Logo Kemenkes RI - Bapelkes Cikarang

Semua Berita & Artikel

Kumpulan informasi, berita terkini, dan artikel kesehatan Bapelkes Cikarang

Gambar Berita ARTIKEL

Teknik Pemberdayaan Masyarakat Secara Partisipatif

26 Jan 2015 � Drs. Nano Djumadiyono, MM - Bapelkes Cikarang

Teknik Pemberdayaan Masyarakat Secara Partisipatif. Selengkapnya klik disini

Baca Selengkapnya
Gambar Berita ARTIKEL

Menjadi Widyaiswara Yang Hebat

26 Jan 2015 � Miftahur Rohim, ST, M.Kes

Orang Hebat adalah Orang Yang Membuat Orang Lain Hebat John Maxwell Pendahuluan Sejak kecil saya selalu kagum terhadap guru, baik guru saya langsung di kelas ataupun guru yang pernah hadir dalam hidup saya. Mereka telah banyak berkontribusi dalam kehidupan saya secara pribadi dan professional. Mereka adalah orang hebat yang telah membantu menjadikan orang hebat. Di lain pihak, ada orang yang terpukul dan terdemotivasi oleh guru mereka dan menjadi orang yang tidak mampu membangun diri mereka secara baik. Walau mungkin jumlah tipe guru seperti ini tidak banyak, namun dampak yang diberikan cukup signifikan bagi masyarakat kita. Sekarang saya sudah dewasa dan mencintai pekerjaan saya sebagai guru. Karena saya PNS dan membantu memberikan pelatihan dan pendidikan bagi orang dewasa saya disebut sebagai widyaiswara. Peran widyaiswara tetap sama di mata saya. Walau waktu yang mereka berikan kepada peserta didik tidak seintens seperti guru yang ada dalam benak saya. Di manapun widyaiswara berada predikat widyaiswara akan selalu mereka sandang di manapun dan kapanpun.  Mirip seperti guru saya dulu. Sayapun menganggap mereka guru saya walaupun saya tidak di kelas dan waktunyapun bukan untuk belajar. Mengapa widyaisara itu hebat? Di Kamp memberikan beberapa kriteria yang melekat pada widyaiswara yang hebat. Kalau Anda sama seperti saya belum merasa hebat, mungkin ini dapat menjadi pembelajaran. Widyaiswara Yang Hebat Menjadi hebat bukanlah hadiah tetapi sesuatu yang harus diusahakan. Menurut Di Kamp dalam bukunya The Excellent Trainer setidaknya ada empat keyakinan yang melekat pada widyaiswara sehingga mereka menjadi hebat. Keyakinan ini merupakan konsep ataupun philosopihal guidelines yang menjadi dasar dalam menjalankan peran sebagai widyaiswawa. Pertama, mereka mempunyai keyakinan terhadap dirinya sendiri; kedua, keyakinan tentang pembelajar; ketiga, keyakinan tentang informasi yang muncul dalam kehidupannya dan; keempat, keyakinan tentang bagaimana dunia ini bekerja atau beroperasi. Keyakinan terhadap diri sendiri. Widyaiswara yang hebat selalu meyakini bahwa: Ia adalah seorang pembelajar kapan dan di mana saja. Ia bersifat fleksibel baik terhadap diri sendiri dan orang lain. Ia tidak memaksakan diri untuk menguasai semua ilmu. Dan ia melakukan hal yang tidak membebani batin maupun fisik mereka. Bersifat toleran terhadap perbedaan pendapat. Bila ia kaku dan hanya meyakini bahwa pendapat dan keadaannya yang baik, maka ia tidak akan pernah mencapai kebahagiaan. Ia selalu ingin tau. Sifat ingin tau membuatnya awet muda. Ia ingat bahwa setiap buah yang matang pasti busuk. Baginya ilmupun begitu, ilmu selalu baru dan segar. Sifat ingin taunya  membuatnya selalu tertarik dengan apa yang dikatakan dan dilakukan oleh orang lain. Ia menghindari sikap judmental . Ia yakin sikap menghakimi diri sendiri atau orang lain menyakiti diri sendiri. Sifat ini mengarah untuk menghukum diri dan orang lain secara mental. Rela untuk mengambil resiko. Hidup selalu ada resiko. Setiap pikiran dan tindakan  pasti membawa resiko. Yang ia perlu persiapkan adalah bagaimana mengatasi resiko jika terjadi. Memiliki antusias yang tinggi. Antusiasme adalah virus positif baginya dan orang lain. Bila ia berantusias melakukan pekerjaannya setiap saat, maka ia akan menjadi pribadi yang bahagia dan bersemangat. Mau membantu. Ia tidak pelit dengan ilmu dan tenaga yang ia miliki. Kadang kalau perlu ia memberikan bantuan dana yang mungkin diperlukan untuk pengembangan diri dan orang lain di sekelilingnya. Ia membimbing orang lain secara konstruktif. Ia berkomunikasi dengan baik dalam level yang berbeda-beda. Ia mampu berkomunikasi dengan orang dengan berbagai latar belakang. Latar belakang peserta yang menjadi acuan model ia berkomunikasi bukan latar belakang yang ia miliki. Dengan demikian ia akan lebih mudah menyampaikan ilmu dan ide dan dapat dimengerti oleh peserta mereka. Baginya belajar itu fun. Dengan demikia ia tidak khawatir dengan kesalahan. Kesalahan adalah bagian dari pembelajaran. Selanjutnya ia selalu ingin mencari umpan balik dari orang lain dan peserta didik bagaimana pembelajaran yang ia berikan. Ia melihat kritikan sebagai hal yang positif dan selalu dinantikan. Ia selalu menunjukkan rasa hormat kepada siapapun dan mencari nilai positif dari orang yang ia temui. Keyakinan tentang pembelajar. Ia meyakini bahwa ia tidak dapat berfungsi secara maksimal jika ia tidak memiliki keyakinan yang positif tentang pembelajar. Baginya: Orang adalah makhluk yang ingin belajar. Dan mereka belajar setiap saat. Orang ingin mengembangkan potensi mereka. Orang membuat pilihan yang terbaik yang ada pada waktu yang mereka anggap tepat. Ia yakin orang akan belajar bila cara yang ditawarkan sesuai untuk mereka. Mereka akan memilih dan menentukan cara yang terbaik untuk mereka. Ia percaya kalau orang belajar melalui praktek tidak hanya dengan ceramah atau belajar untuk berdiskusi. Ia percaya orang berani mengambil resiko jika mereka merasa aman untuk melakukannya. Ia meyakini bahwa orang selalu mengetahui lebih banyak dibandingkan yang mereka pikirkan. Ia juga meyakini bahwa orang mempunyai kekhususan tersendiri. Tidak semua orang sama. Keyakinan terhadap informasi di sekeliling. Setiap hari kita dibombastis dengan informasi dengan kadar yang berbeda-beda. Perbedaan lain lagi adalah bagaimana kita menanggapi dan memberi arti terhadap informasi yang diterima. Informasi akan bernilai bila membantu untuk kemajuan. Bagi widyaiswara yang hebat, ia memberikan informasi kepada orang lain dengan mempertimbangkan bahasa yang dapat membuat orang mengerti dan informasi yang relevan dengan konteks atau situasi peserta mereka. Selanjutnya,  ia juga pertimbangkan apakah informasi yang diberikan itu dapat membuat perbedaan terhadap orang yang mereka hadapi. Keyakinan tentang bagaimana dunia ini beroperasi. Ahmad Albar berujar ”dunia ini adalah panggung sandiwara dan setiap orang memerankan peranan masing-masing”. Shakespeare, pengarang novel Inggeris yang terkenal, berpuluh tahun yang lalu juga telah mengatakan hal senada. Widyaiswara hebat selalu menyadari bahwa ia memainkan beragam peran dan tujuan. Kadang peran sungguhan, kadang juga peran yang dirancang. Panggung widyaiswara tidak hanya dalam kelas. Ia memiliki panggung yang cukup luas. Oleh sebab itu, widyaiswa hebat  selalu meyakini bahwa: Setiap prilakunya adalah komunikasi. Setiap kegagalannya adalah kesempatan untuk maju lebih baik. Ia yakin ia yang menciptakan cerita untuk kehidupannya  sendiri. Ia memahami bahwa ia adalah gabungan otak, tubuh dan semangat, dan otak, tubuh dan semangat ini bekerja dengan sangat prima bila mereka bekerja bersama-sama. Perjalanan menuju kesempurnaan tidak pernah berakhir. Jadi ia tidak cepat lelah. Ia tetap bersemangat untuk menuju hebat. Dunia ini melimpah ruah dengan banyak hal. Ia yakin hanya ia yang mampu menciptakan manfaat dari apa yang ada. Integritas akan membuahkan penghargaan untuk dirinya. Ia yakin ia selalu mempunyai pilihan. Sulit/mudah, senang/sedih, sendiri/ramai adalah contoh pilihan hidup yang dapat ia lakukan. Ia adalah pencipta buka korban. Jadi, ia tidak percaya dengan kata diwidyaiswarakan yang terkesan ia menjadi korban sistem birokrasi yang zolim. Apapun yang ia impikan bisa saja terjadi. Penutup Setelah membaca, mendengar tentang dan  mengamati widyaiswara-widyaiswara yang hebat dan belajar menjadi widyaiwara hebat saya semakin yakin bahwa perjalanan panjang untuk menjadi widyaiswara yang hebat itu tidak akan pernah berakhir. Mungkin ada ups and downs. Tapi saya tau bahwa saya tidak sendiri. Fisik saya mungkin semakin mengkerut tapi hati saya selalu ingin segar dengan pengalaman baru yang siap untuk saya share  dengan sesama kolega seperjuangan. Sumber : http://www.ditbin-widyaiswara.or.id/ Penulis : Ajriani Munthe Salak, S.S, M.Ed ~Widyaiswara Madya LAN RI  

Baca Selengkapnya
Gambar Berita ARTIKEL

TIPS Mengolah Sampah Rumah Tangga

26 Jan 2015 � Yuni Nurhasanah - Bapelkes Cikarang

Berapa ibu rumah tangga dan sekitarnya banyak yang mengeluhkan masalah sampah? Tumpukan sampah memang mengganggu pemandangan juga penciuman disekitar kita, membuat tidak nyaman dan lingkungan yang tidak sehat. Kita tengok cara efektif untuk mengelola rumah tangga supaya kita bisa menjaga rumah tetap bersih sekaligus mengurangi tumpukan sampah di lingkungan secara tidak langsung. Berikut ini cara mudah dan sederhana mengelola sampah rumah tangga. Pertama, pisahkan sampah berdasarkan jenisnya. Langkah ini sangat penting untuk melakukan pengelolaan sampah yang lebih baik di rumah. Pisahkan sampah organik, kaca, kertas, plastik dan sampah kimia di tempat khusus. Untuk sampah organik, anda bisa membuat lubang sampah sederhana untuk membuat sampah organik. Jika lubang sudah mampir penuh, tutup lubang dengan tanah dan gali lubang yang baru. Selain mengurangi tumpukan sampah, cara ini juga menambah kesuburan tanah di pekarangan rumah anda. Selain membuat lubang di tanah, anda bisa mengadopsi kotak cacing yang banyak digunakan diluar negeri. Kotak cacing ini dibuat dengan  meletakkan daun-daun dan sampah organik kedalam kotak logam, kemudian beberapa cacing dimasukkan untuk membusukkan sampah tersebut. Setelah penuh, sampah yang telah berubah menjadi humus bisa dipakai untuk menyuburkan tanaman di pekarangan. Selain lubang sampah dan kotak cacing, anda juga dapat mengolah sampah organik disekitar anda menjadi kompos dengan sistem terowongan udara. Tumpuk sampah organik diatas segitiga yang dibuat dari kayu atau bambu dengan tinggi 20 cm dan panjang 1,5 hingga 2 meter. Siram secara teratur agar tetap lembab. Jika bagian bawah sudah menyerupai tanah, balik lapisan hingga semua sampah merubah menjadi kompos. Kompos-kompos organik ini tidak hanya mampu mengurangi sampah, tetapi juga bisa menjaga kesuburan tanah. Pemakaian kompos jauh lebih alami dan hemat. Untuk sampah kertas, botol dan plastik, anda bisa langsung membawanya ke tempat daur ulang terdekat.  Jika tidak buanglah ditempat sampah setelah  mengkategorikannya berdasarkan  jenisnya. Karena pengelolaan sampah yang baik tidak hanya soal menangani sampah yang sudah ada, kita juga perlu mengurangi jumlah sampah. Berikut ini langkah-langkah sederhana untuk mengurangi sampah di rumah. Membawa tas plastik atau kain dari rumah saat belanja. Mengurangi membeli produk sachet. Memakai ulang toples atau botol bekas. Selain contoh langkah-langkah diatas, ada banyak cara lain yang bisa dipakai untuk mengurangi sampah dirumah anda. Jika memungkinkan, ajaklah tetangga disekitar anda untuk melakukan hal yang sama agar semakin banyak orang yang sadar akan pentingnya pengelolaan sampah rumah tangga secara mandiri. Jika secara kontinu dilakukan, bukan  tidak mungkin jumlah timbunan sampah akan berkurang lebih dari separuhnya. Untuk memperbarui informasi dan  ide pengelolaan sampah, anda bisa membuka referensi di internet yang fokus akan pengelolaan sampah. Tidak ada salahnya juga membuka ide-ide recycle dan reuse kreatif yang ada di internet agar semakin menambah efektif usaha kita untuk membuat suasana rumah yang bersih dan nyaman. Jika rumah bebas dari timbunan sampah, kesehatan keluarga juga bisa lebih terjamin. Sudah bukan jamannya lagi kita bersikap acuh  terhadap sampah. Membuang sampah sembarangan dan diam melihat tumpukan sampah adalah cerminan orang malas dan acuh. Mari kita perbaiki keadaan sekitar dengan mulai dari hal yang sederhana dan dimulai dari rumah kita sendiri. Percayalah, hal yang kecil bisa besar manfaatnya jika dilakukan secara kolektif dan terus-menerus.

Baca Selengkapnya
Gambar Berita ARTIKEL

Konsep Dasar Dalam Promosi Kesehatan

23 Jan 2015 � Ir. Miftahur Rohim, M.Kes ~Bapelkes Cikarang

Promosi Kesehatan adalah suatu kegiatan penyampaian ilmu dan informasi kesehatan kepada individu kelompok, keluarga dan komunitas dengan tujuan dari tidak mampu menjadi mampu merubah kebiasaan yang  sesuai dengan prinsip kesehatan dalam berbagai aspek kehidupannya secara mandiri  dan menerapkan sepanjang hidupnya.     Proses untuk meningkatkan  kemampuan orang dalam meningkatkan dan mengendalikan kesehatan, maka seseorang/ kelompok harus  mengidentifikasi dan menyadari aspirasi, mampu memenuhi kebutuhan dan merubah lingkungannya ( piagam Ottawa,1986) Misi dalam promosi kesehatan : Advokat (advocate)             Ditujukan kepada para pengambil keputusan atau pembuat kebijakan       2.   Menjembatani (mediate)             Menjalin kemitraan dengan berbagai program dan sektor yang terkait dengan kesehatan       3. Memampukan (enable) Agar masyarakat mampu memelihara dan meningkatkan kesehatan secara mandiri Sasaran dalam promosi kesehatan : Langsung          : Individu , keluarga, Masyarakat Tidak langsung            : Pembuat kebijakan; pemerintah pusat dan daerah   Tujuan Tujuan Umum : Memahami konsep dasar dalam promkes Tujuan Khusus: Mengaplikasikan kedalam perilaku sehari-hari terkait dengan perubahan perilaku, motivasi,menjalin kemitraan dan kolaborasi       Konsep Dasar Promosi Kesehatan   KONSEP PERUBAHAN Perubahan bisa terjadi setiap saat dan merupakan proses yang dinamik serta tidak dapat dielakkan. Berubah berarti beranjak dari keadaan yang semula. Tanpa berubah tidak ada pertumbuhan dan tidak ada dorongan. (Atkinson,1987 dan Brooten,1978 dalam Nurhidiyah, 2003 : 1), menyatakan defenisi perubahan yaitu: merupakan kegiatan atau proses yang membuat sesuatu atau seseorang berbeda dengan keadaan sebelumnya dan merupakan proses yang menyebabkan perubahan pola perilaku individu atau institusi. Ada empat tingkat perubahan yang perlu diketahui yaitu pengetahuan, sikap, perilaku, individual, dan perilaku kelompok. Setelah suatu masalah dianalisa, tentang kekuatannya, maka pemahaman tentang tingkat-tingkat perubahan dan siklus perubahan akan dapat berguna. Perubahan merupakan suatu proses dimana terjadinya peralihan atau perpindahan dari status tetap atau status menjadi status yang bersifat dinamis, artinya dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada. Teori-teori perubahan   Menurut Rogers, untuk melakukan perubahan perlu beberapa langkah yang harus dilakukan supaya perubahan dapat tercapai , antara lain : (Atkinson, 1987 dan brooten,1978 dalam murhidiyah 2003 :   unfreezing: suatu proses penyadaran tentang perlunya, atau adanya kebutuhan            untuk  berubah Changing: langkah tindakan, baik memperkuat driving force maupun memperlemah resistances Refreezing: membawa kembali kelompok kepada keseimbangan yang baru (a new dynamic equilibrium)   Teori Rogers (1992) : Menurut Rogers, untuk melakukan perubahan perlu beberapa langkah yang harus dilakukan supaya perubahan dapat tercapai , antara lain : 1. Tahap Awareness Tahap ini merupakan tahapan dasar atau tahap awal yang mempunyai arti bahwa dalam mengadakan perubahan di perlukan adanya kesadaran untuk berubah, apabila tidak ada kesadaran untuk berubah maka tidak mungkin terjadi suatu perubahan. Tahap Interest Dalam tahap ini dijelaskan bahwa dalam melakukan perubahan harus timbul perasaan minat terhadap perubahan dan selalu memperhatikan terhadap sesuatu yang baru dari  yang dikenalkan.  Minat tersebut yang  akan mendorong dan menguatkan kesadaran untuk berubah. Tahap Evaluasi Pada tahap ini terjadi penilaian terhadap sesuatu yang baru agar tidak terjadi hambatan yang akan di temukan selama mengadakan perubahan. Evaluasi ini dapat memudahkan tujuan dan langkah dalam melakukan perubahan. Tahap Trial Tahap ini merupakan tahap uji coba terhadap sesuatu yang baru atau hasil perubahan dengan harapan sesuatu yang baru dapat diketahui hasilnya sesuai dengan kondisi atau situasi yang ada, dan memudahkan untuk diterima oleh lingkungan. Tahap Adoption Tahap ini merupakan tahap terakhir dari perubahan yaitu proses penerimaan terhadap sesuatu yang baru setelah dilakukan uji coba dan merasakan adanya manfaat dari sesuatu yang baru sehingga selalu mempertahankan hasil perubahan.   Teori Spradley Menurut Spradley bahwa perubahan terencana harus secara konstan dipantau untuk mengembangkan hubungan yang bermanfaat antara agen berubah dan sistem berubah. Berikut langkah dasar menurut Spradley : a). mengenali gejala b). mendiagnosis masalah c). menganalisa jalan keluar d). memilih perubahan e). merencanakan perubahan f). melaksanakan perubahan g). mengevaluasi perubahan h). menstabilkan perubahan   3.   Tahap-tahap manajemen perubahan Tahap-tahap manajemen perubahan dibagi dalam 4 tahap yaitu : 1. Identifikasi Perubahan Pada tahap ini diharapkan seseorang dapat mengenal perubahan apa yang akan dilakukan /terjadi.  Dalam tahap ini seseorang atau kelompok dapat mengenal kebutuhan perubahan dan mengidentifikasi tipe perubahan. 2. Perencanaan Perubahan. Pada tahap ini perubahan harus dianalisis mengenai diagnostik situasional tehnik, pemilihan strategi umum, dan pemilihan. Dalam proses ini perlu dipertimbangkan adanya factor pendukung sehingga perubahan dapat terjadi dengan baik. 3. Implementasi Perubahan Pada proses ini terjadi proses pencairan, perubahan dan pembekuan yang diharapkan.  Apabila suatu perubahan sedang terjadi kemungkinan timbul masalah maka perlu dilakukan monitoring perubahan.   4. Evaluasi dan Umpan Balik. Untuk melakukan evaluasi diperlukan data, oleh karena itu dalam tahap ini dilakukan pengumpulan data dan evaluasi data tersebut.  Hasil evaluasi ini dapat di umpan balik kepada tahap 1 sehingga memberi dampak pada perubahan yang diinginkan berikutnya. Suatu perubahan melibatkan perasaan, aksi, perilaku, sikap, nilai-nilai dari orang yang terlibat dan tipe gaya manajemen yang dibutuhkan. Jika perubahan melibatkan sebagian besar terhadap perilaku dan sikap mereka, maka akan lebih sulit untuk merubahnya dan membutuhkan waktu lebih yang lama 4. Model dalam perubahan Dalam perubahan kita mengenal beberapa model diantaranya model penelitian pengembangan, model interaksi social dan model penyelesaian masalah. Ketiga model tersebut dapat digunakan sebagai dasar model mengenal perubahan. a)        Research and Development Model ( model penelitian dan pengembangan) Model perubahan ini didasarkan atas penelitian dan perencanaan dalam pengembangan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.  Dalam menggunakan model ini dapat dilakukan dengan cara melakukan identifikasi atas perubahan yang akan dilakukan dalam perubahan, menyiapkan perubahan dan melakukan desiminasi kepada masyarakat tentang hal-hal yang akan dilakukan dalam perubahan. b)        Social Interaction Model ( model interaksi social) Model perubahan dengan interaksi social ini dilakukan berdasarkan atas saling kerja sama dalam sistem social dengan memfokuskan pada persepsi dan respons dari perubahan yang akan dilakukan. Model ini menggunakan  langkah sebagaimana dalam teori perubahan Roger diantaranya, menyadari akan perubahan, adanya minat dalam perubahan, melakukan uji coba sesuatu hal yang akan dilakukan perubahan serta menerima perubahan. c)         Problem Solving Model ( model penyelesaian masalah) akan dilakukan Model ini menekankan pada penyelesaian masalah dengan menggunakan langkah mengidentifikasi kebutuhan yang menjadi masalah, mendiagnosis masalah, menemukan cara penyelesaian masalah yang akan digunakan, melakukan uji coba dan melakukan evaluasi dari hasill uji coba untuk digunakan dalam perubahan. Dalam promosi kesehatan selain pendidikan kesehatan. Juga diperlukan intervensi pada factor lingkungan ( politik, ekonomi, dan organisasi) yang didesain untuk memfasilitasi perubahan perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi kesehatan. Hal tersebut berdampak terhadap operasionalisasi perencanaan pendidikan kesehatan dan perencanaan promosi kesehatan. Model perencanaan promosi kesehatan yang sering digunakan : Model PERT Model ini dikembangkan sejak tahun 1960 ( Ross dan Mico) dan dalam beberapa versi modifikasi, model ini masih digunakan dalam aplikasi kegiatan atau program. Model PERT terdiri dari enam fase yaitu initiation, need assessment, goal settings, planning/programming, Model PROCEDE-PROCEED Model yang dikembangkan oleh Green dan krekter ( 1991) pada tahun 1980, merupakan model yang paling cocok diterapkan dalam perencanaan dan evaluasi promosi kesehatan, yang dekenal dengan model PROCEDE ( predisposing, renforcing, and enablingcauses in educational diagnosis and evaluation). PRECEDE merupakan kerangka  untuk membantu perencanaan mengenal masalah, mulai dari kebutuhan pendidikan sampai pengembangan program. Pada tahun 1991, model ini disempurnakan menjadi model PRECEDE-PROCEED. PROCEED merupakan singkatan dari policy, regulatory and organizational contructs in educational and environtmental development. Dalam aplikasinya, PRECEDE-PROCEED dilakukan bersama-sama dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Precede digunakan dalam fase diagnosis masalah, penetapan prioritas dan tujuan program, sedangkan PROCEED digunakan untuk menetapkan sasaran dan criteria kebijakan, pelasanaan, dan evaluasi. Menurut Schmit dkk. (1990), model ini paling banyak diterima dan telah berhasil diterapkan dalam perencanaan, serta model ini dianggap lebih berorientasi praktis.   Sedangkan PRODCEED digunakan untuk menetapkan sasaran dan criteria kebijakan serta implementasi dan evaluasi. 5. LANGKAH-LANGKAH DALAM KONSEP PERUBAHAN Dalam melakukan perubahan banyak langkah-langkah atau tahapan untuk melakukan perubahan. Beberapa teori tentang langkah-langkah perubahan adalah sebagai berikut : Teori Rogers (1992) Menurut Rogers, untuk melakukan perubahan perlu beberapa langkah yang harus dilakukan supaya perubahan dapat tercapai , antara lain : 1.  Tahap Awareness Tahap ini merupakan tahapan dasar atau tahap awal yang mempunyai arti bahwa dalam mengadakan perubahan di perlukan adanya kesadaran untuk berubah, apabila tidak ada kesadaran untuk berubah maka tidak mungkin terjadi suatu perubahan. 2. Tahap Interest Dalam tahap ini dijelaskan bahwa dalam melakukan perubahan harus timbul perasaan minat terhadap perubahan dan selalu memperhatikan terhadap sesuatu yang baru dari  yang dikenalkan.  Minat tersebut yang  akan mendorong dan menguatkan kesadaran untuk berubah. 3. Tahap Evaluasi Pada tahap ini terjadi penilaian terhadap sesuatu yang baru agar tidak terjadi hambatan yang akan di temukan selama mengadakan perubahan. Evaluasi ini dapat memudahkan tujuan dan langkah dalam melakukan perubahan. 4. Tahap Trial Tahap ini merupakan tahap uji coba terhadap sesuatu yang baru atau hasil perubahan dengan harapan sesuatu yang baru dapat diketahui hasilnya sesuai dengan kondisi atau situasi yang ada, dan memudahkan untuk diterima oleh lingkungan. 5. Tahap Adoption Tahap ini merupakan tahap terakhir dari perubahan yaitu proses penerimaan terhadap sesuatu yang baru setelah dilakukan uji coba dan merasakan adanya manfaat dari sesuatu yang baru sehingga selalu mempertahankan hasil perubahan.   Teori Spradley Menurut Spradley bahwa perubahan terencana harus secara konstan dipantau untuk mengembangkan hubungan yang bermanfaat antara agen berubah dan sistem berubah. Berikut langkah dasar menurut Spradley : a). mengenali gejala b). mendiagnosis masalah c). menganalisa jalan keluar d). memilih perubahan e). merencanakan perubahan f). melaksanakan perubahan g). mengevaluasi perubahan h). menstabilkan perubahan   6.    Tahap-tahap manajemen perubahan Tahap-tahap manajemen perubahan dibagi dalam 4 tahap yaitu : 1. Identifikasi Perubahan Pada tahap ini diharapkan seseorang dapat mengenal perubahan apa yang akan dilakukan /terjadi.  Dalam tahap ini seseorang atau kelompok dapat mengenal kebutuhan perubahan dan mengidentifikasi tipe perubahan. 2. Perencanaan Perubahan. Pada tahap ini perubahan harus dianalisis mengenai diagnostik situasional tehnik, pemilihan strategi umum, dan pemilihan. Dalam proses ini perlu dipertimbangkan adanya factor pendukung sehingga perubahan dapat terjadi dengan baik. 3. Implementasi Perubahan Pada proses ini terjadi proses pencairan, perubahan dan pembekuan yang diharapkan.  Apabila suatu perubahan sedang terjadi kemungkinan timbul masalah maka perlu dilakukan monitoring perubahan. 4. Evaluasi dan Umpan Balik. Untuk melakukan evaluasi diperlukan data, oleh karena itu dalam tahap ini dilakukan pengumpulan data dan evaluasi data tersebut.  Hasil evaluasi ini dapat di umpan balik kepada tahap 1 sehingga memberi dampak pada perubahan yang diinginkan berikutnya. Suatu perubahan melibatkan perasaan, aksi, perilaku, sikap, nilai-nilai dari orang yang terlibat dan tipe gaya manajemen yang dibutuhkan. Jika perubahan melibatkan sebagian besar terhadap perilaku dan sikap mereka, maka akan lebih sulit untuk merubahnya dan membutuhkan waktu lebih yang lama.   6. Type perubahan Perubahan merupakan sesuatu yang mungkin sulit diterima bagi seseorang, kelompok atau masyarakat  yang belum memahami makna dari perubahan. Apabila dipandang dari tipe perubahan, menurut Bennis tahun 1965, perubahan itu sendiri memiliki tujuh tipe diantaranya tipe indoktrinasi, tipe paksaan, tipe teknokratik, tipe interaksional, tipe sosialisasi, tipe emulative dan tipe alamiah. Tipe endoktrinasi, suatu perubahan yang dilakukan oleh sekelompok atau masyarakat yang menginginkan pencapaian tujuan yang diharapakan dengan member doktrin atau menggunakan kekuatan sepihak untuk dapat berubah. Tipe paksaan atau kekerasan, merupakan tipe perubahan dengan melakukan pemaksaan atau kekerasan pada anggota atau seseorang dengan harapan tujuan yang hendak dicapai dapat terlaksana Tipe teknokratik, merupakan tipe perubahan dengan melibatkan kekuatan lain dalam mencapai tujuan yang diharapakan terdapat satu pihak merumuskan tujuan dan pihak lain untuk membantu mencapai tujuannya. Tipe interaksional, merupakan perubahan dengan menggunakan kekuatan kelompok yang saling berinteraksi satu dengan yang lain dalam mencapai tujuan yang diharapakan dari perubahan Tipe sosialisasi, merupakan suatu perubahan dalam mencapai tujuan dengan menggunakan kerja sama dengan kelompok lain tetapi masih menggunakan kekuatan untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai Tipe emultif, merupakan suatu perubahan dengan menggunakan kekuatan unilateral dengan tidak merumuskan tujuan terlebih dahulu secara sungguh-sungguh, perubahan ini dapat dilakukan pada sistem di organisasi yang bawahannya berusaha menyamai pimpinan atau atasannya Tipe alamiah, perubahan yang terjadi akibatsesuatu yang tidask disengaja tetapi dalam merumuskan dilakukan secara tidak sungguh-sungguh, seperti kecelakaan, maka seseorang ingin mengadakan perubahan untuk lebih berhati-hati dalam berkendara dan lain sebagainya 7. Hambatan dalam perubahan Perubahan tidak selalu mudah untuk dilaksanakan akan tetapi banyak hambatan yang akan diterimanya baik hambatan dari luar maupun dari dalam.hambatan dlam perubahan adalah sebagai berikut : 1. Ancaman kepentingan pribadi Hal ini merupakan hambatan dalam perubahan karena adanya kekhawatiran adanya perubahan segala kepentingan dan tujuan diri. Contohnya, dalam pelaksanaan standarisasi perawat professional yang di akui sebagai profesi perawat adalah minimal pendidikan DIII keperawatan, sehingga bagi lulusan SPK yang tidak ingin melanjutkan pendidikan akan terancam bagi kepentingan dirinya sehingga hal tersebut dapat menjadi hambatan dalam perubahan. 2. Persepsi yang kurang tepat Persepsi yang kurang tepat atau informasi informasi yang belum jelas ini dapat menjadi kendala dalam proses perubahan. Berbagai informasi yang akan dilakukan dalam sistem perubahan jika tidak dikomunikasikan dengan jelas atau informasinya kurang lengkap, maka tempat yang akan dijadikan perubahan akan sulit menerima sehingga timbul kekhawatiran dari perubahn tersebut. 3. Reaksi psikologis Ini merupakan factor yang menjadi hambatan dalam perubahan karena setiap orang memiliki reaksi psikologis yang berbeda dalam merespon perbedaan sistem adaptasi sehingga bisa menjadi hambatan dalam perubahan. Contohnya, apabila akan dilakukan perubahan dalm sistem praktek keperawatan mandiri, jika perawat belum menerima secara psikologis akan timbul kesulitan karena ada perasaan takut sebagai dampak dari perubahan. 4. Toleransi terhadap perubahan rendah Toleransi terhadap perubahan tergantung dari individu, kelompok atau masyarakat. Apabila individu, kelompok atau masyarakat tersebut memiliki toleransi yang tinggi terhadap perubahan maka akan memudahkan proses perubahan tetapi apabila toleransi terhadap perubahan rendah maka perubahan akan sulit dilaksanakan. 5. Kebiasaan Pada dasarnya seseorang akan lebih senang pada sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya dibandingkan dengan sesuatu yang baru dikenal, karena keyakinan yang  dimiliki sangat kuat. Factor kebiasan ini yang menjadi hambatan dalam perubahan 6. Ketergantungan Seseorang tidak dapat hidup secara mandiri dalam mencapai tujuan tertentu, suatu perubahan akan menjadi masalah bagi seseorang yang selalu menggantungkan diri sehingga perubahan akan sulit dilakukan. 7. Perasaaan tidak aman Perasaan tidak aman juga merupakan penghambat dalam perubahan karena adanya ketakutan terhadap dampak dari perubahan yang juga akan menambah ketida amanan pada diri kelompok atau masyarakat. 8. Norma Norma merupakan segala aturan yang didukung oleh anggota masyarakat dan tidak mudah untuk merubahnya. Apabila akan mengadakan proses perubahan namun bertentangan dengan norma maka perubahan tersebut akan mengalami hambatan. Kendala dan hambatan dalam melakukan perubahan menurut wilson : v  Sistem dan proses perubahan v  Sumber daya manusia v  Sistem dan lingkungan organisasi   8. Perencanaan dalam perubahan Proses perencanaannya: Kita harus mengenal atau mengkaji adanya kebutuhan perubahan Mendiagnosa kebutuhan Menganalisa alternative pemecahan Menyeleksi perubahan Merencanakan perubahan             - Mengimplementasikan perubahan             - Mengevaluasi perubahan        6. Menstabilkan perubahan yang sudah di buat     Motivasi a. Defenisi  motivasi Motivasi dari bahasa latin movere artinya menimbulkan pergerakan. Motivasi adalah kekuatan psikologis yang menggerakkan seseorang kearah beberapa tindakan  (Haggard, 1989). Suatu kesediaan peserta didik menerima pembelajaran dengan kesiapan sebagai bukti diri motivasi (Redman, 1993). Motivasi merupakan hasil factor external dan internal dan bukan hasil manipulasi external saja ( Kort, 1987). Pendidikan kesehatan dilandasi oleh motivasi dengan mengubah 3 faktor penentu prilaku yaitu sikap, pengaruh social, dan kemampuan lewat komunikasi ( Kok, dkk, 1990). Perawat kerap berfokus pada tingkat motivasi sebagai indicator keterlibatan potensial dalam program pendidikan kesehatan. Ada hubungan signifikan antara motivasi dengan tindakan kepatuhan pada program kesehatan (Becker, dkk, 1974). Motivasi merupakan pergerakan untuk memenuhi kebutuhan atau mencapai tujuan. Pendekatan oreventif memerlukan bujikan atau motivasi dari seseorang atas dasar bahwa pencegahan lebih baik dari pengobatan atau tindakan terkait dengan berkembangnya penyakit yang tidak diinginkan atau berakibat fatal. Peran perawat memfasilitasi pendekatan peserta dididk kearah tujuan yang diinginkan dan mencegah penundaan yang terlallu cepat. Waktu tidak menjadi bagian yang penting dalam motivasi. Teori motivasi maslow diintegrasi secara utuh pada individu dan hirarki tujuan, dia mengatakan tidak semua perilaku dimotivasi dan teori perilaku tidak sama dengan teori motivasi. Dengan prinsip hirarki kebutuhan dasar fisiologis, keamanan, cinta/kepemilikan, harga diri dan aktualisasi diri, ada keterlibatan antar kebutuhan yang berdasar tingkat kebutuhan. Ada individu sangat termotivasi sangat termotivasi yang lainnya memiliki motivasi yang lemah. Jika kebutuhan satu dipuaskan kebutuhan lainnya muncul. Motif sebagai pendorong tidak berdiri sendiri tetapi saling berkaitan dengan faktor lain yang disebut motivasi (Walgito, 2002). Motivasi adalah sekelompok pendorong yang berasal baik dari dalam individu maupun dari luar diri individu yang dapat menimbulkan perilaku bekerja dan juga dapat menentukan bentuk, tujuan, intensitas, dan lamanya perilaku bekerja (Pider, 2001). Menurut Robbins (2001), motivasi adalah kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan organisasi yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu dalam memenuhi beberapa kebutuhan individual. Kebutuhan terjadi apabila tidak ada keseimbangan antara apa yang dimiliki dan apa yang diharapkan. Dorongan merupakan kekuatan mental yang berorientasi pada pemenuhan harapan dan pencapaian tujuan. Tujuan adalah sasaran atau hal yang ingin dicapai oleh seseorang individu.   b. Teori motivasi - Teori Kebutuhan Abraham Maslow Kebutuhan dapat didefinisikan sebagai suatu kesenjangan atau pertentangan yang alami antara suatu kenyataan dengan dorongan yang ada dalam diri apabila kebutuhan pegawai tersebut menunjukkan perilaku tidak puas. Sebaliknya, jika kebutuhannya terpenuhi maka pegawai tersebut akan memperlihatkan perilaku yang gembira sebagai manifestasi dari rasa puasnya. Kebutuhan merupakan fundamen yang mendasari perilaku pegawai. Kita tidak mungkin memahami perilaku pegawai tanpa mengerti kebutuhannya. Hirarki kebutuhan manusia menurut  Abraham Maslow adalah sebagai berikut: 1)   Kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan untuk makan, minum, bernafas, dan seksual. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan tingkat terendah atau disebut juga kebutuhan yang paling dasar 2)   Kebutuhan rasa aman, yaitu kebutuhan akan perlindungan dari ancaman, bahaya, pertentangan, dan lingkungan hidup. 3)   Kebutuhan untuk merasa memiliki, yaitu kebutuhan untuk diterima oleh kelompok, berafiliasi, berinteraksi, dan kebutuhan untuk mencintai serta dicintai. 4)   Kebutuhan akan harga diri, yaitu kebutuhan akan dihormati, dan  dihargai  oleh orang lain. 5)   Kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri, yaitu kebutuhan untuk menggunakan kemampuan, skill, dan potensi. Kebutuhan untuk berpendapat dengan mengemukakan ide-ide memberi penilaian dan kritik terhadap sesuatu (Mangkunegara, 2002). Hirarki kebutuhan Maslow dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 2.1 Hirarki Kebutuhan dari Maslow Gambar tersebut menunjukkan  individu bergerak naik mengikuti anak-anak tangga hirarki. Dari titik pandang motivasi, teori itu mengatakan bahwa meskipun tidak ada kebutuhan yang pernah dipenuhi secara lengkap, suatu kebutuhan yang dipuaskan secara cukup banyak (substansial) tidak lagi memotivasi. Jadi jika anda ingin memotivasi seseorang, menurut Maslow, anda perlu memahami sedang berada pada anak tangga manakah orang itu dan memfokuskan pada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan itu atau kebutuhan diatas tingkat itu (Robbins, 2003). - Teori Kebutuhan McClelland David McClelland dalam Thoha (2002) mengemukakan ada tiga macam kebutuhan manusia, yaitu sebagai berikut: 1)      Need for Achievement, yaitu kebutuhan untuk berprestasi yang merupakan refleksi dari dorongan akan tanggung jawab untuk pemecahan masalah. 2)      Need for Affiliation, yaitu kebutuhan untuk berafiliasi yang merupakan dorongan untuk berinteraksi dengan orang lain, berada bersama orang lain, dan tidak mau melakukan sesuatu yang merugikan orang lain. 3)      Need for Power, yaitu kebutuhan untuk kekuasaan yang merupakan refleksi dari dorongan untuk mencapai otoritas untuk memiliki pengaruh terhadap orang lain. Teori kebutuhan McClelland dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 2.2 Memasangkan Peraih Prestasi dan Pekerjaan Seperti ditunjukkan dalam gambar 2.2, individu dengan kebutuhan tinggi untuk berprestasi lebih menyukai situasi pekerjaan dengan tanggung jawab pribadi, umpan balik, dan suatu risiko dengan derajat menengah. Bila karakteristik ini berlaku, peraih prestasi tinggi akan sangat termotivasi (Robbins, 2003). - Teori ERG (Existence, Relatedness, Growth) Teori ERG adalah teori motivasi yang menyatakan bahwa orang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan tentang ekxistensi (Existence, kebutuhan mendasar dari Maslow), kebutuhan keterkaitan (Relatedness, kebutuhan hubungan antar pribadi), dan kebutuhan pertumbuhan (Growth, kebutuhan akan kreativitas pribadi, atau pengaruh produktif). Teori ERG menyatakan bahwa kalau kebutuhan yang lebih tinggi mengalami kekecewaan, kebutuhan yang rendah akan kembali walaupun sudah terpuaskan (Nursalam, 2002). - Teori Motivasi Dua Faktor Dikembangkan oleh Herzberg dalam Nursalam (2002) yang meyakini bahwa karyawan dapat dimotivasi oleh pekerjaannya sendiri dan didalamnya terdapat kepentingan yang disesuaikan dengan tujuan organisasi. Dari penelitiannya Herzberg menyimpulkan bahwa ketidakpuasan kerja dan kepuasan kerja dalam bekerja muncul dari dua set yang berbeda. Menurut  teori ini yang dimaksud dua faktor adalah faktor motivasional dan faktor hygiene. Faktor motivasional adalah hal-hal pendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber dari dalam diri seseorang, sedangkan yang dimaksud dengan faktor higiene atau faktor pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik yang bersumber dari luar diri seseorang, misalnya dari organisasi, tetapi turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan karyawannya. Menurut Herzberg yang tergolong sebagai faktor intrinsik atau faktor motivasional adalah: pekerjaan seseorang, keberhasilan yang diraih, kecepatan bertumbuh, kemajuan dalam karir, pengakuan orang lain. Sedangkan faktor ekstrinsik atau faktor higiene adalah: status pekerjaan, hubungan-hubungan antar pribadi, keamanan kerja atau keselamatan kerja, kondisi kerja, sistem pengawasan, sistem imbalan jasa (Swanburg, 2000). - Teori Keadilan Teori keadilan didasarkan pada asumsi bahwa faktor utama dalam motivasi pekerjaan adalah evaluasi individu atau keadilan dari penghargaan yang diterima. Individu akan termotivasi kalau mereka mengalami kepuasan yang mereka terima dari upaya dalam promosi dan dengan usaha yang mereka gunakan (Nursalam, 2002). Teori ini menjelaskan bahwa motivasi merupakan fungsi dari keadilan yang didasarkan hasil (out put) dan wages (pendapatan). Keadilan yang sederhana adalah menerima pendapatan sesuai dengan usahanya. Jika bekerja keras, pendapatannya tinggi. Sebaliknya jika bekerja malas,pendapatannya rendah (Arep, 2004). - Teori Harapan Setiap individu memiliki harapan usaha kinerja. Harapan tersebut menunjukkan persepsi individu mengenai sulitnya mencapai perilaku tertentu dan mengenai kemungkinan tercapainya perilaku tersebut. Menurut Gibson dalam Siswanto (2007), prinsip utama dari teori harapan meliputi hal-hal berikut: 1)                 P= F (M X A). Kinerja (P) adalah fungsi (F) perkalian antara motivasi (M), yakni kekuatan dan Ability (A) atau kemampuan. 2)                 M= F (V1 X E). Motivasi (M) adalah fungsi (F) perkalian antara Valensi tingkat satu (V1) dan Expectancy (E) atau harapan bahwa perilaku tertentu akan diikuti oleh suatu hasil tingkat pertama. Apabila harapan tersebut rendah maka motivasinya kecil. Demikian pula apabila valensi dari suatu perolehan tersebut nol, nilai mutlak atau variasi dari besarnya harapan untuk menyelesaikannya tidak akan memiliki pengaruh sama sekali. 3)                 V1= (V1 X I). Valensi yang berhubungan dengan berbagai macam hasil tingkat satu (V1) merupakan fungsi (F) perkalian antara jumlah valensi yang melihat pada semua hasil tingkat kedua (V2) dan Instrumentalitas (I) atau pertautan antara pencapaian perolehan tingkat pertama dengan pencapaian perolehan tingkat pertama dengan pencapaian perolehan tingkat kedua. Deskripsi dari prinsip di atas meliputi hal-hal berikut: Kemampuan (ability) menunjukkan potnsi individu untuk melaksanakn tugas atau pekerjaan. Kemampuan tersebut berhubungan dengan kemampuan fisik dan mental yang dimiliki individu untuk melaksanakan pekerjaan. Kekuatan (force) dimaksudkan sebagai motivasi. Maksud utama teori harapan adalah menilai besar dan arah semua kekuatan yang mempengaruhi individu. Valensi (valance) berhubungan dengan preferensi hasil sebagaimana yang dilihat individu. Suatu hasil memiliki valensi positif apabila dipilih, dan memiliki valensi negatif apabila tidak dipilih, serta memiliki valensi nol apabila individu acuh tak acuh memperolehnya. Pertautan (instrumentality) adalah persepsi individu bahwa hasil tingkat pertama akan dihubungkan dengan tingkat kedua. Harapan (expectancy) berhubungan dengan pendapat mengenai kemungkinan subjektif bahwa perilaku tertentu akan diikuti oleh hasil tertentu. Hasil tingkat pertama dan tingkat kedua. Hasil tingkat pertama yang timbul dari perilaku adalah hasil yang berhubungan dengan pelaksanaan perkerjaan. Termasuk hasil tingkat pertama adalah produktivitas, kamangkiran, kualitas atas produktivitas, dan pergantian. Hasiltingkat kedua adalah ganjaran yang mungkin ditimbulkan oleh hasil tingkat pertama. Termasuk hasil tingkat kedua adalah kenaikan gaji, promosi, penerimaan atau penolakan oleh kelompok, dan sebagainya. Teori ini juga menyatakan cara memilih dan bertindak dari berbagai alternatif tingkah laku, berdasarkan harapannya apakah ada keuntungan yang diperoleh dari tiap tingkah laku (Nursalam, 2002). - Teori Penguatan Ahli psikologi B.F Skinner dan teman-temannya dalam Nursalam (2002) menunjukkan bagaimana konsekwensi tingkah laku di masa lampau yang mempengaruhi tindakan pada masa depan dalam proses belajar klinis. Proses ini dapat dinyatakan sebagai berikut: rangsangan adalah sesuatu yang menyebabkan seseorang melakukan sesuatu terhadapnya, yang disebut respon. Respon adalah tindakan atau perilaku yang muncul akibat rangsangan. Tindakan perilaku yang dilakukan seseorang pasti akan menimbulkan  konsekwensi yang nantinya membuat seseorang untuk merencanakan masa depan. Teori Penguatan dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 2.3 Teori Penguatan       Sumber : (Nursalam, 2002).   Menurut teori penguatan, seseorang termotivasi kalau dia memberikan respon pada rangsangan dalam pola tingkah laku konsisten sepanjang waktu. c. Tujuan Motivasi Secara umum dapat dikatakan bahwa tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau menggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauannya untuk melakukan sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu. Makin jelas tujuan yang diharapkan atau yang akan dicapai, makin jelas pula bagaimana tindakan motivasi itu dilakukan. Setiap orang yang akan memberikan motivasi harus mengenal dan memahami benar-benar latar belakang kehidupan, kebutuhan, dan kepribadian orang yang akan dimotivasi.   d. Prinsip Motivasi   Terdapat beberapa prinsip dalam memotivasi kerja pegawai -  Prinsip Partisipasi Dalam upaya memotivasi klien, perlu diberikan kesempatan ikut berpartisipasi dalam menentukan tujuan yang akan dicapai oleh petugas - Prinsip Komunikasi   Pemimpin mengkomunikasikan segala sesuatu yang berhubungan dengan usaha pencapaian tugas, dengan informasi yang jelas, klien akan lebih mudah dimotivasi - Prinsip Mengakui Andil Klien Petugas kesehatan mengakui bahwa klien mempunyai andil didalam usaha pencapaian tujuan. Dengan pengakuan tersebut, klien akan lebih mudah dimotivasi . - Prinsip Pendelegasian Wewenang Pemimpin yang memberikan otoritas atau wewenang kepada pegawai atau bawahan untuk sewaktu-waktu dapat mengambil keputusan tehadap pekerjaan yang dilakukannya akan membuat pegawai yang bersangkutan menjadi termotivasi untuk mencapai tujuan yang diharapkan oleh pemimipin - Prinsip Memberi Perhatian Pemimpin memberikan perhatian terhadap apa yang diinginkan pegawai bawahan, akan memotivasi pegawai klien apa yang diharapkan oleh pemimpin (Mangkunegara, 2002). e. Unsur penggerak Motivasi   Motivasi akan ditentukan oleh motivatornya. Motivator yang dimaksud adalah penggerak motivasi sehingga menimbulkan pengaruh perilaku individu yang bersangkutan. Suharno Sahir (2006) mengemukakan unsur-unsur penggerak motivasi sebagai berikut: - Prestasi atau Achievement Seseorang yang memiliki keinginan berprestasi sebagai suatu kebutuhan  atauneeds dapat mendorongya mencapai sasaran - Penghargaan atau Recognation Penghargaan atau Recognation atas suatu prestasi yang telah dicapai oleh seseorang merupakan motivator yang kuat. Pengakuan atas suatu prestasi akan memberikan kepuasan batin yang lebih tinggi daripada penghargaan dalam bentuk materi atau hadiah. Penghargaan dalam bentuk piagam penghargaan atau medali dapat menjadikan motivator yang lebh kuat dibandingkan dengan hadiah berupa barang atau uang. - Tantangan atau Challenge Adanya tantangan yang dihadapi, merupakan motivator kuat bagi manusia untuk mengatasinya. - Tanggung jawab atau Responsibility Adanya rasa ikut memiliki akan menimbulkan motivasi untuk ikut merasa tanggung jawab. - Pengembangan atau Development Pengembangan kemampuan seseorang baik dari pengalaman kerja atau kesempatan untuk maju dapat merupakan motivator kuat bagi tenaga kerja untuk bekerja. - Rasa ikut terlibat atau Involvement Rasa ikut terlibat dalam suatu proses pengambilan keputusan dapat dimasukkan dalam manajemen perusahaan, hal ini merupakan motivator yang cukup kuat untuk tenaga kerja. I. Kemitraan a. Defenisi Definisi Kemitraan (partnership) pada esensinya adalah dikenal dengan istilah gotong royong atau kerjasama dari berbagai pihak, baik secara individual maupun kelompok. Kemitraan adalah suatu kerja sama formal antara individu-individu, kelompok-kelompok atau organisasi-organisasi untuk mencapai suatu tugas atau tujuan tertentu. Kemitraan adalah hubungan (kerjasama) antara dua pihak atau lebih, berdasarkan kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan (memberikan manfaat). b. Unsur-unsur kemitraan adalah : Unsur-unsur kemitraan adalah : Adanya hubungan (kerjasama) antara dua pihak atau lebih Adanya kesetaraan antara pihak-pihak tersebut Adanya keterbukaan atau kepercayaan (trust relationship) antara pihak-pihak tersebut Adanya hubungan timbal balik yang saling menguntungkan atau memberi manfaat. c. Dasar Kemitraan adalah : Dasar Kemitraan adalah : Kesamaan perhatian (common interest) atau kepentingan, Saling mempercayai dan saling menghormati Tujuan yang jelas dan terukur Kesediaan untuk berkorban baik, waktu, tenaga, maupun sumber daya yang lain d. Prinsip-prinsip Kemitraan adalah: Prinsip-prinsip Kemitraan adalah: Persamaan atau equality, Keterbukaan atau transparancy dan Saling menguntungkan atau mutual benefit. e. Untuk mengembangkan kemitraan di bidang kesehatan secara konsep terdiri 3 tahap yaitu: : Untuk mengembangkan kemitraan di bidang kesehatan secara konsep terdiri 3 tahap yaitu: - tahap pertama adalah kemitraan lintas program di lingkungan sektor kesehatan sendiri, - tahap kedua kemitraan lintas sektor di lingkungan institusi pemerintah, - tahap ketiga adalah membangun kemitraan yang lebih luas, lintas program, lintas sektor. lintas bidang dan lintas organisasi yang mencakup : Unsur pemerintah, Unsur swasta atau dunia usaha, Unsur LSM dan organisasi masa Unsur organisasi profesi.   f. Lima prinsip kemitraan yaitu(WHO) : Lima prinsip kemitraan yaitu - (WHO) Policy-makers (pengambil kebijakan) - Health managers - Healthprofessionals - Academic institutions - Communities institutions   g. Kemitraan di bidang kesehatan adalah kemitraan yang dikembangkan dalam rangka pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. : Kemitraan di bidang kesehatan adalah kemitraan yang dikembangkan dalam rangka pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. h. Dasar Pemikiran Kemitraan dalam Kesehatan : Dasar Pemikiran Kemitraan dalam Kesehatan “Kesehatan adalah hak azasi manusia, merupakan investasi, dan sekaligus merupakan kewajiban bagi semua pihak”. Masalah kesehatan saling berkaitan dan saling mempengaruhi dengan masalah lain, seperti masalah pendidikan, ekonomi, sosial, agama, politik, keamanan, ketenagakerjaan, pemerintahan, dll. i. Tujuan Kemitraan : Tujuan Kemitraan Tujuan umum : Meningkatkan percepatan, efektivitas dan efisiensi upaya kesehatan dan upaya pembangunan pada umumnya. Tujuan khusus : Meningkatkan saling pengertian; Meningkatkan saling percaya; Meningkatkan saling memerlukan; Meningkatkan rasa kedekatan; Membuka peluang untuk saling membantu; Meningkatkan daya, kemampuan, dan kekuatan; Meningkatkan rasa saling menghargai; j. Hasil yang diharapkan : Hasil yang diharapkan : Adanya percepatan, efektivitas dan efisiensi berbagai upaya termasuk kesehatan. k. Pelaku Kemitraan : Pelaku Kemitraan : Adalah semua pihak, semua komponen masyarakat dan unsur pemerintah, Lembaga Perwakilan Rakyat, perguruan tinggi, media massa, penyandang dana, dan lain-lain, khususnya swasta. l. Ada 3 prinsip dalam membangun kemitraan, yaitu : Ada 3 prinsip dalam membangun kemitraan, yaitu : kesetaraan, dalam arti tidak ada atas bawah (hubungan vertikal), tetapi sama tingkatnya (horizontal); keterbukaan dan saling menguntungkan. m. Ada 7 saling yang perlu diperhatikan, yaitu : Ada 7 saling yang perlu diperhatikan, yaitu : - saling memahami kedudukan, - tugas dan fungsi (kaitan dengan struktur); - saling memahami kemampuan masing-masing (kapasitas unit/organisasi); - saling menghubungi secara proaktif (linkage); saling mendekati, bukan hanya secara fisik tetapi juga pikiran dan perasaan (empati, proximity); - saling terbuka, dalam arti kesediaan untuk dibantu dan membantu (opennes); - saling mendorong/mendukung kegiatan (synergy); dan - saling menghargai kenyataan masing-masing (reward). n. Ada 6 langkah Kemitraan harmonis : Ada 6 langkah Kemitraan harmonis ; - penjajagan/persiapan, - penyamaan persepsi, - pengaturan peran, - komunikasi intensif, - melakukan kegiatan, dan - melakukan pemantauan & penilaian. o. Keanggotaan dalam Kemitraan : Keanggotaan dalam Kemitraan Anggota aktif : berperan sebagai anggota kemitraan yang aktif. Peserta kreatif : sebagai peserta kegiatan kemitraan yang kreatif. Pemasok input teknis : memberi masukan teknis (program kesehatan). Dukungan sumber daya : memberi dukungan sumber daya sesuai keadaan, masalah dan potensi yang ada. p. Indikator Keberhasilan : Indikator Keberhasilan Indikator input : Jumlah mitra yang menjadi anggota. Indikator proses :Kontribusi mitra dalam jaringan kemitraan, jumlah pertemuan yang diselenggarakan, jumlah dan jenis kegiatan bersama yang dilakukan, keberlangsungan kemitraan yang dijalankan. Indikator output : Jumlah produk yang dihasilkan, percepatan upaya yang dilakukan, efektivitas dan efisiensi upaya yang diselenggarakan. q. Tujuan Tujuan umum : Meningkatkan percepatan, efektivitas dan efisiensi upaya kesehatan dan upaya pembangunan pada umumnya. Tujuan khusus : Meningkatkan saling pengertian; Meningkatkan saling percaya; Meningkatkan saling memerlukan; Meningkatkan rasa kedekatan; Membuka peluang untuk saling membantu; Meningkatkan daya, kemampuan, dan kekuatan; Meningkatkan rasa saling menghargai; Hasil yang diharapkan : Adanya percepatan, efektivitas dan efisiensi berbagai upaya termasuk kesehatan. Kolaborasi a. KONSEP KOLABORASI DALAM PROMOSI KESEHATAN -  Menurut heritage kolaborasi adalah bekerja bersam khususnya dalam usaha penggabungan pemikiran. - Menurut gray, kolaborasi sebagai proses berfikir dimana pihak yang terlibat memandang aspek-aspek perbedaan dari suatu masalah serta menemukan solusi dari perbedaan tersebut dan keterbatasan pandangan mereka terhadap apa yang dilakukan. - Menurut American Medical Association (AMA) 1994, kolaborasi adalah proses dimana dokter dan perawat merencanakan dan praktek bersama sebagai kolega, bekerja saling ketergantungan dalam batasan-batasan lingkup praktek mereka dengan berbagai nila-nilai dan saling mengakui serta menghargai terhadap setiap orang yang berkontribusi untuk merawat individu, keluarga dan masyarakat (www.nursingword.org/readroom). -  Kolaborasi adalah suatu proses praktisi keperawatan atau praktek klinik bekerja dengan dokter untuk memberikan pelayanan kesehatan dalam lingkup praktek professional keperawatan, dengan pengawasan dan supervise sebagai pemberi petunjuk pengembangan kerjasama atau mekanisme yang ditentukan oleh peraturan suatu Negara dimana pelayanan diberikan. Perawat dan dokter merencanakan dan mempraktekkan bersama sebagai kolega. Kolaborasi menyatakan bahwa anggota tim kesehatan harus bekerja dengan kompak dalam mencapai tujuan. Elemen penting untuk mencapai kolaborasi yang efektif meliputi kerjasama, asertifitas, tanggungjawab, komunikasi, otonomi, dan koordinasi seperti skema dibawah ini. b. Manfaat dalam melakukan kolaborasi Seorang praktisi kesehatan akan melakukan kolaborasi dalam melakukan promosi kesehatan. Dengan melakukan kolaborasi akan diperoleh kemudahan seperti sumber yang lebih akurat dan dapat lebih menarik klien. Misalnya dengan melakukan promosi kesehatan tentang bahaya mengkonsumsi makanan yang tinggi kandungan kolesterol dengan mengundang Ahli gizi atau Dokter. Selain itu, pelaksana promkes dimudahkan dalam sarana dan prasarana serta akses untuk melakukan kolaborasi. Contohnya, pemerintah membuat iklan layanan masyarakat mengenai bahaya kanker leher rahim yang ditayangkan dimedia elektronik dan cetak. Sehingga promosi kesehatan yang dilakukan akan lebih berhasil dan efektif.   c. Hambatan dalam melakukan kolaborasi Kolaborasi bukan merupakan hal yang mudah, sehingga dalam pelaksanaannya akan mengalami hambatan-hambatan. Hambatan yang kemungkinan ada pada suatu kolaborasi antara lain : Kurangnya komitmen dari perilaku kolaborasi sehingga tidak solid dalam   pelaksanaannya, perbedaan pandangan. Kurangnya keahlian yang sesuai Kurangnya tukar menukar pikiran maupun pendapat dan tujuan yang telah didapat Keluarnya partner ditengah proses promosi kesehatan yang sedang dilakukan. Kolaborasi dilakukan dengan dasar suka sama suka, dan pada dasarnya memang kolaborasi ini membutuhkan sumbangsih dan peran dari semua pihak agar usaha promosi kesehatan dapat tercapai sesuai tujuan yang diharapkan, semakin banyak pihak yang masuk dan berkolaborasi akan menambah nformasi dan memudahkan usaha promosi kesehatan. Elemen penting untuk mencapai kolaborasi yang efektif meliputi kerjasama, asertifitas, tanggungjawab, komunikasi, otonomi, dan koordinasi seperti skema dibawah ini.   Kerjasama adalah menghargai pendapat orang lain dan bersedia untuk memeriksa beberapa alternative, pendapat, dan perubahan kepercayaan. Asertifitas, penting ketika individu dalam tim mendukung pendapat mereka dengan keyakinan. Tindakan asertife menjamin bahwa pendapatnya benar-benar di dengar dan consensus untuk dicapai. Tanggungjawab mendukung suatu keputusan yang diperoleh dari hasil consensus dan harus terlibat dalam pelaksanaannya. Komunikasi, bahwa setiap anggota bertanggungjawab untuk membagi informasi penting mengenai perawatan pasien dan issue yang relevan untuk membuat keputusan klinis. Autonomi, mencakup kemandirian anggota tim dalam batas kompetensinya. Koordinasi, efesiensi organisasi yang dibutuhkan dalam perawatan pasien, mengurangi duplikasi dan menjamin orang yang berkualifikasi dalam menyelesaikan permasalahan. Kepercayaan adalah konsep umum untuk semua elemen kolaborasi. Tanpa rasa percaya kerjasama tidak aka nada, asertif menjadi ancaman, cenderung menghindar dari tanggungjawab, terganggunya komunikasi, autonomi akan ditekan dan koordinasi tidak akan terjadi. Elemen kunci kolaborasi dalam kerjasama tim multi disipliner dapat digunakan untuk mencapai tujuan kolaborasi tim: Memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dengan menggabungkan keahlian unik professional. Produktifitas maksimal serta efektifitas dan efesiensi sumber daya. Meningkatnya profesionalisme kepuasan kerja dan loyalitas Meningkatnya kohesifitas antar professional Menumbuhkan komunikasi, kolegalitas, dan menghargai serta memahami orang lain Terwujudnya suatu kolaborasi tergantung dari beberapa criteria yaitu : Adanya rasa saling percaya dan menghormati Saling memahami dan menerima keilmuan masing-masing Memiliki citra diri yang positif Memiliki kematangan professional yang setara Mengakui sebagai mitra kerja bukan bawahan Keinginan untuk bernegoisasi Kerjasama mencerminkan proses koordinasi pekerjaan agar tujuan buat target yang telah ditentukan dapat dicapai. Selain itu, mengguanakan catatan klien terintegrasi dapat merupakan suatu alat untuk berkomunikasi antar profesi secara formal tentang asuhan klien. Kolaborasi dapat berjalan baik jika : Semua profesi mempunyai visi dan misi yang sama Masing-masing profesi mengetahui batas-batas dari pekerjaannya Anggota profesi dapat bertukar informasi dengan baik Masing-masing profesi mengakui keahlian dari profesi lain yang tergabung dalam tim Model praktek kolaborasi Interaksi Perawat – Dokter, dalam persetujuan praktek Kolaborasi perawat – dokter, dalam memberikan pelayanan Tim interdisiplin atau komite   Kesimpulan   Pemberdayaan masyarakat merupakan sasaran utama dalam promosi kesehatan yang bertujuan untuk memandirikan masyarakat agar mampu memelihara dan meningkatkan status kesehatannya menjadi lebih baik dengan menggunakan prinsip pemberdayaan dimana petugas kesehatan berperan untuk memfasilitasi masyarakat dalam meningkatkan pengetahuan, kemauan dan kemampuannya untuk memlihara dan meningkatkan status kesehatannnya.John P Elder (et. Al. 1994) untuk berperilaku sehat dibutuhkan tiga hal yaitu: pengetahuan yang tepat, motivasi, dan ketrampilan untuk berperilaku sehat. Jika seseorang tidak berketarampilan untuk memunculkan perilaku sehat maka disebut sebagai skill deficits. Namun jika seseorang memiliki pengetahuan tetapi tidak memiliki motivasi maka disebutsebagai performance deficits. Untuk menimbulkan motivasi maka teknik yang popular dilakukan adalah dengan menggunakan pendekatan modifikasi perilaku dari aliran kaum behavioristik. Pemberian penguat (reinforcement) untuk meningkatkan perilaku, atau pemberian sanksi untuk menurunkan frekuensi perilaku. Masalah lain yang menyebabkan seseorang sulit termotivasi untuk berperilaku sehat adalah karena perubahan perilaku dari yang tidak sehat menjadi sehat tidak menimbulkan dampak langsung secara cepat, bahkan mungkin tidak berdampak apa-apa terhadap penyakitnya, namun hanya mencegah agar tidak menjadi lebih buruk lagi. Lebih jauh lagi, faktor lingkungandapat memper untuk berperilaku hidup sehat sulit motivasi seseorang jika lingkungan keluarga tidak mendukung perilaku tersebut.Wawancara untuk meningkatkan motivasi (motivational interview)Tujuan utama dari interview motivasional ini adalah untuk mendorong individu mengekplorasi dan menemukan alas an yang sebelumnya belum pernah dipikirkan untuk mengubah perilakunya. Dua pertanyaan kunci dalam interview ini adalah: a. Apa yang menurut anda baik dari perilaku yang anda lakukan sekarang? b. Apa yang tidak baik dari perilaku ini? Jika jawaban klien ternyata ia merasa banyak hal negative daripada positif dari perilaku ini, maka konselormasuk kearah informasi dan teknik untuk mengubah perilaku. Namun, jika dari wawancara ini ternyata klien merasa lebih banyak positif daripada negatifnya, maka dapat disimpulkan bahwa klienbelum termotivasi untuk mengubah perilakunya. Atau dalam transtfeoritical model disebut masih dalam fase prokontemplasi. Masalah kesehatan adalah tanggung jawab bersama setiap individu,masyarakat,pemerintah dan swasta.Pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan memang merupakan sektor yang paling depan dalam bertanggung jawab(leading sector) ,namun dalam mengimplementasikan kebijakan dan program ,intervensi harus bersama-sama dengan sektor lain ,baik pemerintah maupun swasta.Dengan kata lain sektor kesehatan seyogyanya merupakan pemrakarsa dalam menjalin kerjasama atau kemitraan (partnership) dengan sektor-sektor terkait. (Notoadjmojo,2003) Kemitraan pada esensinya adalah dikenal dengan istilah gotong royong atau kerjasama dari berbagai pihak, baik secara individual maupun kelompok. Menurut Notoatmodjo (2003), Kemitraan adalah suatu kerja sama formal antara individu-individu, kelompok-kelompok atau organisasi-organisasi untuk mencapai suatu tugas atau tujuan tertentu. Sedangkan menurut Depkes (2006) dalam promosi kesehatan Onlinemengemukana bahwa Kemitraan adalah hubungan (kerjsama) antara dua pihak atau lebih, berdasarkan kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan (memberikan manfaat). Seorang praktisi kesehatan akan melakukan kolaborasi dalam melakukan promosi kesehatan. Dengan melakukan kolaborasi akan diperoleh kemudahan seperti sumber yang lebih akurat dan dapat lebih menarik klien. Misalnya dengan melakukan promosi kesehatan tentang bahaya mengkonsumsi makanan yang tinggi kandungan kolesterol dengan mengundang Ahli gizi atau Dokter. Selain itu, pelaksana promkes dimudahkan dalam sarana dan prasarana serta akses untuk melakukan kolaborasi. Contohnya, pemerintah membuat iklan layanan masyarakat mengenai bahaya kanker leher rahim yang ditayangkan dimedia elektronik dan cetak. Sehingga promosi kesehatan yang dilakukan akan lebih berhasil dan efektif.   Sumber : http://www.slideshare.net/miftarohim7/savedfiles?s_title=konsep-dasar-dalam-promosi-kesehatan-1&user_login=AlfitoHarfahGiffary Tugas Kelompok Mata Kuliah Promosi Kesehatan Mahasiswa UI; Program Ekstensi Ilmu Keperawatan Tahun 2011.

Baca Selengkapnya
Gambar Berita ARTIKEL

Membandingkan MDGs dan SDGs

22 Jan 2015 � Ir. Miftahur Rohim, M.Kes ~ Bapelkes Cikarang

Saat ini PBB telah merubah arah dan tujuan pembangunan Global dari MDGs 2015 menjadi SDGs 2030, ini harus menjadi perhatian kita semua sebagai praktisi kesehatan, khususnya di bidang Kesehatan lingkungan agar kita bisa mencermati lebih jeli program dan kegiatan apa saja yang mesti di lakukan dalam mendukung Pembangunan Global yang dicanangkan oleh PBB tersebut.  Dalam laporan Citiscope yang terbaru di minggu ini dikatakan bahwa tujuan PBB bekerja selama 2016-2030, yang dikenal sebagai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDG s.  Aktivis perkotaan di seluruh dunia bekerja keras untuk mendapatkan tujuan eksplisit terkait dengan kota-kota yang termasuk dalam daftar yang disetujui oleh kelompok kerja PBB pada bulan Juli. Tujuan akan disempurnakan lebih lanjut dan dipilih oleh Majelis Umum PBB di September 2015. Hungaria Csaba korosi (kiri), dan Kenya Macharia Kamau, sedang pertemuan pertama kelompok kerja PBB yang bertugas menyusun satu set tujuan pembangunan bagi dunia untuk periode 2016-2030. Kelompok ini secara bulat menyetujui daftar 17 gol di bulan Juli. (Foto UN / Eskinder Debebe)   Maksud SDG s adalah upaya untuk melanjutkan tindak lanjut secara luas dipublikasikannya Millenium Development Goals,  atau MDGs, yang telah dilaksanakan dari tahun 2000 sampai 2015. Beberapa lembaga yang menyetujui adanya SDGs ini mengatakan bahwa upaya ini belum pernah terjadi sebelumnya di era MDGs untuk memenuhi kebutuhan orang-orang termiskin di dunia; para kritikus mengatakan sudah ada implementasi di beberapa negara namun pencapaiannya sangat tidak merata sesuai dengan tujuan berdasarkan topik MDGs, negara atau wilayah dunia. Untuk itulah SDGs ini dicanangkan oleh PBB. Inilah perbedaan antara butir-butir tujuan MDGs-2015 dan SDGs-2030, bisa kita baca butir demi butir : The Millennium Development Goals (MDG s) untuk 2000-2015 Memberantas kemiskinan dan kelaparan yang ekstrim Mewujudkan pendidikan dasar Mempromosikan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan Menurunkan angka kematian anak Meningkatkan kesehatan ibu Memerangi HIV / AIDS, malaria dan penyakit lainnya Memastikan kelestarian lingkungan Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan Draft Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG s) untuk 2016-2030 Mengakhiri kemiskinan dalam segala bentuknya di mana-mana. Mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan peningkatan gizi, dan mempromosikan pertanian berkelanjutan. Pastikan hidup sehat dan mempromosikan kesejahteraan bagi semua pada segala usia. Menjamin kualitas pendidikan inklusif dan adil dan mempromosikan kesempatan belajar seumur hidup untuk semua. Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan dan anak perempuan. 6. Memastikan ketersediaan dan pengelolaan yang berkelanjutan air dan sanitasi untuk semua. Menjamin akses ke energi yang terjangkau, dapat diandalkan, berkelanjutan, dan modern untuk semua. Mempromosikan pertumbuhan yang berkelanjutan, inklusif dan berkelanjutan ekonomi, kesempatan kerja penuh dan produktif dan pekerjaan yang layak untuk semua. Membangun infrastruktur tangguh, mempromosikan industrialisasi inklusif dan berkelanjutan dan mendorong inovasi. Mengurangi ketimpangan dalam dan di antara negara-negara. Membuat kota-kota dan pemukiman manusia inklusif, aman, tangguh dan berkelanjutan. Pastikan pola konsumsi dan produksi berkelanjutan. Mengambil tindakan segera untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya. Melestarikan dan berkelanjutan menggunakan samudera, laut dan sumber daya kelautan untuk pembangunan berkelanjutan. Melindungi, memulihkan dan meningkatkan pemanfaatan berkelanjutan ekosistem darat, berkelanjutan mengelola hutan, memerangi desertifikasi, dan menghentikan dan membalikkan degradasi lahan dan menghentikan hilangnya keanekaragaman hayati. Mempromosikan masyarakat yang damai dan inklusif untuk pembangunan berkelanjutan, menyediakan akses terhadap keadilan bagi semua dan membangun institusi yang efektif, akuntabel dan inklusif di semua tingkatan. Memperkuat sarana pelaksanaan dan merevitalisasi kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan. Target spesifik dari "Goal Perkotaan" (SDG # 11) Pada tahun 2030, menjamin akses bagi semua untuk perumahan yang layak, aman dan terjangkau dan pelayanan dasar, dan perbaikan rumah kumuh Pada tahun 2030, menyediakan akses yang aman, terjangkau, dapat diakses dan berkelanjutan. Sistem transportasi untuk semua, meningkatkan keselamatan jalan, terutama dengan memperluas transportasi umum, dengan perhatian khusus pada kebutuhan mereka yang rentan situasi, perempuan, anak-anak, penyandang cacat dan orang tua Pada tahun 2030 meningkatkan urbanisasi inklusif dan berkelanjutan dan kapasitas untuk partisipatif, terpadu dan berkelanjutan perencanaan pemukiman manusia dan manajemen di semua negara. Memperkuat upaya untuk melindungi dan menjaga warisan budaya dan alam dunia Pada tahun 2030, secara signifikan mengurangi jumlah kematian dan jumlah orang yang terkena dampak dan menurun sebesar y % kerugian ekonomi relatif terhadap PDB yang disebabkan oleh bencana, termasuk bencana yang berhubungan dengan air, dengan fokus pada melindungi orang miskin dan orang-orang dalam situasi rentan. Pada tahun 2030, mengurangi dampak lingkungan per kapita merugikan dari kota, termasuk dengan memberikan perhatian khusus pada kualitas udara, kota dan pengelolaan limbah lainnya Pada tahun 2030, menyediakan akses universal terhadap ruang yang aman, inklusif dan dapat diakses, hijau dan masyarakat, khususnya bagi perempuan dan anak-anak, orang tua dan penyandang cacat Dukungan ekonomi, sosial dan lingkungan hubungan positif antara daerah perkotaan, pinggiran kota dan pedesaan dengan memperkuat perencanaan pembangunan nasional dan daerah. Pada tahun 2020, meningkat x % jumlah kota dan pemukiman manusia mengadopsi dan menerapkan kebijakan yang terintegrasi dan rencana menuju inklusi, efisiensi sumber daya, mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, ketahanan terhadap bencana, mengembangkan dan menerapkan sesuai dengan bencana holistik Hyogo Framework yang akan datang manajemen risiko di semua tingkatan. Dukungan paling negara-negara maju, termasuk melalui bantuan keuangan dan teknis, untuk bangunan berkelanjutan dan tangguh memanfaatkan bahan-bahan lokal.   Pada butir-butir SDGs tersebut, kontribusi bidang Kesehatan lingkungan sangat besar sekali, ini bisa kita lihat di butir (6) dan (11) pada SDGs 2030 dan butir ke (6) pada Target sasaran SDGs 2030 nantinya. Mari kita manfaatkan Kebijakan PBB SDGs 2030 ini sebagai acuan dalam regulasi suatu peraturan atau keputusan yang mendukung pelaksanaan Kesehatan Lingkungan di Wilayah kerja masing-masing, Selamat berjuang, bekerja...semoga Sukses...!   Dikutip dan diedit pada : Rabu, 21 Januari 2015 Sumber :   http://citiscope.org/story/2014/comparing-mdgs-and-sdgs

Baca Selengkapnya
Gambar Berita ARTIKEL

Persepsi dan Realitas (the map is not the territory)

22 Jan 2015 � Alfred Ariyanto - Bapelkes Cikarang

Ada sebuah cerita dalam sebuah keluarga. Keluarga tersebut tinggal di perkotaan. Suatu hari datanglah seorang saudaranya yang berasal dari kampung yang terpencil di luar Jawa. Suatu waktu, keluarga tersebut hendak berpergian, dan menitip pesan pada saudaranya tersebut untuk membersihkan rumut di taman pekarangan. Keluarga itupun berangkat berpergian ke luar rumah, sedangkan saudaranya menunggu di rumah sambil membersihkan rumput di taman pekarangan. Betapa terkejutnya keluarga tersebut sesampainya di rumah. Mereka mendapati pekarangan rumahnya sedang di cangkul oleh saudaranya, dan hanya sisa sedikit saja taman yang masih tersisa rumputnya. Harapan keluarga tersebut agar tamannya bersih dari rerumputan liar, akhirnya yang mereka dapatkan adalah taman rusak. eperti cerita di atas, mungkin kasus salah paham banyak kita temui baik di rumah atau di kantor kita. Mengapa hal tersebut terjadi? Penyebab utamanya adalah persepsi yang berbeda. Baik kita mengenal terlebih dahulu mengenai persepsi dan realitas. Apakah realitas itu? Apakah realitas yang kita pahami adalah realitas yang sebenarnya atau hanya persepsi yang kita anggap sebagai realitas? Anda tentunya pernah melihat peta, baik peta buta yang pernah kita pelajari saat pendidikan dasar, ataupun peta dari google maps yang banyak kita gunakan saat ini. Pertanyaannya adalah apakah peta itu menggambarkan situasi yang sebenarnya? Jawabannya adalah tidak. Saat kita melihat peta jakarta, peta monas misalnya, kita mungkin hanya melihat gambar monas kecil disana. Bagaimana situasi monas yang sebenarnya? Situasi yang sebenarnya tentu jauh lebih kompleks. Disana ada terminal busway, ada stasiun gambir. Lebih detail lagi, disekitar sana mungkin ada pos parkir, minimart atau wc umum. Dan lebih banyak lagi yang tak bisa disebutkan. Maknanya adalah apa yang di peta tidaklah menjelaskan seluruh situasi dan kondisi yang sebenarnya. Di dalam ilmu linguistik NLP, hal tersebut dikenal dengan The map is not the territory. Sama dengan peta, cara pikiran kita tidak jauh berbeda. Realitas yang kita lihat di luar tubuh kita, adalah bukan realitas yang sebenarnya, melainkan hanya sebuah peta atau persepsi. Bagaimana otak bisa membuat persepsi? Fungsi utama otak kita adalah menerima informasi yang didapat dari luar tubuh kita atau eksternal dan kemudian mengolahnya hingga menjadi sebuah makna. Dalam menjadikan informasi tersebut menjadi sebuah makna, informasi tersebut akan melalui proses filtrasi. Filtrasi ini adalah proses penyaringan melalui beberapa filter seperti nilai, keyakinan, memori masa lalu, pengalaman, sosial budaya, agama. Dari proses filtrasi ini akhirnya menghasilkan output berupa judgement dan penilaian. Proses yang terjadi di otak kita tersebut menjadi semacam blueprint untuk memaknai dari jutaan informasi yang selalu memborbardir diri kita tiap harinya. Sehingga kita dengan mudah memberikan sebuah makna dari berbagai  realitas di luar tubuh kita. Dari proses di atas, maka patut kita pahami bahwa interpretasi kita akan sebuah realitas tentu akan berbeda dengan orang lain. Dalam sebuah lingkungan yang sama, orang-orang sangat mungkin untuk memaknai sebuah hal secara berbeda, karena tiap manusia memiliki blueprint nya masing-masing.   Kita banyak temui, begitu banyak orang yang berselisih paham, dan sulit menemukan titik temu dalam membahas sebuah hal. Sebenarnya itu tidak perlu menjadi polemik yang berkepanjangan jika kita memahami proses pemaknaan di atas. Konflik yang banyak terjadi sekarang adalah karena kita tidak bisa menerima pendapat orang lain karena merasa pendapat diri kitalah yang benar. Padahal seandainya kita pahami bahwa peta internal masing-masing akan berbeda sehingga memaknai sebuah hal tentu juga akan berbeda, maka konflik bisa dihindari. Seperti sebuah pepatah sederhana, ‘jangan anda paksakan sepatu anda untuk bisa pas di kaki saya’. Yang perlu kita lakukan adalah bagaimana kita bisa memahami bahwa tiap orang adalah berbeda dalam memaknai sebuah hal, dan bertoleransi terhadap perbedaan tersebut. Kita juga perlu sekali mengupdate peta internal kita, dengan menerima masukan dari pendapat orang lain sehingga pemahaman kita lebih dalam, lebih luas sudut pandangnya dan akan lebih mendekati realitas sebenarnya.

Baca Selengkapnya
Gambar Berita ARTIKEL

Teknik Presentasi Interaktif Dalam Pelatihan

20 Jan 2015 � RAMINI, AMKeb, SKM, MKes - Widyaiswara Madya Bapel

Pendahuluan Teknik Presentasi interaktif dalam pelaksanaan pelatihan merupakan bagian dari manajeman pelatihan adalah upaya yang dilakukan agar suatu pelatihan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.  Pada dasarnya manajemen pelatihan merupakan proses yang meliputi kegiatan diawali dari persiapan, pelaksanaan dan monitoring evaluasi pelatihan.     Pelatihan adalah upaya pembelajaran, yang diselenggarakan oleh organisasi ( istansi Pemerintah, Lembaga swadaya masyarakat, Perusahaan, dsb ) untuk memenuhi kebutuhan Individu atau mencapai tujuan organisasi. Pelatihan adalah proses pembelajaran yang dimana seseorang dapat melaksanakan pekerjaan sesuai dengan yang dipelajari  atau sesuai dengan kopetensi yang diinginkan. Pelatihan juga merupakan upaya untuk meningkatkan kinerja seseorang dalam melaksanakan pekerjaan Suatu pelatihan dianggab berhasil apabila  dapat membawa kenyataan atau performasi sumber daya manusia yang seharusnya atau  yang diinginkan oleh organisasi penyelenggara pelatihan. Adapun peran pelatih ( Widyaiswara, Instruktur, fasilitator, narasumber ) dalam proses pembelajaran adalah membantu ( membelajarkan ) peserta latih untuk dapat mengubah/ meningkatkan perilaku atau ketrampilan  yang diharapkan oleh individu atau organisasi. Dalam Proses pelaksanaan pelatihan, pelatih harus memiliki kemampuan yang baik dalam menggunakan teknik presentasi interaktif  dalam  pembelajaran. Keberhasilan  ditentukan oleh kemampuan menggunakan teknik Presentasi  pembelajaran berarti pembelajaran harus berlangsung interaktif di tempat yang relevan. Presentasi Interaktif Pengertian teknik presentasi interaktif terdiri 2 ( dua ) kata presentasi dan interaktif. Presentasi berarti pemaparan atau penyajian, sedangkan interaktif mengandung saling mempengaruhi secara timbalbalik. Jadi presentasi interaktif mempunyai makna penyajian timbal balik / bergantian antara Pelatih ( penyaji) dan peserta latih yang saling merespon pembelajaran suatu topik bahasan. Dalam kaitan ini peserta latih dapat merespon ditengah paparan penyaji dan penyaji dapat mengembangkan respon peserta latih sepanjang masih dalam koridor pokok bahasan dan hal ini dapat dilakukan berulang- ulang sampai tuntas. Stimulus yang dilakukan pelatih memperoleh respon dari peserta latih dan respon peserta latih ini ( sebagai stimulus) mengundang respon pelatih. Dengan demikian dalam presentasi interaktif yang terjadi diantara pelatih dan peserta latih saling menyajikan dan saling pembelajaran. Presentasi interaktif :  Tujuan Presentasi Interaktif. Tujuan presentasi interaktif untuk : menimbulkan perhatian dan ketertarikan peserta latih terhadap materi yang disajikan, merangsang peserta latih berperan serta aktif untuk menemukan sendiri bagian- bagian topik bahasan yang sesuai dengan kebutuhan belajarnya, menggali lebih banyak pendapat dari berbagai pengalaman sehingga pembahasanya dapat lebih komprehensif dan mengendalikan pelatih yang biasa mendominasi komunikasi ( komunikasi searah ) Ada hal yang perlu diperhatikan  dalam menggunakan pendekatan presentasi interaktif dalam pelatihan adalah : Manajemen waktu, didalam pelaksanaan presentasi interaktif membutuhkan waktu, apalagi kalau pokok bahasanya menyakut isu- isu actual. Interaktif yang terjadi harus dijaga masih berada dalam koridur waktu yang telah ditetapkan tidak hanyut dalam cerita yang disampaikan. Hal ini menuntut kepiawaian pelatih dalam mengelola waktu sesuai yang dialokasikan. Keluar dari pokok bahasan pada pelaksanaan presentasi intraaktif, tidak jarang muncul pertanyaan menyimpang atau keluar dari pokok bahasan, bila fasilitator terbawa arus ini, maka suasana pembelajaran dapat menjurus kearah yang tidak terkendali karena melahirkan perbedaan. Kalau demikian tujuan pembelajaran tidak tercapai, mutivasi peserta menurun, akhirnya kelas cendrung tidak kondusif untuk melanjutkan proses pembelajaran. Untuk u pelatih harus mampu memegang kendali dan dapat menjajikan pembahasan lebih luas akan dilakukan diluar sesi pembelajaran. Mendominasi dalam presentasi interaktif, terdapat resiko peserta latih tertentu mendominasi pertanyaan dan penyampaian tanggapan. Keadaan demikian harus dicermati dan dicegah, agar kelas tidak terjerumus kearah dominasi sehingga mematikan dinamika kelas. Jadi terjadi keadaan demikian, maka yang harus dilakukan pelatih adalah melemparkanya kepada peserta lain. Dalam menggunakan pendekatan presentasi interaktif, pelatih harus mampu menangkap dan merangkum dari pertanyaan/ tanggapan yang disampaikan oleh peserta latih. Mengantar sesi pembelajaran Lima menit pertama dari presentasi dapat menentukan keberhasilan ratusan menit berikutnya kata orang bijak ( Andres Harefa ) karena menit pertama setiap penyajian merupakan waktu yang sangat penting diperhatikan, menentukan keberhasilan selanjutnya karena peserta latih akan berpikir berbagai hal yang tidak berkaitan dengan materi pembelajaran atau sebaliknya peserta terlalu banyak harapan terhadap materi yang dibahas. Pelatih menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dengan langkah awal sebagai prakondisi menghantar sesi al: Menghantar pokok bahasan dengan meninjau ulang tujuan pembelajaran ( TPU dan TPK ) maka peserta latih mengetahui apa saja pokok bahasan yang akan dibahas serta ruanglingkupnya. Mengajukan pertanyaan yang terkait dengan pokok bahasan guna pelatih dapat mengetahui apakah peserta latih sudah pernah mendapatkan materi tersebut dan mengajak peserta terlibat atau ikut kontribusi dalam proses pembelajaran. Menghubungkan pokok bahasan dengan materi sebelumnya sehingga pelatih menghubungkan materi yang akan dibahas terkait dengan pengalaman pelatih, selain itu sebagai prakondisi mengatar sesi menggunakan alat bantu tertentu sesuai pokok kajian yang ingin ditonjolkan. Pelatih mendapatkan kepercayaan forum terhadap kredibilitas, maka diawal mengatar sesi pembelajaran hal yang perlu dihindari : Jangan memulai dengan meminta maaf karena akan mengurangi kepercayaan peserta latih terhadap kemampuan yang memnyampaikan proses pembelajaran, Jangan memberi hormat yang berlebihan kepada “ orang penting” diantara peserta latih, Jangan mengatakan bahwa anda/ Pelatih sebenarnya hanya sebagai pengganti karena si A tidak bisa hadir. Merangkum sesi pembelajaran Pada umumnya rangkuman dibuat pada setiap akhir presentasi, guna menguatkan isi penyajian dan menyediakan ruang bagi peserta latih untuk meninjau ulang butir- butir inti penyajian setelah dapat menangkap materi yang disajikan dengan benar. Adapun Syarat merangkum : singkat, sesuai sekuens pembahasan, melibatkan peserta latih dengan cara curah pendapat dengan tujuan untuk memperekat daya ingat juga dapat mengukur tingkat penyerapan peserta Teknik Merangkum bisa digunakan : Meminta peserta latih bertanya, bertanya kepada peserta, tes tulis atau tanya jawab saling silang antar kelompok Tehnik tanya jawab efektif Dalam teknik bertanya pelatih perlu mempunyai kemampuan dalam hal sebagai berikut : Pertanyaan untuk umum ( over head questions ) pertanyaan ini ditujukan untuk kelas yang sifatnya banyak dengan harapan ada beberapa volunteer yang bersedia menjawab. Tujuan pertanyaan ini jika pelatih memnginginkan klarifikasi, penjajakan, pendapat kelas tentang suatu topik yang berkaitan dengan pokok bahasan yang sedang dibahas. Pertanyaan dengan sasaran ( Target Questions ) pertanyaan ini ditujukan untuk seseorang atau individu dengan tujuan pelatih memerlukan dukungan atas butur- butir bahasan yang diraskan sulit untuk menjelaskanya, untuk itu perlu bantuan peserta latih yang selama ini telah dikenal dan dianggap mampu menjawab atau isi pertanyaannya berhubungan dengan bidang tugasnya sehari- hari Mengelola hubungan interaktif Komunikasi Interaktif dimana keadaan yang memungkinkan terjadinya interaksi yang terjadi adalah terciptanya stimulus – respon antara pelatih dengan peserta latih dan sarana pembelajaran. Ada beberapa strategi pelatih untuk mengelola hubungan interaktif agar terjadi suasana yang kondusif al: Menyesuaikan diri dengan peserta latih yang menjadi pendengar  dengan bahasa yang digunakan pelatih dengan bahasa yang dipahami oleh peserta, berbicara secara aktif dengan cara penyampaiannya yang dapat tercermin pada intonasi, ekspresi wajah, sikap dan gerakan tubuh lainya, gaya dan penampilan pelatih dapat mempengaruhi pembelajaran walaupun tidak langsung terlebih paling penting bagi pelatih mampu bersikap setara, bersahabat dan hangat. Mendengar secara efektif tidak lah mudah, sebagai pelatih yang sedang memfasilitasi proses pembelajaran hendaknya dapat menjadi pendengar yang efektif dengan cara-cara antara lain : cari beberapa selera pembicaraan ketika komunikasi berlangsung, nilai isi darinya, pahami betul apa yang dibicarakan baru menjawab, dengarkan dulu dan cari inti yang diutarakannya, Usahakan agar tidak dengan segera melakukan evaluasi tentang apa yang sedang dikatakan, kecuali jika lawan bicara telah mengutarakan kesimpulan akhir dan masih banyak cara- cara lainya. Penutup. Teknik presentasi interaktif  dalam  pembelajaran, pelatih harus memiliki kemampuan yang baik dalam menggunakan baik dalam mengantar sesi pembelajaran, merangkum sesi pembelajaran dan tehnik tanya jawab efektif serta  mengelola hubungan interaktif dengan peserta sehingga keberhasilan di dalam presentasi bisa terwujud dengan baik. Daftar Pustaka Makarao Ramadhani, Nurul, drg, MKes ; Metode Mengajar dalam Bidang Kesehatan, Alfabeta Bandung 2009. Pramudijono, Agus Hekso, SE. Ak. M.Sc ; Modul Metode Dan Media Diklat, Departemen keuangan republik Indonesia, Badan pendidikan dan pelatihan keuangan, Pusdiklat keuangan  umum, Jakarta, 2009. Departemen Kesehatan RI, Modul Pelatih Manajemen Diklat, Jakarta 2007

Baca Selengkapnya
Gambar Berita ARTIKEL

Konservasi Tanah Dan Air Pada Lahan Kritis

20 Jan 2015 � Ir. Miftahur Rohim, M.Kes ~ Bapelkes Cikarang.

Berbagai langkah konservasi lahan kritis telah dilakukan pemerintah antara lain dengan reboisasi dan penghijauan. Tetapi keberhasilan program reboisasi baru sekitar 68% sedangkan penghijauan hanya 21%. Hal ini terjadi karena tiga kemungkinan yaitu kurang tepatnya teknologi yang diterapkan, kondisi lahan kurang dipelajari secara cermat dan tidak diterapkannya teknologi secara sepenuhnya.     Paradigma pembangunan yang mengedepankan pertumbuhan ekonomi telah memacu pemanfaatan sumberdaya alam secara berlebihan sehingga eksploitasi sumberdaya alam semakin meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk dan kebutuhan manusia. Akibatnya sumberdaya alam semakin langka dan menurun baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Pemanfaatan sumberdaya secara berlebihan telah menyebabkan kondisi tanah menjadi kritis (rusak). Data pusat penelitian tanah dan agroklimat menyebutkan pada tahun 2005 terdapat lahan kritis yang mencapai luasan 52,5 hektar. Lahan kritis sebagian besar terdapat di hulu DAS yang bentuk wilayahnya berbukit dengan curah hujan sangat tinggi sehingga dalam pemanfaatannya harus berhati-hati karena dengan kondisi seperti itu dapat memicu erosi yang berakibat pada degradasi lahan. Lahan kering umumnya menjadikan air sebagai faktor pembatas yang utama dalam pengelolaannya, oleh karena itu ketersediaan air menjadi sesuatu yang sangat penting dalam pengelolaaan lahan kritis. Untuk dapat menjamin adanya ketersediaan air baik dimusim penghujan dan musim kemarau diperlukan teknologi yang applicable dan hemat biaya karena pada umumnya petani lahan kering hidup dalam garis kemiskinan. Beberapa penelitian konservasi air dan lahan kritis telah dilakukan dan diujicoba untuk dapat memaksimalkan simpanan air hujan dan mengoptimalkan manfaat sumberdaya air terutama pada musim kemarau. Dalam tulisan ini akan diuraikan dua metode konservasi lahan kritis yang mungkin lebih baik dari pada membuka hutan jika ditinjau dari segi pelestarian lingkungan dan efisiensi penggunaan dana dalam program ekstensifikasi dan perbaikan produktivitas. 1. METODE VEGETATIF Metode vegetatif yaitu metode konservasi lahan kritis dengan menanam berbagai jenis tanaman seperti tanaman penutup tanah, tanaman penguat teras, penanaman dalam strip, pergiliran tanaman, serta penggunaan pupuk organik dan mulsa. Pengelolaan tanah secara vegetatif dapat menjamin keberlangsungan keberadaan tanah dan air karena memiliki sifat memelihara kestabilan struktur tanah melalui sistem perakaran dengan memperbesar granulasi tanah, penutupan lahan oleh seresah dan tajuk yang akan mengurangi evaporasi dan dapat meningkatkan aktifitas mikroorganisme yang mengakibatkan peningkatan porositas tanah sehingga memperbesar jumlah infiltrasi dan mencegah terjadinya erosi. Metode vegetatif juga memiliki manfaat dari segi vegetasi tanaman kehutanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi sehingga dapat menambah pendapatan petani. Aplikasi Metode Vegetatif : A. Sistem Pertanaman Lorong Sistem pertanaman lorong adalah suatu sistem dimana tanaman pangan ditanam pada lorong diantara barisan tanaman pagar. Sistem ini sangat bermanfaat dalam mengurangi laju limpasan permukaan dan erosi dan merupakan sumber bahan organik dan hara terutama unsur N untuk tanaman lorong. Teknologi budidaya lorong telah lama dikembangkan dan diperkenalkan sebagai salah satu teknik konservasi lahan kritis untuk pengembangan sistem pertanian berkelanjutan pada lahan kritis/kering di daerah tropika basah namun belum diterapkan secara luas oleh petani. Pada budidaya lorong konvensional tanaman pertanian ditanam pada lorong-lorong diantara barisan tanaman pagar yang ditanam menurut kontur. Barisan tanaman pagar yang rapat diharapkan dapat menahan aliran permukaan serta erosi yang terjadi pada areal tanaman budidaya, sedangkan akarnya yang dalam dapat menyerap unsur hara dari lapisan tanah yang lebih dalam untuk kemudian dikembalikan ke permukaan melalui pengembalian sisa tanaman hasil pangkasan tanaman pagar.     B. Sistem Pertanaman Strip Rumput Konservasi lahan kritis dengan sistem pertanaman strip rumput hampir sama dengan pertanaman lorong tetapi tanaman pagarnya adalah rumput. Strip rumput dibuat mengikuti kontur dengan lebar strip 0,5 meter atau lebih. Semakin lebar strip semakin efektif mengendalikan erosi. Sistem ini dapat diintegrasikan dengan ternak. Penanaman rumput pakan ternak di dalam jalur strip. Penanaman dilakukan menurut garis kontur dengan letak penanaman dibuat selang seling agar rumput dapat tumbuh baik dan usahakan penanaman dilakukan pada awal musim hujan. Selain itu tempat jalur rumput sebaiknya di tengah antara barisan tanaman pokok. C. Tanaman Penutup Tanah Tanaman ini merupakan tanaman yang ditanam tersendiri atau bersamaan dengan tanaman pokok. Manfaat tanaman penutup antara lain untuk menahan atau mengurangi daya perusak bulir-bulir hujan yang jatuh dan aliran air diatas permukaan tanah, menambah bahan organik tanah (melalui batang, ranting dan daun mati yang jatuh), serta berperan melakukan transpirasi yang mengurangi kandungan air tanah. Peranan tanaman penutup tanah adalah mengurangi kekuatan disperasi air hujan, mengurangi jumlah serta kecepatan aliran permukaan dan memperbesar infiltrasi air ke dalam tanah sehingga mengurangi erosi. Penyiangan intensif dapat menyebabkan tergerusnya lapisan atas tanah. Untuk menghindari persaingan antara tanaman penutup tanah dengan tanaman pokok pada konservasi lahan kritis dengan teknik ini dapat dilakukan dengan penyiangan melingkar (ring weeding). Tanaman penutup tanah yang digunakan dan sesuai untuk sistem pergiliran tanaman harus memenuhi syarat diantaranya harus mudah diperbanyak (sebaiknya dengan biji), memiliki sistem perakaran yang tidak menimbulkan kompetisi berat bagi tanaman pokok tetapi memiliki sifat mengikat tanah yang baik dan tidak mensyaratkan tingkat kesuburan tanah yang tinggi, tumbuh cepat dan banyak menghasilkan daun, toleransi terhadap pemangkasan, resisten terhadap gulma, penyakit dan kekeringan, mudah diberantas jika tanah akan digunakan untuk penanaman tanaman semusim atau tanaman pokok lainnya, sesuai dengan kegunaan untuk reklamasi tanah dan tidak memiliki sifat-sifat yang tidak menyenangkan seperti berduri atau sulur yang membelit. Empat jenis tanaman penutup yang dapat digunakan yaitu : (a) jenis merambat (rendah), contoh ;Colopogonium moconoides, Centrosome sp, Ageratum conizoides, Pueraria sp, (b) jenis perdu/semak (sedang) contoh ; Crotalaria sp, Acasia vilosa, (c) jenis pohon (tinggi) contoh ; Leucaena leucephala(lamtorogung),Leucaena glauca (latoro lokal), Ablizia falcataria, (d) jenis kacang-kacangan contoh Vigna sinensis, Dolichos lablab (komak).   D. Mulsa Mulsa adalah bahan-bahan (sisa panen, plastik dan lain-lain) yang disebar atau digunakan untuk menutup permukaan tanah. Bermanfaat untuk mengurangi penguapan serta melindungi tanah dari pukulan langsung butir-butir air hujan yang akan mengurangi kepadatan tanah. Mulsa dapat berupa sisa tanaman, lembaran plastik dan batu. Mulsa sisa tanaman terdiri dari bahan organik sisa tanaman (jerami padi, batang jagung), pangkasan dari tanaman pagar, daun-daun dan ranting tanaman. Bahan tersebut disebarkan secara merata di atas permukaan tanah setebal 2 s/d 5 cm sehingga permukaan tanah tertutup sempurna. Pada sistem agribisnis yang intensif dengan jenis tanaman bernilai ekonomis tinggi sering digunakan mulsa plastik untuk mengurangi penguapan air dari tanah, menekan hama penyakit dan gulma. Lembaran plastik dibentangkan di atas permukaan tanah untuk melindungi tanaman. Di pegunungan batu-batu cukup banyak tersedia sehingga bisa digunakan sebagai mulsa untuk tanaman pohon-pohonan. Permukaan tanah ditutup dengan batu yang disusun rapat dengan ukuran batu berkisar antara 2 s/d 10 cm. Dalam pedoman praktek konservasi tanah dan air lahan kritis BP2TPDAS-IBB ditunjukan peranan yang signifikan dari mulsa terhadap aliran permukaan, infiltrasi dan erosi pada lahan dengan kemiringan 5%. Penelitian yang dilakukan oleh Thamrin dan Hanafi (1992) juga menunjukkan bahwa pemberian mulsa seresah tanaman dapat menghemat lengas tanah dari proses penguapan sehingga kebutuhan tanaman akan lengas tanah terutama musim kering dapat terjamin. Selain itu pemberian mulsa seresah juga dapat menghambat pertumbuhan gulma yang mengganggu tanaman sehingga konsumsi air lebih rendah. E. Pengelompokan Tanaman dalam Suatu Bentang alam (landscape) Pengelompokan Tanaman dalam Suatu Bentang alam (landscape) mengikuti kebutuhan air yang sama sehingga irigasi dapat dikelompokkan sesuai kebutuhan tanaman. Teknik konservasi lahan kritis seperti ini dilakukan dengan cara mengelompokkan tanaman yang memiliki kebutuhan air yang sama dalam satulandscape. Pengelompokkan tanaman tersebut akan memberikan kemudahan dalam melakukan pengaturan air. Air irigasi yang dialirkan hanya diberikan sesuai kebutuhan tanaman sehingga air dapat dihemat.   F. Penyesuaian Jenis Tanaman Dengan Karakteristik Wilayah Teknik konservasi ini dilakukan dengan cara mengembangkan kemampuan dalam menentukan berbagai tanaman alternatif yang sesuai dengan tingkat kekeringan yang dapat terjadi dimasing-masing daerah. Sebagai contoh tanaman jagung yang hanya membutuhkan air 0,8 kali padi sawah akan tepat jika ditanam sebagai pengganti padi sawah untuk antisipasi kekeringan. Pada daerah hulu DAS yang merupakan daerah yang berkemiringan tinggi penanaman tanaman kehutanan menjadi komoditas utama. G. Penentuan Pola Tanam Yang Tepat Baik untuk areal yang datar maupun berlereng penentuan pola tanam disesuaikan dengan kondisi curah hujan setempat untuk mengurangi devisit air pada musim kemarau. Hasil penelitian Gomez (1983) menunjukkan bahwa pada lahan dengan kemiringan 5% dengan pola tanam campuran ketela pohon dan jagung akan dapat menurunkan run off dari 43% menjadi 33% dari curah hujan dibandingkan dengan jagung monokultur. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan besar kebutuhan air tiap jenis vegetasi. Besarnya kebutuhan air beberapa jenis tanaman dapat menjadi acuan dalam membuat pola tanam yang optimal.   2. METODE SIPIL TEKNIS Metode sipil teknis yaitu suatu metode konservasi lahan kritis dengan mengatur aliran permukaan sehingga tidak merusak lapisan olah tanah (top soil) yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman. Usaha konservasi lahan kritis dengan metode sipil teknis ini yaitu membuat bangunan-bangunan konservasi antara lain pengolahan tanah menurut kontur, pembuatan guludan, teras dan saluran air (saluran pembuangan air, terjunan dan rorak).   Aplikasi Metode Pendekatan Sipil Teknis A. Pembuatan Teras Pada Lahan Dengan Lereng Yang Curam Pembuatan teras dilakukan jika budidaya tanaman dilakukan pada lahan dengan kemiringan lebih dari 8%. Namun demikian budidaya tanaman semusim sebaiknya menghindari daerah berlereng curam. Jenis-jenis teras untuk konservasi air juga merupakan teras untuk konservasi tanah antara lain : teras gulud, teras buntu (rorak), teras kredit, teras individu, teras datar, teras batu, teras bangku, SPA dan hillside ditches.   B. Pembuatan Guludan Guludan adalah suatu sistem konservasi lahan kritis dimana tanaman pangan ditanam pada lorong di antara barisan tanaman pagar. Sangat bermanfaat dalam mengatasi laju limpasan permukaan dan erosi, dan merupakan sumber bahan organik dan hara terutama N untuk tanaman lorong. Selain itu juga bermanfaat untuk memperbesar peresapan air ke dalam tanah, memperlambat limpasan air pada saluran peresapan dan sebagai pengumpul tanah yang tererosi sehingga sedimen tanah lebih mudah dikembalikan ke bidang olah. Rorak adalah lubang atau penampang yang dibuat memotong lereng yang berfungsi untuk menampung dan meresapkan air aliran permukaan. Umumnya rorak dibuat dengan ukuran panjang 1-2 meter, lebar 0,3-0,4 meter dan dalam 0,4-0,5 meter. Jarak antar rorak dalam kontur adalah 2-3 meter dan jarak antara rorak bagian atas dengan rorak di bawahnya 3-5 meter. C. Wind Break Wind break dibuat untuk mengurangi kecepatan angin sehingga mengurangi kehilangan air melalui permukaan tanah dan tanaman selama irigasi (evapotranspirasi). Kombinasi tanaman dengan tajuk berbeda sangat mendukung metode ini. Pola stage bouw (tajuk bertingkat) seperti di pekarangan tradisional adalah contoh yang baik untuk diterapkan.   D. Pemanenan Air Hujan Pemanenan air hujan merupakan salah satu alternatif dalam menyimpan air hujan pada musim penghujan dan untuk dapat digunakan pada musim kemarau. Beberapa teknik pemanenan air hujan yang telah dilakukan dibeberapa Negara yang beriklim kering adalah bangunan teras, penanaman searah kontur, DAM, tadah hujan, kanal, waduk, mata air galian dangkal dan berlubang serta irigasi pompa kecil dan wadi bank. Teknik pemanenan air yang telah dilakukan di Indonesia antara lain embung dan chanel reservoir. Embung merupakan suatu bangunan konservasi air yang berbentuk kolam untuk menampung air hujan dan air limpahan atau rembesan di lahan sawah tadah hujan berdrainase baik. Embung sangat tepat diterapkan pada kelerengan 0-30% dengan curah hujan 500-1000 mm/tahun, bermanfaat untuk menyediakan air pada musim kemarau. Agar pengisian dan pendistribusian air lebih cepat dan mudah embung hendaknya dibangun dekat dengan saluran air dan pada lahan dengan kemiringan 5-30%. Tanah bertekstur liat atau lempung sangat cocok untuk pembuatan embung. Teknik konservasi air dengan embung banyak diterapkan di lahan tadah hujan bercurah hujan rendah.   E. Dam Parit Dam parit adalah suatu cara mengumpulkan atau membendung aliran air pada suatu parit dengan tujuan untuk menampung aliran air permukaan sehingga dapat digunakan untuk mengairi lahan di sekitarnya. Dam parit dapat menurunkan aliran permukaan, erosi dan sedimentasi. Keunggulan dam parit yaitu dapat menampung air dalam volume besar akibat terbendungnya aliran air disaluran air/parit, tidak menggunakan areal atau lahan pertanian yang produktif, mengairi lahan cukup luas karena dibangun berseri diseluruh daerah aliran sungai (DAS), menurunkan kecepatan aliran permukaan sehingga mengurangi erosi dan hilangnya lapisan tanah atas yang subur serta sedimentasi, memberikan kesempatan agar air meresap kedalam tanah di seluruh wilayah DAS sehingga mengurangi resiko kekeringan pada musim kemarau dan pembuatannya lebih murah sehingga dapat dijangkau petani. Konservasi air merupakan hal yang sangat relevan untuk meningkatkan produktivitas lahan kering, mencegah banjir, kekeringan dan tanah longsor. Prinsip dasar dari konservasi air adalah menyimpan sebanyak-banyaknya air pada musim hujan dan memanfaatkan kembali pada musim kemarau. Meskipun cukup banyak teknik konservasi air yang dapat diimplementasikan di lahan kering tetapi keberhasilannya sangat ditentukan oleh kondisi biofisik, sosial ekonomi dan keinginan petani. Hal terakhir ini sering dilupakan oleh para pengelola lahan kering. Petani berhak memilih teknik konservasi air yang paling dapat diterima dan menguntungkan di mata petani. Akomodasi kepentingan dan keinginan petani ini akan dapat lebih menjamin kelangsungan pengembangan lahan kritis. Untuk dapat melakukan hal tersebut pemberdayaan petani menjadi salah satu prioritas utama bersamaan dengan penerapan teknik konservasi air. Dengan adanya teknologi konservasi lahan kritis ini memungkinkan adanya usaha tani konservasi sehingga akan lebih mendukung program ketahan pangan nasional dan peningkatan kesejahteraan petani. Manfaat utama pertanian konservasi dibandingkan dengan teknik pertanian lain yaitu input tenaga kerja yang rendah dan penggunaan proses ekologis alamiah secara efektif. Pertanian konservasi memanfaatkan proses ekologis alami untuk mempertahankan kelembaban, meningkatkan kesuburan tanah, memperkuat struktur tanah dan mengurangi erosi serta keberadaan hama penyakit. Hal itu dilakukan melalui tiga cara, yaitu dengan meminimalkan gangguan pada tanah, menyimpan sisa tanaman dan rotasi tanaman. Pertanian konservasi sangat sedikit mengganggu tanah melainkan memberi kesempatan flora dan fauna tanah yang ada untuk tumbuh subur secara alami. Flora dan fauna tanah tersebut akan membusukkan sisa tanaman yang dijadikan penutup tanah oleh petani sehingga akan menambah nutrisi pada tanah dan meningkatkan struktur humus tanah. Selain itu pertanian konservasi mampu memanfaatkan hujan dengan lebih baik sebab tanah yang ditutupi oleh sisa tanaman akan menyerap lebih banyak air hujan dan mengalami lebih sedikit penguapan. Saat curah hujan rendah lahan akan menangkap kelembaban yang ada di udara. Penutupan lahan juga mengurangi kikisan air yang jika dipadukan dengan struktur tanah yang telah diolah akan mampu mengurangi erosi tanah dari air dan angin. Akhirnya rotasi tanaman mendapatkan keuntungan dari proses ekologis alamiah melalui kacaunya siklus hama penyakit dan pemakaian tanaman polong-polongan untuk mengikat nitrogen di dalam tanah. Dalam jangka panjang pertanian konservasi yang memanfaatkan proses ekologis alami akan mengurangi pemakaian pupuk dan pestisida oleh petani sehingga mengurangi penggunaan input dari luar. Adanya keterpaduan kegiatan yang mencakup aspek biofisik, sosial ekonomi, kelembagaan dan keinginan petani maka konservasi air dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif pengembangan lahan kritis/kering sebagai upaya pendukung gerakan nasional kemitraan penyelamatan air dan konservasi lahan kritis. Sumber : Sundari, SST (penyuluh pertanian BBPPTP) dalam tabloid sinar tani nomor 3428 tahun XI.II http://sekarmadjapahit.wordpress.com/2011/12/13/konservasi-tanah-dan-air-pada-lahan-kritis/

Baca Selengkapnya
Gambar Berita ARTIKEL

Bill Gates Minum Air Hasil Sulingan Limbah Buang Air Besar

19 Jan 2015 � Ir. Miftahur Rohim, M.Kes ~ Bapelkes Cikarang.

Anda bisa bayangkan bagaimana air comberan atau air sisa BAB bisa dpakai kembali. Nah anda lihat foto diatas, seorang Bill Gates milyuner dunia sedang meminum segelas air hasil sulingan limbah buang air besar (BAB) manusia untuk memperlihatkan teknologi bagi penyediaan air bersih di negara berkembang.     Pendiri Microsoft tersebut mengatakan, dia bermaksud memulai pengiriman perangkat pemroses air ke seluruh dunia setelah uji coba tahun 2015 ini, untuk membantu negara-negara berkembang yang mengalami sulit air. Proyek tersebut disambut baik oleh LSM WaterAid, yang memandang alat ini dapat membantu, terutama bagi penduduk di perkotaan. Menurut LSM tersebut, sekitar 748 juta orang di dunia kekurangan air minum bersih.Dalam sebuah video di blog-nya, Gates terlihat menyaksikan kotoran manusia dimasukkan ke dalam mesin, sebelum meminum hasil akhirnya dari gelas. "Rasa air ini seenak yang dari botol, dan saya telah meneliti proses di baliknya. Saya dengan senang hati akan meminumnya setiap hari. Begitu aman," tulisnya di blog. Pengembang sistem Omniprocessor, Peter Janicki, mengatakan, pertama-tama, "bahan limbah" akan direbus, lalu uap air dipisahkan dari bahan padat. Limbah padat kemudian dibakar dan menghasilkan uap yang menggerakkan mesin penghasil listrik bagi pemroses sistem dan bagi kebutuhan masyarakat setempat. Dengan berita ini tentunya sangat menggembirakan bagi praktisi orang kesling, untuk menjadi motivasi bagaimana menyelesaikan masalah sulitnya air di wilayah-wilayah yang padat penduduk dan kumuh. Mari kita tunggu alat ini datang ke Indonesia. Sumber : Kompas Tanggal 8 Januari 2015 Pukul 13.57 WIB. Kamis, 8 Januari 2015 | 11:09 WIB

Baca Selengkapnya
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37
Jika ada pertanyaan atau aduan klik disini
Halo BC