Logo Kemenkes RI - Bapelkes Cikarang

Semua Berita & Artikel

Kumpulan informasi, berita terkini, dan artikel kesehatan Bapelkes Cikarang

Gambar Berita ARTIKEL

Konsep Go Green dengan Hutan Buatan

19 Mar 2014 � Ir. Mifta Rohim ~ Bapelkes Cikarang

Bosco verticale merupakan konsep hutan menuju era Go green yang berada di tengah kota yang dirancang oleh arsitek italia bernama Stefano Boeri. Hutan vertikal ini diharapkan mampu menjadi paru-paru kota yang dapat menyerap CO2 dan Debu serta mampu menghasilkan oksigen untuk kehidupan masyarakat perkotaan.     Bulan oktober tahun kemarin, Gizmag memberitakan tentang hutan buatan berbentuk gedung yang menjulang keatas yaitu Bosco Verticale: the world’s first vertical forest. Sempat menjadi perhatian para kalangan praktisi dan pemerhati lingkungan.  Realisasi pertama dari sebuah maha karya ini akan dilakukan di pusat kota Milan, dengan membuat 2 (dua) menara hutan vertical yang akan dihuni oleh sekitar 900 pohon dengan tinggi perpohon sekitar 9 meter. Jumlah ini ternyata belum termasuk tumbuhan perdu. Satu menara ini setara dengan 10.000 meter persegi tanah datar, sangat fantastis dan imajiner. Diamping sebagai paru paru kota, nantinya hutan vertikal ini dapat dijadikan contoh era baru menuju Go Green, sekaligus bisa dijadikan objek wisata hutan di tengah kota. Dari konsep gambar yang telah ada, disitu pengunjung dapat memasuki gedung ini dan menikmati udara sejuk didalamnya. Penampakan Bosco Vertikal ini jika sudah jadi, makin menambah hijau kota masa depan, sebuah terobosan yang luar biasa.   Konsep penempatan pohon dan tumbuhan lain yang akan menghuni gedung ini. Terlihat pula pengunjung yang sedang menikmati bosco verticale ini seperti ambar diatas. Gambar yang terakhir ini merupakan konsep irigasi dan sirkulasi oksigen yang dihasilkan dan karbondioksida yang diserap.   Sumber : http://www.klikedukasi.com/2012/01/konsep-hutan-buatan-berbentuk-vertikal.html   tanggal 7 Desember 2012 ; 11.15

Baca Selengkapnya
Gambar Berita ARTIKEL

Silent Killer Di Tengah TUgas Mulia

11 Mar 2014 � dr. Arum Wiratri - Bapelkes Cikarang

Ditengah berita tentang kondisi bencana alam yang saat ini tengah marak di bumi pertiwi ini, salah satunya adalah Gunung Sinabung yang tengah erupsi yang mencoba kesabaran para penduduknya. Disaat kita tengah berempati dengan para pengungsi, media mengabarkan telah terjadi keracunan CO disebuah Klinik Kesehatan yang merenggut jiwa para pekerja yang ada didalamnya, termasuk dokternya.   Sekejap semua orang matanya terarah kepada berita tersebut, sungguh sebuah kejadian yang tragis menimpa para pekerjanya yang usianya masih tergolong muda, dan bahkan ada yang baru memulai karirnya di klinik tersebut. Kronologi peristiwa tersebut terjadi pada saat lampu di klinik kesehatan tersebut mati dan salah seorang petugasnya menyalakan genset yang diletakkan di dalam ruangan kllinik tersebut, yang kemudian dipagi harinya baru diketahui banyak korban dari peristiwa tersebut.   Karbon monoksida merupakan salah satu penyebab pencemaran udara. Karbon monoksida adalah gas yang tidak berbau dan dihasilkan dari pembakaran bahan bakar, khususnya minyak tanah, batu bara dan bensin. Gas yang dilepaskan dari pembakaran tersebut dapat bersifat sangat mematikan jika dihirup. Keracunan akibat gas karbon monoksida (CO) dapat menimbulkan hipoksia jaringan atau kekurangan oksigen di dalam aliran darah, sehingga ketersediaan oksigen darah ke jaringan tubuh juga berkurang (Hadiyani, M, 2006). Gejala keracunan gas CO tidak khas. Gejala yang timbul seperti halnya gejala penyakit lain, seperti sakit kepala, mual dan pening, seperti gejala flu. Gas CO terbentuk melalui proses: 1) pembakaran bahan bakar fosil dengan udara yang reaksinya tidak stoikhiometris (harga ER >1); 2) pada suhu tinggi terjadi reaksi antara karbon dioksida (CO2) dengan karbon C yang menghasilkan gas CO; dan 3) Pada suhu tinggi, CO2 dapat terurai kembali menjadi CO dan oksigen (Wardana, 2001). Kendaraan bermotor merupakan sumber polutan korbon monoksida (CO) yang utama yaitu sekitar 59,2% karena itu daerah-daerah yang berpenduduk padat dengan lalu lintas ramai akan memperhatikan tingkat polusi CO yang tinggi, konsentrasi CO di udara per waktu dalam satu hari dipengaruhi oleh kesibukan atau aktifitas kendaraan bermotor yang ada, semakin ramai kendaraan bermotor semakin tinggi polusi CO di udara. Kadar CO yang tinggi di lingkungan merupakan hal yang tidak diinginkan karena keberadaannya mengganggu kesehatan antara lain sesak nafas, penglihatan kurang jelas, batuk, pusing, mual, dan mata kunang-kunang (Fardiaz, 1992). Pengaruh CO terhadap tubuh terutama disebabkan oleh reaksi antara CO dengan haemoglobin (Hb) dalam darah. Haemoglobin dalam darah secara normal berfungsi dalam sistem transpor untuk membawa oksigen dalam bentuk oksi haemoglobin (O2Hb) dari paru-paru ke sel-sel tubuh, dan membawa CO2 dalam bentuk CO2 Hb dari sel-sel tubuh ke paru-paru. Dengan adanya CO, haemoglobin dapat membentuk korboksihaemoglobin (COHb). Jika reaki tersebut terjadi, maka kemampuan darah untuk mentranspor oksigen menjadi berkurang. Afinitas CO terhadap haemoglobin adalah 200 lebih tinggi daripada afinitas oksigen terhadap haemoglobin, akibatnya jika CO dan O2 terdapat bersama-sama di udara akan membentuk COHb dalam jumlah lebih banyak daripada O2Hb (Fardiaz, 1992). Faktor penting yang menentukan pengaruh CO terhadap tubuh manusia adalah konsentrasi COHb yang terdapat di dalam darah, dimana semakin tinggi persentase haemoglobin yang terikat dalam bentuk COHb, semakin parah pengaruhnya terhadap kesehatan manusia. CO juga dapat berikatan secara langsung dengan sel otot jantung dantulang. Karenanya bisa disebut berhubungan langsung dengan sistim kardiovaskular. Efek yang paling serius adalah terjadinya keracunan secara langsung terhadap sel-sel tersebut juga menyebabkan gangguan pada sistem saraf, jantung dan otak yang berujung pada kematian.Karena itulah lebih banyak kasus yang tidak dilaporkan akibat tidak dikenali gejalanya dan tidak terdiagnosis dibandingkan yang dengan jumlah kasus yang berhasil ditangani (Wichaksana, A, 2003). Karbon monoksida tidak mengiritasi, tetapi dapat sangat membahayakan (beracun), makagas CO dijiluki sebagai  ‘silent killer´ atau pembunuh diam-diam (Hadiyani, M, 2006)   Adapun Gejala Klinik yang terjadi pada orang yang mengalami Keracunan CO adalah : 1. Keracunan Ringan Yaitu keracunan yang terjadi dimana seseorang didalam darahnya mengandung 30% dengan konsentarasi CO per 8 jam 250 – 450 ppm berupa sakit kepala pada bagian pelipis yang berdenyut akibat dari Vasodilatasi Susunan Saraf Pusat yang mengalami kekurangan oksigen di jaringannya ( Wicakshana, 2006) 2. Keracunan Berat Yaitu Keracunan yang terjadi dimana didalam darahnya mengandung 30% - 50% dengan konsentrasi CO per 8 jam 450 – 1000 ppm berupa berupa tremor tidak menetap, korea, spastik, distonia,kekakuan, dan bradikinesia ( gerakan pelan yang tidak normal ), cognitive impairment ,gangguan keseimbangan ,  gangguan fungsi penglihatan dan pendengaran, koma dankematian (Wichaksana, A, 2003). 3. Keracunan Akut Yaitu keracunan yang terjadi dimana didalm darahnya mengandung 70% - 89% dengan konsentrasi CO per 8 jam 1000 – 4000 ppm dengan menimbulkan kematian segera ( sudden Death) karena Aritmia Ventrikular dan  dikarenakan Edema menyeluruh pada jaringan otak. Hal inilah yang terjadi pada 5 (lima) orang pegawai klinik kesehatan tersebut, diketemukan sudah dalam keadaan tidak bernyawa, diprediksi konsentrasi CO sudah sangat besar didalm tubuhnya 4. Long Term sequel Yaitu berupa gangguan neuropsikiatri, dementia, psikosis, dan manik depresi. Dugaan sementara adalah berubahnya fungsi membran akibat pejanan secara terus menerus.Gejala ini dapat timbul pada awal keracunan atau beberapa hari setelah masa penyembuhan. Kerusakan ini merupakan hasil kombinasi keadaan hipoksia, hipoperfusi,vasodilatasi dan edema serebral yang menyebabkan penurunan pasokan dan penggunaanglukosa, sehingga timbul asidosis setempat (Wichaksana, A, 2003). Selain itu, adapula 2 jenis efek tubuh terhadap pejanan gas CO yaitu pembiasaan yang merujuk pada proses adaptasi jangka pendek (short term habituation) dan proses adaptasi jangka panjang ( Longterm Habituation).   Pertolongan yang dapat dilakukan apabila terjadi keracunan CO : Yang pertama kasli harus dilakukan adalah pindahkan korban dari ruangan tersebut, sehingga tidak terpapar lagi dengan CO   Pencegahan berdasarkan sumbernya dibedakan menjadi 3, yaitu: Pencegahan Melalui Sumber yang Bergerak Pencegahannya seperti : merawat mesin kendaraan bermotor agar tetap baik, melakukan pengujian emisi dan KIR kendaraan secara berkala dan memasang filter pada knalpot (Anonim a, 2005). Pencegahan Melalui Sumber yang Tidak Bergerak Pencegahannya antara lain dengan cara memasang  scruber  pada cerobong asap, merawatmesin industry agar tetap baik dan lakukan pengujian secara berkala dan menggunakan bahan bakar minyak atau batu bara dengan kadar CO rendah (Anonim a, 2005). Pencegahan yang Dilakukan Oleh ManusiaApabila kadar CO yang terkandung dalam udara ambien telah melebihi baku mutu (10.000ug/Nm3) udara dengan rata-rata waktu pengukuran 24 jam) maka untuk mencegah dampak negatif, dapat dilakukan upaya-upaya antara lain menggunakan alat pelindung diri (APD)seperti masker gas dan menutup atau menghindari tempat-tempat yang didugamengandung CO seperti sumur tua, goa, dll (Anonim a, 2005)   Untuk Peristiwa yang terjadi pada Klinik kesehatan tersebut adalah salah satunya dengan melakukkan perawatan mesin genset yang secara berkala sehingga proses pembakarannya berlangsung sempurna, dan sebaiknya Petugas pemangku kebijakan yang terkait sudah selayaknya melakukan survey terhatap klinik-klinik kesehatan sebelum ijin nya dikeluarkan salah satunya menilai gedung klinik dengan memperhatikan system ventilasi dalam gedung tersebut. Semua ini adalah usaha yang dapat dilakukan sehingga dapat mencegah terjadinya peristiwa keracuna CO.

Baca Selengkapnya
Gambar Berita ARTIKEL

Alfatoksin Pada Makanan Anda

09 Mar 2014 � Ayanih – Bapelkes Cikarang

Penyakit kanker saat ini semakin banyak penderitanya, masih tetap menghantui umat manusia, di mana diberitakan bahwa kanker ini merenggut 30% dari sekitar 7 juta kematian tiap tahun di seluruh dunia. Dan menurut  penelitian th.2006 mengungkap beban factor risiko lingkungan terhadap penyakit bawaan lingkungan untuk penyakit kanker pada wanita sebesar 25 % di Negara berkembang (Juli S,2010). Hal ini terutama disebabkan karena gejala awal masih sulit diketahui dan sampai sekarang dunia kedokteran masih belum menemukan obat yang mujarab untuk mengobatinya. Apa itu alfatoxin   Alfatoxin adalah kelompok racun yang dihasilkan oleh strain tertentu jamurAspergillus flafus dan Aspergillus parasiticus dan  ditemukan secara luas pada setiap jenis makanan.   Aflatoxin dikenal susunan kimianya pada tahun 1964, yang mula-mula dibagi dalam dua golongan yatu aflatoxin jenis B dan jenis G berdasarkan atas warna fluoresensi apabila dikenai sinar ultra violet; masing-masing warna biru (blue) untuk aflatoxin jenis B dan warna kehijauan (green) untuk jenis G.   Pada saat itu baru diketahui empat jenis aflatoxin yaitu B1, B2, G1 dan G2, yang masing- masing mempunyai struktur kimia serta daya racun yang berbeda, di mana aflatoxin B1 adalah yang sangat beracun. Kemudian ditemukan pula aflatoxin M dalam susu dari sapi perah yang diberi makanan yang mengandung aflatoxin B1. Terdapat hubungan yang erat antara dosis aflatoxin B1 yang terdapat dalam makanan yang diberikan dan kandungan aflatoxin M dalam susu. Sifat Alfatoxin Aflatoxin bersifat sangat tidak larut dalam air, larut dalam aseton atau chloroform dan titik cairnya antara 237-289 0C. Aflatoxin memiliki sifat racun yang akut dan khronis. Hasil-hasil penelitian terhadap beberapa hewan percobaan menunjukkan bahwa pemberian aflatoxin di dalam campuran makanan atau melalui suntikan dalam takaran tinggi di atas “lethal dose” dapat mengakibatkan kematian. Efek khronis racun aflatoxin merupakan penyebab kanker yang potensil (potent carcinogen). Aflatoxin B1 terutama adalah penyebab kanker hati yang potensil (potent hepato carcinogen). Sumber Alfatoksin Jamur ini secara alami terdapat di dalam tanah dan dapat menyerang dan pada biji kacang tanah bila suhu dan kelembabannya mendukung (suhu 25-300C85, kelembaban 85%) dan tumbuh pada kacang yang tidak dikeringkan dengan baik. Selain pada kacang tanah, jamur Aspergillus spp juga dapat menghasilkan alfatoksin pada jagung, beras, singkong, kacang, cabai, dan rempah-rempah. Nama aflatoxin kemudian diresmikan untuk toksin (racun) yang dihasilkan kapang tersebut sebagai singkatan dari nama genus (Aspergillus) dan species (flavus)   Tingkat bahaya Alfatoksin membahayakan kesehatan manusia dan ternak. Mengkonsumsi makanan berkadar alfatoksin tinggi dalam jangka pendek dapat menyebabkan “keracunan akut” dan mengakibatkan kerusakan hati, serta pada kasus serius menimbulkan kematian. Pada konsumsi dosis menengah hingga rendah dalam jangka panjang “keracunan kronis” menyebabkan kanker hati (karsinogenik), menurunkan kekebalan tubuh terhadap penyakit, mengganggu metabolism protein, dan mengganggu ketersediaan gizi-mikro. Alfatoksin juga dapat menghambat pertumbuhan anak dan mengganggu janin jika dikonsumsi wanita hamil. Pencegahan dini Sebelum terkena alfatoksin sebaiknya melakukan pencegahan dini dengan cara: Kenali bahan-bahan pangan yang akan dikonsumsi jika sudah terlihat berubah warna aslinya sebaiknya Sebaiknya bahan makanan yang sudah rusak dihancurkan atau dikubur Simpan bahan makanan pada suhu yang sesuai Jangan menyimpan bahan makanan lebih dari 2 bulan Mengkonsumsi makanan dalam keadaan segar   Sumber : -Tidak Dapat Hilang Walau Sudah Diolah,  Aflatoxin, Racun Penyebab Kanker, Dr. Ir. Deddy Muchtadi, MS. diunggah 26 feb 2014, -     http://ik.pom.go.id/v2012/wp-content/uploads/2011/11/Mengenaljamurberacun.pdf -   Sumber: Balitkabi-Aciar -   Gadjah Mada University Press;  Juli Soemirat;; Epidemiologi lingkungan, 2010.

Baca Selengkapnya
Gambar Berita ARTIKEL

Standar Sanitasi dan Status Kesehatan Lingkungan Sekolah

26 Feb 2014 � Sadim-Bapelkes Cikarang

Pengertian umum lingkungan sekolah adalah salah satu kesatuan lingkungan fisik, mental dan sosial dari sekolah yang memenuhi syarat-syarat kesehatan sehingga dapat mendukung proses belajar mengajar dengan baik dan menunjang proses pertumbuhan dan perkembangan murid secara optimal.     Faktor lingkungan sekolah dapat mempengaruhi proses belajar mengajar, juga kesehatan warga sekolah. Kondisi dari komponen lingkungan sekolah tertentu dapat menyebabkan timbulnya masalah kesehatan. Faktor resiko lingkungan sekolah tersebut antara lain kondisi atap, dinding, lantai, dan aspek lainnya sebagai berikut :       Kondisi atap dan talang :Atap dan talang yang tidak memenuhi syarat kesehatan dapat menjadi tempat perindukan nyamuk dan tikus. Kondisi ini mendukung terjadinya penyebaran dan penularan penyakit demam berdarah dan leptospirosis. Kondisi dinding : Dinding yang tidak bersih dan berdebu selain mengurangi estetika juga berpotensi merangsang timbulnya gangguan pernafasan seperti asthma atau penyakit saluran pernafasan. Kondisi lantai : Dinding yang tidak rata, licin dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan, sedangkan lantai yang kotor dapat mengurangi kenyamanan dan estetika. Lantai yang tidak kedap air dapat menyebabkankelembaban. Kondisi ini mengakibatkan dapat berkembang biaknya bakteri dan jamur yang dapat meningkatkan resiko penularan penyakit seperti TBC, ISPA dan lainnya. Kondisi tangga :Tangga yang tidak memenuhi syarat kesehatan seperti kemiringan, lebar anak tangga, pegangan tangga berpotensi menimbulkan kecelakaan bagi peserta didik. Tangga yang memenuhi syarat adalah lebar injakan > 30 cm, tinggi anak tangga maksimal 20 cm, lebar tangga > 150 cm serta mempunyai pegangan tangan. Pencahayaan :Pencahayaan alami di ruangan yang tidak memenuhi syarat kesehatan mendukung berkembang biaknya organisme seperti bakteri dan jamur. Kondisi ini berpotensi menimbulkan gangguan terhadap kesehatan. Selain itu pencahayaan yang kurang menyebabkan ruang menjadi gelap sehingga disenangi oleh nyamuk untuk beristirahat (rasting habit). Ventilasi : Ventilasi di ruangan yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan menyebabkan proses pertukaran udara tidak lancar, sehingga menjadi pengap dan lembab, Kondisi ini mengakibatkan berkembang biaknya bakteri, virus dan jamur yang berpotensi menimbulkan gangguan penyakit seperti TBC, ISPA, cacar dan lainnya. Kepadatan Kelas :Perbandingan jumlah peserta didik dengan luas ruang kelas yang tidak memenuhi syarat kesehatan menyebabkan menurunnya prosentase ketersediaan oksigen yang dibutuhkan oleh peserta didik. Hal ini akan menimbulkan rasa kantuk, menurunkan konsentrasi belajar dan resiko penularan penyakit. Perbandingan ideal adalah 1 orang menempati luas ruangan 1,75 M2. Jarak Papan tulis : Jarak papan tulis dengan murid terdepan 9 meter akan menyebabkan gangguan konsentrasi belajar. Ketersediaan tempat cuci tangan : Tangan yang kotor berpotensi menularkan penyakit. Kebiasaan cuci tangan dengan sabun mampu menurunkan kejadian penyakit diare 30%. Tersedianya tempat cuci tangan yang dilengkapi dengan sabun bertujuan untuk menjaga diri dan melatih kebiasaan cuci tangan dengan sabun sebelum makan atau sesudah buang air besar merupakan salah satu Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Berdasarkan ketentuan Departemen Kesehatan maka setiap 2 (dua) ruang kelas harus terdapat satu wastafel yang terletak di luar ruangan.  Kebisingan : Kebisingan adalah suara yang tidak disukai, bisa berasal dari luar sekolah maupun dari dalam lingkungan sekolah itu sendiri, suara bising dapat menimbulkan gangguan komunikasi sehingga mengurangi konsentrasi belajar dan dapat menimbulkan stress. Air bersih : Ketersediaan air bersih baik secara kualitas maupun kuantitas muklak diperlukan untuk menjaga hygiene dan sanitasi perorangan maupun lingkungan. Beberapa penyakit yang dapat ditularkan melalui air antara lain diare, kholera, hepatitis, penyakit kulit, mata dan lainnya. Idealnya ketersediaan air adalah 15 liter/orang/hari. Toilet (kamar mandi, WC dan urinoir). Kamar mandi : Bak penampungan air dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, demikian juga kamar mandi yang pencahayaannya kurang memenuhi syarat kesehatan akan menjadi tempat bersarang dan beristirahatnya nyamuk.WC dan urinoir : Tinja dan urine merupakan sumber penularan penyakit perut (diare, cacingan, hepatitis ). Penyakit ini ditularkan melalui air, tangan, makanan dan lalat. Untuk perlu diperhatikan ketersediaan WC dalam hal jumlahnya. Perbandingannya adalah : 1 WC untuk 25 siswi dan 1 WC untuk 40 siswa. Pengelolaan sampah : Penanganan sampah yang tidak memenuhi syarat kesehatan dapat menjadi tempat berkembang biaknya vektor penyakit seperti lalat, tikus, kecoak. Selain itu dapat juga menyebabkanpencemaran tanah dan menimbulkan gangguan kenyamanan dan estetika. Untuk itu disetiap ruang kelas harus terdapat 1 buah tempat sampah dan di sekolah tersebut harus tersedia tempat pembuangan sampah sementara (TPS). Sarana pembuangan air limbah : Sarana pembuangan air limbah yang tidak memenuhi syarat kesehatan ataupun tidak dipelihara akan menimbulkan bau, mengganggu estetika dan menjadi tempat perindukan dan bersarangnya tikus. Kondisi ini berpotensi menyebabkan dan menularkan penyakit seperti leptospirosis dan filariasis (kaki gajah). Pengendalian vector : Termasuk dalam pengertian vektor ini, terutama adalah tikus dan nyamuk : Tikus :Tikus merupakan vektor penyakit pes, leptospirosis, selain sebagai vektor penyakit, tikus juga dapat merusak bangunan dan instalasi listrik. Hal ini meningkatkan resiko penularan penyakit dan juga menimbulkan terjadinya arus pendek pada aliran listrik.Nyamuk : Nyamuk merupakan vektor penyakit, jenis nyamuk tertentu menularkan jenis penyakit yang berbeda. Nyamuk Aedes Aegypti dapat menyebabkan demam berdarah. Anak-anak usia sekolah merupakan kelompok resiko tinggi terjangkit penyakit demam berdarah. Nyamuk demam berdarah senang berkembang biak pada tempat-tempat penampungan air maupun non penampungan air. Beberapa tempat perindukan yang harus diwaspadai antara lain bak air, saluran air, talang, barang-barang bekas dan lainnya. Kantin/warung sekolah : Kantin/warung sekolah sangat dibutuhkan oleh peserta didik untuk tempat memenuhi kebutuhan makanan jajanan pada saat istirahat. Makanan jajanan yang disajikan tersebut harus memenuhi syarat kesehatan, karena pengelolaan makanan jajanan yang tidak memenuhi syarat akan menimbulkan penyakit bawaan makanan dan berpengaruh terhadap kesehatan sehingga akan mempengaruhi proses belajar mengajar. Kondisi halaman sekolah : Halaman sekolah pada musim kemarau akan berdebu, sehingga menyebabkan penyakit ISPA dan pada musim hujan akan menimbulkan becek sehingga berpotensi menimbulkan kecelakaan. Halaman sekolah yang kotor dapat mengganggu estetika dan menjadi tempat berkembang biaknya bibit penyakit. Perilaku Kebiasaan yang dilakukan sehari hari dapat mempengaruhi terjadinya penularan dan penyebaran penyakit. Sekolah merupakan tempat pembelajaran bagi peserta didik untuk membiasakan diri berperilaku hidup bersih dan sehat, untuk menurunkan resiko terkena penyakit tertentu. Beberapa perilaku hidup bersih dan sehat itu antara lain : tidak merokok, buang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan diri, cuci tangan pakai sabun, menjaga kebersihan lingkungan dan lainnya.

Baca Selengkapnya
Gambar Berita ARTIKEL

Pemberdayaan Masyarakat Pengertian, Proses, Tujuan

16 Feb 2014 � Drs. Nano Djumadiyono, MM - Bapelkes Cikarang

Salah satu strategi pencapaian pembangunan kreatif yaitu melibatkankan langsung masyarakat, masyarakat tidak dipandang sebagai objek melaikan masyarakat diprenankan sebagai pelaku dalam proses pencapaian pembangunan yaitu dengan strategi Pemberdayaan. Dengan mengikutsertakan dalam proses, masyarakat akan banyak belajar, meakukan, menilai, yang pada gilirannya dapat membuat terobosan-terobasan untuk mengatasi masalah-masalah yang dirasakan, dengan demikian pembangunan akan berjalan dengan baik dan berkesinambungan.   Pengertian pemberdayaan masyarakat Para ilmuwan sosial dalam memberikan pengertian pemberdayaan mempunyai rumusan yang berbeda-beda dalam berbagai konteks dan bidang kajian, artinya belum ada definisi yang tegas mengenai konsep tersebut. Namun demikian, bila dilihat secara lebih luas, pemberdayaan sering disamakan dengan perolehan daya, kemampuan dan akses terhadap sumber daya untuk memenuhi kebutuhannya.  Oleh karena itu, agar dapat memahami secara mendalam tentang pengertian pemberdayaan maka perlu mengkaji beberapa pendapat para ilmuwan yang memiliki komitmen terhadap pemberdayaan masyarakat.  Robinson (1994) menjelaskan bahwa pemberdayaan adalah suatu proses pribadi dan sosial; suatu pembebasan kemampuan pribadi, kompetensi, kreatifitas dan kebebasan bertindak. Sedangkan Ife (1995) mengemukakan bahwa pemberdayaan mengacu pada kata “empowerment,” yang berarti memberi daya, memberi ”power” (kuasa), kekuatan, kepada pihak yang kurang berdaya.  Payne (1997) menjelaskan bahwa pemberdayaan pada hakekatnya bertujuan untuk membantu klien mendapatkan daya, kekuatan dan kemampuan untuk mengambil keputusan dan tindakan yang akan dilakukan dan berhubungan dengan diri klien tersebut, termasuk mengurangi kendala pribadi dan sosial dalam melakukan tindakan.. Orang-orang yang telah mencapai tujuan kolektif diberdayakan melalui kemandiriannya, bahkan merupakan “keharusan” untuk lebih diberdayakan melalui usaha mereka sendiri dan akumulasi pengetahuan, ketrampilan serta sumber lainnya dalam rangka mencapai tujuan tanpa tergantung pada pertolongan dari hubungan eksternal.     Proses Pemberdayaan Pranarka & Vidhyandika (1996) menjelaskan bahwa ”proses pemberdayaan mengandung dua kecenderungan. Pertama, proses pemberdayaan yang mene-kankan pada proses memberikan atau mengalihkan sebagian kekuatan, kekuasaan atau kemampuan kepada masyarakat agar individu lebih berdaya. Kecenderungan pertama tersebut dapat disebut sebagai kecenderungan primer dari makna pemberdayaan. Sedangkan kecenderungan kedua atau kecenderungansekunder menekankan pada proses menstimulasi, mendorong atau memotivasi individu agar mempunyai kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan apayang menjadi pilihan hidupnya melalui proses dialog”. Sumardjo (1999) menyebutkan ciri-ciri warga masyarakat berdaya yaitu:   Mampu memahami diri dan potensinya,mampu merencanakan (mengantisipasi kondisi perubahan ke depan) Mampu mengarahkan dirinya sendiri Memiliki kekuatan untuk berunding Emiliki bargaining power yang memadai dalam melakukan kerjasama yang saling menguntungkan, dan  Bertanggungjawab atas tindakannya. Slamet (2003) menjelaskan lebih rinci bahwa yang dimaksud denganmasyarakat berdaya adalah masyarakat yang tahu, mengerti, faham termotivasi,berkesempatan, memanfaatkan peluang, berenergi, mampu bekerjasama, tahu berbagai alternative, mampu mengambil keputusan, berani mengambil resiko, mampu mencari dan menangkap informasi dan mampu bertindak sesuai dengansituasi. Proses pemberdayaan yang melahirkan masyarakat yang memiliki sifat seperti yang diharapkan harus dilakukan secara berkesinambungan dengan mengoptimalkan partisipasi masyarakat secara bertanggungjawab.   Tujuan dan Tahapan Pemberdayaan masyarakat Jamasy (2004) mengemukakan bahwa konsekuensi dan tanggungjawab utama dalam program pembangunan melalui pendekatan pe mberdayaan adalah masyarakat berdaya atau memiliki daya, kekuatan atau kemampuan. Kekuatan yang dimaksud dapat dilihat dari aspek fisik dan material, ekonomi, kelembagaan, kerjasama, kekuatan intelektual dan komitmen bersama dalam menerapkan prinsip-prinsip pemberdayaan. Terkait dengan tujuan pemberdayaan, Sulistiyani (2004) menjelaskan bahwa tujuan yang ingin dicapai daripemberdayaan masyarakat adalah untuk membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri. Kemandirian tersebut meliputi kemandirian berpikir, bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan. Kemandirian masyarakat merupakan suatu kondisi yang dialami oleh masyarakat yang ditandai dengan kemampuan memikirkan, memutuskan sertamelakukan sesuatu yang dipandang tepat demi mencapai pemecahan masalah yang dihadapi dengan mempergunakan daya/kemampuan yang dimiliki. Daya kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan kognitif, konatif, psikomotorik dan afektif serta sumber daya lainnya yang bersifat fisik/material. Kondisi kognitif pada hakikatnya merupakan kemampuan berpikir yang dilandasi oleh pengetahuan dan wawasan seseorang dalam rangka mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi. Kondisi konatif merupakan suatu sikap perilaku masyarakat yang terbentuk dan diarahkan pada perilaku yang sensitif terhadap nilai-nilai pemberdayaan masyarakat. Kondisi afektif adalah merupakan perasaan yang dimiliki oleh individu yang diharapkan dapat diintervensi untuk mencapai keberdayaan dalam sikap dan perilaku. Kemampuan psikomotorik merupakan kecakapan keterampilan yang dimiliki masyarakat sebagai upaya mendukung masyarakat dalam rangka melakkan aktivitas pembangunan.  

Baca Selengkapnya
Gambar Berita ARTIKEL

Sosiologi Dan Antropologi Kesehatan

16 Feb 2014 � Drs. Nano Djumadiyono, MM - Bapelkes Cikarang

Sosiologi terdiri dari kata socius : masyarakat dan logos : ilmu Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari masyarakat, perilaku sosial manusia (perilaku kelompok, interaksi kelompok & menganalisis pengaruh kegiatan kelompok pada anggotanya) selengkapnya klik disini  

Baca Selengkapnya
Gambar Berita ARTIKEL

Mewaspadai Cara Penularan HIV-AIDS

16 Feb 2014 � Drs. Nano Djumadiyono, MM - Bapelkes Cikarang

Penyebab timbulnya penyakit AIDS belum dapat dijelaskan sepenuhnya.Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa virus HIVtelah ada di dalam tubuh sebelum munculnya penyakit AIDS ini.Namun kenyataan bahwa tidak semua orang yang terinfeksi virus HIV ini terjangkit penyakit AIDS menunjukkan bahwa ada faktor-faktor lain yang berperan di sini. Penggunaan alkohol dan obat bius, kurang gizi, tingkat stress yang tinggi dan adanya penyakit lain terutama penyakit yang ditularkan lewat alat kelamin merupakan faktor-faktor yang mungkin berperan. Faktor yang lain adalah waktu. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa kesempatan untuk terkena AIDS meningkat, bukannya menurun dikarenakan faktor waktu. Selengkapnya klik disini

Baca Selengkapnya
Gambar Berita ARTIKEL

Filosopi Kebijakan Pencegahan & Penanggulangan HIV AIDS

16 Feb 2014 � Drs. Nano Djumadiyono, MM - Bapelkes Cikarang

Epidemi HIV yang mengancam kesehatan dan kehidupan generasi penerus bangsa,yang secara langsung membahayakan perkembangan sosial dan ekonomi, sertakeamanan negara. Oleh karena itu, upaya pengendaliannya harus dilakukan sebagaiupaya penting dan merupakan program yang dilaksanakan dalam jangka panjangyang dilaksanakan secara terkoordinir dengan melibatkan berbagai pihak, sertadengan memobilisasi sumber daya yang intensif dari seluruh lapisan masyarakatuntuk mempercepat dan memperluas jangkauan program. Selengkapnya klik disini

Baca Selengkapnya
Gambar Berita ARTIKEL

Ruang Lingkup Dan Peran Antropologi Kesehatan Dalam Pembangunan Kesehatan

15 Feb 2014 � Drs. Nano Djumadiyono, MM - Bapelkes Cikarang

Penyakit muncul tidak bersamaan dengan saat munculnya manusia, tetapi sebagaimana dikemukakan oleh Sigerit (Landy 1977), penyakit adalah bagian dari kehidupan yang ada di bawah kondisi yang berubah-ubah. Menurut Foster dan Anderson kesehatan berhubungan dengan perilaku. Perilaku manusia cenderung bersifat adaptif. Terdapat hubungan antara penyakit, obat-obatan, dan kebudayaan. Menurut Landy, antropologi kesehatan adalah suatu studi tentang konfrotasi manusia dengan penyakit serta rasa sakit, dan rencana adaptif yaitu sistem pengobatan dan obat-obat yang dibuat oleh kelompok manusia berkaitan dengan ancaman yang akan datang. 1 BATASAN DAN RUANG LINGKUP Buku berjudul anthropology in Medicine menurut Foster dan Anderson belum melahirkan disiplin baru dan hanya merupakan lapangan perhatian dari antropologi terapan. Munculnya istilah Medicine Anthropology dari tulisan Scotch dan Paul dalam artikel tentang pengobatan dan kesehatan masyarakat. Atas dasar ini kemudian di Amerika lahirlah antropologi kesehatan. Ahli-ahli antropologi tertarik untuk mempelajari faktor-faktor biologis, dan sosio-budaya yang mempengaruhi kesehatan dan munculnya penyakit pada masa sekarang dan sepanjang sejarah kehidupan manusia dipengaruhi oleh keinginan untuk memahami perilaku sehat manusia dalam manifestasi yang luas dan berkaitan segi praktis. 2.1 Akar Antropologi Kesehatan Tipe kajian antropologi budaya yang menjadi akar antropologi kesehatan: Kajian tentang obat primitif, tukang sihir, dan majik Kajian tentang kepribadian dan kesehatan di berbagai seting budaya Keterlibatan ahli-ahli antropologi dalam program-program kesehatan internasional dan perubahan komunitas yang terencana Antropologi ekologi Teori evolusioner 2.2 Batasan Antropologi Kesehatan Antropologi kesehatan menurut Landy yaitu mengkombinasikan dalam satu disiplin ilmu pendekatan-pendekatan ilmu biologi, ilmu sosial, dan humaniora dalam menstudi manusia, dalam proses perkembanganya merupakan perpaduan antara aspek biologi dan aspek sosio-budaya. Foster dan Anderson mendefinisikan antropologi kesehatan adalah suatu disiplin biobudaya yang memperhatikan aspek-aspek biologis dan budaya berkenaan dengan perilaku manusia, khususnya bagaimana cara kedua aspek ini berinteraksi sehingga berpengaruh terhadap kesehatan dan penyakit. Selain itu Mc Elroy dan Townsend juga mendefinisikan antropologi kesehatan merupakan studi bagaimana faktor-faktor sosial dan lingkungan mempengaruhi kesehatan dan mengetahui tentang cara-cara alternatif untuk mengerti dan merawat penyakit. Definisi kerja secara singkat bahwa antropologi kesehatan adalah istilah yang dipakai oleh ahli-ahli antropologi yang mendeskripsikan: Secara luas dan interprestasi mengenai hubungan bio-budaya, antara perilaku manusia di masa lalu dan di masa kini, dengan derajat kesehatan dan penyakit, tanpa mengutamakan perhatian pada penggunaan praktis dan pengetahuan tersebut. Partisipasi profesional dalam program- program yang bertujuan memperbaiki derajat kesehatan melalui pemahaman yang mendalam mengenai hubungan antara gejala biososiobudaya dan kesehatan, dan melalui perubahan perilaku sehat dalam arah yang dipercaya dapat memperbaiki kesehatan dalam arah yang lebih baik.   2.3 Ruang Lingkup Kajian Antropologi Kesehatan Menurut foster dan Anderson lapangan kajian antropologi kesehatan dibagi menjadi dua: Kutub biologis, perhatinya pada pertumbuhan dan perkembangan fisik manusia, peranan penyakit dalam evolusi manusia, adaptasi biologis terhadap perubahan lingkungan alam, dan pola penyakit di kalangan manusia purba. Kutub sosio-budaya perhatiannya pada sistem kesehatan tradisional yang mencakup aspek-aspek etiologis, terapi, ide, dan praktik pencegahan penyakit, serta peranan praktisi medis tradisional, masalah perawatan kesehatan biomedik, perilaku kesehatan, peranan pasien, perilaku sakit, interaksi dokter dengan pasien, dan masalah inovasi kesehatan. Kajian utama antropologi kesehatan menurut Lieban: Ekologi dan Epidemiologi Etnomedisin Aspek medic dari sistem social Ilmu kedokteran (medicine) dan perubahan budaya   2.2 SUMBANGAN ANTROPOLOGI TERHADAP ILMU KESEHATAN Menurut Foster dan Anderson ada empat hal utama yang dapat disumbangkan oleh antropologi terhadap ilmu kesehatan yaitu, Perspektif Antropologi Terdapat dua konsep dalam perspektif antropologi bagi ilmu kesehatan (a) Pendekatan Holistik, pendekatan ini memahami gejala sebagai suatu sistem. Pendekatan ini dimana suatu pranata tidak dapat dipelajari sendiri-sendiri lepas dari hubungannya dengan pranata lain dalam keseluruhan sistem. (b) Relativisme Budaya, Standar penilaian budaya itu relative, suatu aktivitas budaya yang oleh pendukungnya dinilai baik, pantas dilakukan mungkin saja nilainya tidak baik dan tidak pantas bagi masyarakat lainnya. Perubahan: Proses dan Persepsi (Perubahan Terencana) Suatu perubahan terencana akan berhasil apabila perencanan program bertolak dari konsep budaya. Bertolak dari itu, perencanaan program pembaharuan kesehatan dalam upaya mengubah perilaku kesehatan tidak hanya memfokuskan diri pada hal yang tampak, tetapi seharusnya pada aspek psiko-budaya. Metodologi Penelitian Ahli antropologi menawarkan suatu metose penelitian yang longgar tetapi efektif untuk menggali serangkaian masalah teoretik dan praktis yang dihadapi dalam berbagai program kesehatan. Premis Premis atau asumsi atau dalil yang mendasari atau dijadikan pedoman individu atau kelompok dalam memilih alternatif tindakan. Premis-premis tersebut memainkan peranan dalam menentukan tindakan individu dan kelompok. Beberapa premis dari sebagian besar ahli antropologi kesehatan antara lain: Penyakit dalam beberapa bentuk merupakan fakta umum dari kehidupan manusia. Seluruh kelompok manusia, telah mengembangkan metode dan aturan, sesuai dengan sumber daya dan strukturnya, untuk mengatasi atau merespon terhadap penyakit. Seluruh kelompok manusia telah mengembangkan seperangkat kepercayaan, pengertian, dan nilai-nilai yang konsisten dengan matriks budayanya untuk memahami tentang penyakit dan menentukan tindakan untuk mengatasinya. Pustaka: Joyomartono, Mulyono. 2011. Pengantar Antropologi Kesehatan. Semarang: UNNES PRESS.  

Baca Selengkapnya
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37
Jika ada pertanyaan atau aduan klik disini
Halo BC