Para ilmuwan dan dokter mengemukakan bahwa pestisida ini meningkatkan risiko keguguran dan kemandulan (kualitas dan mobilitas sperma menurun). 2. Bahaya Pestisida Pada Kehamilan, Bayi, dan Anak Pestisida yang tidak sengaja termakan oleh ibu hamil dapat menyebabkan bayi cacat lahir. Cacat lahir seperti spina bifida, bibir sumbing, kaki pengkor, dan sindrom down bisa diakibatkan paparan pestisida. Untuk memperkecil resiko, ibu hamil harus selektif dalam mengkonsumsi makanan dan minuman. Paparan pestisida selama 3 bulan sebelum konsepsi dan selama kehamilan akan meningkatkan resiko keguguran spontan pada ibu hamil. Selain itu, bayi yang dilahirkan juga beresiko terkena leukimia dan kecerdasannya bisa terganggu. Bila terpapar pestisida sejak kehamilan akan berpengaruh pada pembentukan janin dalam kandungan. Residu pestisida bisa meningkatkan risiko kelainan bawaan tertentu selama perkembangan janin. Apalagi selama perkembangannya janin belum mampu mendetoksifikasi racun yang ada. Sementara otak dan sistem saraf sendiri masih terus berkembang hingga anak berusia 12 tahun. Pada anak, paparan pestisida dapat menurunkan stamina tubuh serta perhatian dan konsentrasinya. Begitu pun memori dan koordinasi tangan mata yang terganggu, serta semakin besar kesulitan anak dalam membuat gambar garis sederhana. Anak yang terpapar residu pestisida sejak balita, ketika usia SD kecerdasannya akan menurun. Sebuah penelitian yang dilakukan di Meksiko terhadap anak yang mengkonsumsi anggur disemprot pestisida dan yang tidak disemprot pestisida, menunjukkan perbedaan kognitif yang signifikan. 3. Pengaruh Pestisida Terhadap Perubahan Hormon Jangka panjang dari paparan pestisida secara terus menerus dalam waktu sekitar 20-30 tahun akan terjadi perubahan hormonal dan sistem reproduksi. Pada anak laki-laki diistilahkan dengan demasculinisation, yaitu hilangnya sifat-sifat maskulin. Sementara pada anak perempuan disitilahkan dengan defeminisasion. Jadi anak mengalami perubahan orientasi seksualnya. 4. Pestisida Menyebabkan Diabetes Bertahun-tahun ilmuwan percaya ada hubungan antara diabetes dengan pestisida. Menurut jurnal yang diterbitkan di Diabetes Care, orang yang mengalami kelebihan berat badan dan dalam tubuhnya terdapat pestisida golongan organoklorin berisiko tinggi terkena diabetes. Untuk menghindarinya, konsumsi makanan organic dan hindari penyegar udara kimia dan produk-produk artifisial yang beraroma. 5. Pestisida Menyebabkan Kanker Pestisida cukup erat hubungannya dengan kanker. Lebih dari 260 pestisida berkaitan dengan beragam jenis kanker seperti limfoma, leukemia, sarcoma, jaringan lunak, otak, kanker hati, dan kanker paru-paru. 6. Pestisida Menyebabkan Autisme Perpaduan antara gen dan polutan yang masuk ketika ibu hamil dipercaya para peneliti sebagai penyebab autisme. Kebanyakan insektisida membunuh hama dengan mengganggu fungsi saraf. Mekanisme yang sama terjadi pada janin yang terpapar insektisida. Penelitian yang dilakukan pada tahun 2010 oleh Universitas Harvard menunjukkan urin yang mengandung pestisida berbahan aktif organofosfat pada anak-anak lebih mungkin mengalami ADHD dan hiperaktif dibanding urin pada anak-anak yang tidak tercemar pestisida. 7. Pestisida menyebabkan Obesitas Kadang pestisida bertindak sebagai hormon palsu dalam tubuh. Hormon ini mengganggu kemampuan tubuh untuk mengatur pengeluaran hormon yang sehat. Menurut penelitian yang dimuat jurnal Environmental Health Perspectives, lebih dari 50 jenis pestisida diklasifikasikan sebagai pengganggu hormon, di antaranya dapat memicu sindrom metabolik dan obesitas 8. Pestisida Menyebabkan Parkinson Penyakit gangguan degeneratif sistem saraf pusat atau yang sering mengganggu penderita keterampilan motorik, pidato, dan fungsi-fungsi lainnya atau Parkinson sangat berhubungan dengan paparan pestisida. Penelitian yang dilakukan menunjukkan penyakit ini berkaitan erat dengan paparan insektisida dan herbisida dalam jangka waktu yang panjang.Dengan bertambah pengetahuan kita mengenal berbagai macam bahaya dari pestisida ini maka sudah sewajarnya kalau kita memang harus berhati-hati terhadap pengaruh negatif dari pestisida apalagi bila penggunaannya berlebihan. Banyak petani menggunakan berbagai bahan kimia untuk menjaga tanaman dari serangan hama. Satu jenis buah atau sayuran bisa menggunakan banyak macam bahan kimia yang berbeda. Dampak negatif bahan kimia tersebut bisa bermacam-macam, tergantung pada jenis bahan kimianya dan seberapa banyak kita terpapar. Diantaranya ada empat efek, yakni efek karsinogen (bisa menimbulkan kanker), hormone disruptor (mengganggu sistem hormonal), neurotoxin (mempengaruhi sistem saraf), dan mengganggu pertumbuhan serta fungsi reproduksi. Berikut ini contoh bahaya bahan aktif pestisida terhadap kesehatan: Asefat beresiko menyebabkan kanker, mutasi gen, kelainan alat reproduksi. Aldikard sangat beracun pada dosis rendah. BHC beresiko menyebabkan kanker, beracun pada alat reproduksi. Kaptan beresiko menyebabkan kanker, mutasi gen. Karbiral beresiko menyebabkan mutasi gen, kerusakan ginjal. Klorobensilat beresiko menyebabkan kanker, mutasi gen, keracunan alat reproduksi. Klorotalonil beresiko menyebabkan kanker, keracunan alat reproduksi. Klorprofam beresiko menyebabkan kanker, mutasi gen, pengaruh kronis. Siheksatin beresiko menyebabkan Karsinogen. DDT beresiko menyebabkan Cacat lahir, pengaruh kronis. Dampak pestisida terhadap kesehatan reproduksi wanita Peran Perempuan di Pertanian yang begitu besar membuat perempuan juga dominan dan paling beresiko terhadap dampak pestisida. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Pangan Dunia di perserikatan bangsa-Bangsa (FAO), jumlah perempuan yang terlibat di sektor pertanian meningkat dari tahun ke tahun. Jumlah tenaga kerja perempuan dalam sektor pertanian mengalami peningkatan hampir empat kali lipat dari tahun 1960 sebanyak 7,43 juta menjadi 20,82 juta orang pada tahun 2000 (Data FAO,2000). Meskipun FAO belum pernah mengeluarkan data jumlah petani terutama petani perempuan yang terkena dampak pestisida, namun ada beberapa studi terhadap kasus – kasus yang berkaitan dnegan dampak pestisida tersebut. Dari beberapa studi yang dilakukan di beberapa Negara Asia juga ditegaskan bahwa perempuan adalah pekerja utama di pertanian dan perkebunan, yang berhubungan langsung dengan penggunaan pestisida dalam pekerjaannya sehari-hari. Seperti di Malaysia, perempuan terlibat di hampir 80 persen dari 50,000 dari pekerjaan umum dan terpaksa menjadi pekerja di perkebunan, dengan sebanyak 30,000 orang yang aktif sebagai penyemprot pestisida di sektor perkebunan sendiri. Para pekerja di Malaysia sangat beresiko terpapar pestisida karena hampir sehari-hari menggunakan pestisida seperti Paraquat, Methamidophos dan Monocrotophos. Akibatnya, petani perempuan dan perempuan buruh perkebunan banyak yang menderita penyakit dan mengalami gangguan kesehatan yang kronis dan akut. Seperti kuku jari tangan yang membusuk, gatal-gatal, perut mual dan nyeri, sakit punggung, pusing, nafas sesak, mata kabur/rabun, mudah marah, sakit kepala, sesak di dada, bengkak, nyeri otot, rasa gatal kulit dan infeksi kulit , bahkan timbulnya kanker. Di India, pestisida menjadi penyebab utama yang telah membinasakan Hidup penduduk desa Kasargod, Kerala. Di temukan bahwa selama dua setengah dekade, pestisida jenis endosulfan telah disemprotkan dilahan perkebunan kacang-kacangan, pohon dan buah jambu monyet di beberapa desa daerah Kasargod yang dilakukan oleh perusahan perkebunan di Kerala. Akibatnya penduduk desa di sekitar perkebunan menderita berbagai macam penyakit dan menderita gangguan kesehatan akibat terpapar pestisida endosulfan. Pada umumnya adalah gangguan terhadap sistem reproduksi perempuan, seperti kanker rahim dan kanker payudara. Ditemukan fakta anak-anak yang dilahirkan mengalami cacat fisik, keterlambatan mental, serta kekebalan tubuh rendah. Selain gangguan terhadap kesehatan, tidak kurang kerusakan yang terjadi pada lingkungan yang berhasil dicatat adalah ditemukan ikan, lebah madu, kodok, dan ternak unggas ayam yang mati. Sebuah penelitian lain di India memperkirakan bahwa lebih dari 1000 orang pekerja di perkebunan ini telah terpapar pestisida dalam kurun waktu antara agustus hingga desember 2001 dan lebih dari 500 orang berakibat kematian, ternyata lebih dari setengah dari pekerja tersebut adalah perempuan. Penggunaan pestisida besar-besaran di perkebunan produksi kapas di Warangal wilayah Andhra Pradesh, mengakibatkan masyarakat di daerah tersebut pelan-pelan telah terpapar oleh pestisida. Mereka mengeluh mengalami gangguan mual, gangguan usus, sakit dada, sulit bernafas, infeksi kulit, ganguan penglihatan dan ganguan hormonal. Menurut suatu survei yang terbaru, bekas pekerja IRRI mengalami gangguan serius seperti timbul bisul yang abdominal, broncitis, rapu tulang, radang paru-paru, kencing manis, kelumpuhan, gangguan jantung, radang hati, hipertensi, kegagalan ginjal, Parkinsons, asma dan kanker. Studi lain yang dilakukan di Amerika,menunjukkan bahwa perempuan yang tinggal di daerah yang penggunaan pestisidanya tinggi, mempunyai resiko 1,9 sampai 2 kali lebih tinggi beresiko melahirkan bayi dalam keadaan cacat, dibandingkan perempuan yang bertempat tinggal di daerah yang tidak menggunakan pestisida (Emmy lucy,s. Terompet, 1993) Racun kimia yang terbuat dari klorine dapat menyebabkan Kanker payudara, dan sebuah penelitian Greenpeace menemukan setiap tahun 50.000 perempuan Amerika meninggal dunia karena racun ini. Zat klorine yang umumnya ada pada pestisida seperti Dioksin, PCB dan DDT, senyawa ini mampu lama berakumulasi dalam tubuh manusia dan lingkungan. Pencemaran lingkungan oleh kimia ini berkaitan dengan kemandulan dan pertumbuhan yang tidak seimbang tidak saja pada manusia juga terhadap hewan dan tumbuhan. Di Indonesia sendiri, menurut data pertanian tahun 2000 menyatakan 50,28% dari total jumlah tenaga kerja di sector pertanian atau sebesar 49,60 juta adalah perempuan, kenyataannya masih sedikit penelitian terhadap tingkat pencemaran yang ditimbulkan oleh pestisida baik itu pada proses pertanian maupun pada produk makanan. Sehingga hanya beberapa kasus keracunan pestisida maupun gangguan yang dialami yang disebabkan dampak pestisida yang terungkap. Beberapa dari kasus gangguan terpapar pestisida yang ditemukan ternyata sebagian besar penderitanya adalah petani perempuan. Kasus keguguran kehamilan yang dialami oleh salah seorang petani dari Sumatera Barat akibat penggunaan pestisida Dursban yang dicampur dengan Atracol (Terompet No.5,1993), menunjukkan fakta bahwa pestisida sangat berbahaya bagi perempuan terutama bagi kesehatan reproduksinya. Pestisida dapat meracuni embrio bayi dalam kandungan yang sama berbahaya seperti meracuni ibunya, bahkan yang belih buruk lagi kerusakan dapat terjadi sebelum masa kehamilan. Berdasarkan hasil sebuah studi di universitas Sidney pada tahun 1996 menyatakan bahwa perempuan yang terkena pestisida masa awal kehamilan dapat mengakibatkan cacat pada bayi. Kasus lain, hasil penelitian yang dilakukan oleh PAN Indonesia terhadap petani perempuan di desa Bukit dan desa Sampun, Berastagi Sumatera Utara, mengenai tingkat keracunan pestisida berdasarkan Indikator kelaziman aktivitas enzim Acetylcholinesterase (Ache) dalam plasma darah, ditemukan bahwa tingkat pencemaran yang terjadi pada petani perempuan tersebut sudah melampau batas yang ditetapkan oleh WHO (tidak kurang dari 70 % dari aktivitas normal).